Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nyeramahin Adek


__ADS_3

Udah ngejogrog di dalem mobil, eh si Dilan nelpon, "Halo," suara Dilan nyamber kupingku.


sedangkan Ridho yang tadinya mau nginjek gas nggak jadi, dia malah natap aku dengan muka serius.


"Ya, kenapa, Lan?"


"Aku dapat kabar dari Madam Anna kalau kebaya Ravel udah kamu ambil ya?" tanya Dilan.


"Iya, udah..." ucapku.


"Sorry, ngrepotin kamu jadinya. Tapi, udah ditransfer sama Ravel kan?"


"Maksudnya?"


"Iya, aku udah kasih semua uang buat urusin itu kebaya, soalnya aku lagi di luar kota. Aku nggak bisa ke butiknya Madam Anna. Aku cuma mastiin aja kalau semuanya udah clear gitu,"


"Udah ngasih ke Ravel?"


"Iya, udah. Aku mau transfer ke kamu, tapi ternyata kamu nggak angkat-angkat daritadi. Jadi ya udah aku titip ke Ravel uangnya," kata Dilan.


"Ehm, iya. Udah kok udah..." aku gregetan banget nih, guooondoookkk banget sama adek sendiri.


"Oh ya udah syukur kalau gitu. Sekali lagi thanks," kata Dilan yang sekarang udah lebih akrab sama aku.


"Kamfreeeet emang si Ravel!!!!" aku nutup sambungan telepon dari calon adik ipar.


"Kenapa?" tanya Ridho.


"Itu loh Ravel, udah dikasih duit buat bayar kebaya, eh malah nyuruh aku buat bayarin. Kan kamfrettt! mana itu bonusnya nggak kira-kira ngasihnya, dia pikir duit dateng dari langit apa ya?" Ridho jadi sasaran empuk buat ngomel-ngomel.


"Lah tadi kan kalian telfon-telfonan juga nggak jelas tuh. Nanti kalau udah sampai di rumah, udah minum obat, dan hatinudah tenang. Konfirmasi lagi deh sama adek kamu, jangan ngegas mulu. Ntar si Ravelnya jadi keras kalau kamu selalu kerasin gitu," kata akang Ridho.


Huuuuuuufhhh, ada benernya juga dia nikah cepet. Minimal dia ada pawangnya lah. Si Dilan emang bener-bener definisi Dilandamusibah, dapet adekku yang somplaknya nggak ada duanya. Nggak kebayang dia ngadepin bocil dengan segala keabsurdannya.

__ADS_1


Ridho jalanin mobil, nganterin aku balik. Tapi biasalah, ditengah jalan dia berhenti buat beli jajanan receh yang udah lama banget nggak aku makan. Masuk ke unit apartemenkunkita ngegendol banyak makanan.


"Va, kapan kamu siap aku ajak nemuin ibuku?" tanya Ridho ditengah makan lontong sate ayam yang kita beli di pinggir jalan tadi.


"Emmhhh," aku mikir, kita berdua lagi makan di meja makan. Lagi nyut-nyutan nih gusi malah ditodong pertanyaan yang bikin jantung cekit-cekit.


"Kita dua manusia dewasa, nggak baik kelamaan pacaran. Dan aku laki-laki normal yang bisa aja menginginkan sesuatu," kata Ridho. Aku tau menjurus kemana arah pembicaraan Ridho ini.


Aku masih diem.


"Tapi bukannya kalau kamu deket aku yang ada kamu sial terus?" aku mancing keseriusan Ridho.


"Nggak ada istilah pembawa sial, Va! aku juga dari dulu bisa ngeliat setan mah, bukan pas ketemu kamu aja..." lanjut Ridho.


"Aku tau kamu juga nggak bisa jauh dari aku, Va! makanya udah nggak usah gengsi, lebih baik kita nikah dan ngadepin semuanya bareng-bareng. Walaupun kamu punya perusahaan, aku akan jamin aku bakal menuhin semua kebutuhan kamu pakai uangku sendiri, Va..." kata Ridho.


"Ya udah, kalau kamu udah yakin ya aku nggak bisa apa-apa. Emang auraku terlalu mempesona, jadi atur aja kapan kamu mau bawa aku ketemu ibu kamu..." kataku.


Sungguh adegan lamaran yang sulit dicerna sama otak kanan dan kiri. Udah nggak ada waktu buat gedein gengsi. Kemana pun aku pergi ujung-ujungnya orang ini selalu bisa nemuin aku dengan caranya sendiri. Gimanapun takdir berusaha misahin kita, nyatanya sampai detik ini aku dan Ridho diijinkan untuk bersama.


Mungkin ini salah saru jawaban dari doa mama yang nggak mau anaknya jadi perawan tua. Meakipun kayaknya dilangkahi Ravel menjadi sesuatu yang nggak bisa dihindari lagi.


.


.


.


Malam menjelang dan Ridho udah pulang juga ke rumahnya, entah dimana. Karena aku juga belum pernah sekalipun kesana.


"Jam segini dia udah molor belum ya?" aku bergumam saat memencet kontak nama Ravel.


"Bodo amat, dia udah tidur atau belum. Yang penting malam ini aku harus kasih pencerahan sama si Ravel, kalau menggelapkan duit calon suami itu bukan tindakan yang baik," ucapku sambil nempelin hape ke kuping.

__ADS_1


"Halooowwh" suara Ravel males-malesan.


"Udah tidur kamu, Vel?"


"Baru mau ngeliyep, Mbak! hoaaaamph!" ucap Ravel.


Aku ambil ancang-ancang napas dulu sebelum aku ngomong panjang lebar, "Vel, mbak denger itu si Dilan udah ngasih duit buat bayar kebaya kamu?" ucapku berusaha nggak.


"Ehm, gimana Mbak?"


"Dilan udah kasih kamu duit kan buat bayar tuh kebaya penganteeeeeeeenn?" kataku gemes.


"He-he-he, kok mbak bis-sa tau? tapi kan aku cuma minta dibayarin dulu sama mbak, nanti lan aku juga ganti, Mbak. Tapi mbak bilangmya mau bayarin, ya udah aku pikir rejeki nomplok!" Ravel kikuk.


"Dek, nggak baik loh. Menggelapkan duit calon suami, mana kamu kasih bonusnya ke madam Anna nggak kira-kira, cuma demi jahitannya cepet selese. Itu duit Dilan dapetnya dari kerja, Dek. Bukan dari nuyul apalagi metik dari pohon..." aku mulai ceramah.


"Jangan dibiasain kayak gitu, Vel! Mbak nggak pernah ngajarin kamu buat sembunyi-sembunyi dan nggak terus terang. Bentar lagi kamu jadi istri, jangan sampai hal-hal kayak gini jadi percikan di dalam pernikahan kamu. Mbak cuma ngingetin, syukur kamu mau dengerin. Nggak juga nggak apa-apa, toh kamu yang ngejalaniin..." kataku ngebuka pikiran si Ravel.


"Iya, Mbaaaak. Nggak gitu lagi, ntar aku transfer balik ke nomor rekening, Mbak..."


"Bagus! berarti ku udah sadar dan dewasa," aku berbesar hati buat maafin adekku yang emang masih bocil itu. Ya gimana masih blenyik mau nikah ya kayak gini.


"Tapi jangan bilang-bilang Aa Dilan ya, Mbak. Please..." Ravel memohon.


"Mbak nggak setega itu. Mbak tadi bilang sama Dilanda musibah kalau kamu udah kasih tuh duit sama Mbak..."


"Dilan, Mbak! nggak pakai musibah!" Ravel gedeg.


"Iya iya, Dilan. Ya udah mbak mau istirahat!" ucapku sebelum nutup sambungan telepon antara aku dan Ravel.


Aku matiin lampu utama yang ada di kamar dan hanya pakai cahaya dari lampu tidur. Aku mulai tarik selimut, "Gimana nanti aku ketemu ibunya Ridho ya? ehm, aku belum siap mental. Kira-kira ibunya bakal ngrestuin apa malah nolak mentah-mentah hubungan kami?" aku mulai galau.


"Yakin aja, Reva. Yakin kalau pesona kamu yang udah melintasi dua dunia ini pasti bisa menggetarkan hati calon mertua! ya, pasti ibunya Ridho bakal dengan ridho nerima aku sebagai satu-satunya calon menantu!" ucapku ngeyakinin diri.

__ADS_1


__ADS_2