
"Rania?" aku mengernyit. Bukan cuma aku tapi si Etan juga sama. Pas banget sama nama hantu yang bikin aku guooondok akhir-akhir ini.
"Rania?" gumamku lagi.
"Iya Rania, memangnya kenapa?" Barraq menatapku.
"Nggak kenapa-kenapa, cuma agak familiar dengan nama itu. Mungkin karena namanya pasaran ya," ucapku tapi tumben Rania nggak melotot. Dia kayaknya lagi berenang ke masa lalu, soalnya dia diem dan kayak lagi inget-inget sesuatu.
"Ya, yang aku tau itu namanya. Dia anak pemilik toko bunga itu," lanjut Barraq. Dan Rania yang mendengarnya berasa kayak terkejut gitu.
"Ya, ayahku punya toko bunga namanya 'Kembang 7 rupa'," ucap Rania yang menatap Barraq dengan sangat intens. Untung banget nih si Barraq nggak bisa liat syaithon, kalau dia bisa ngeliat makhluk halus kayak aku. Yakin deh, dia bakal kencing di celana liat muka Rania saat ini dengan rambut kordennya yang nggak sengaja tersibak.
"Nama toko bunganya?"
"Kembang 7 rupa, nama yang aneh tapi gampang diinget..." ucap Barraq.
Dan bisa ditebak si Rania jadi koprol hatinya, meletup-letup. Jadi selama ini mereka saling mengagumi secara nggak langsung. Hadeuuuh udah edun emang nih dunia.
"Pantesan dia gentayangan..." lirihku.
"Kenapa, Rev?" si Burok nanya, eh Barraq Barraq. Salah sebut ntar tuh Etan ngamook lagi.
Aku putusin buat milih jalan pintas, aku ufah nggak mau pura-pyra lagi. Udah aku bongkae aja fakta yang ada sekarang juga. Karena sejujurnya aku ingin terlepas dengan perjanjian si Rania, pengen hidup damai sentosa aing teh.
"Gini Barraq, percaya atau nggak. Rania yang kamu maksud, ada di sini..."
"Wah, ngaco kamu, Rev! becanda kamu nggak lucu tau! Hahahahah, mana ada? orang kita cuma berdua aja disini. Kucing aja nggak ada apalagi Rania!" Barraq menertawaiku.
"Elah, dibilangin ngeyel amat nih cowok!" batinku.
"Barraq, aku nggak becanda! beneran, Rania yang kamu maksud itu ada diantara kita. Dia ada disamping kamu,"
"Stop, Reva! Ini sama sekali nggak lucu, denger ya. Aku udah nyoba dateng ke tempat toko bunga milik ayahnya, tapi nggak pernah ketemu lagi dengan Rania. Mungkin dia kuliah di luar kota atau--"
"Dia udah meninggal, Barraq!"
__ADS_1
"Hahahaha, kamu ngelantur kataknya ya atau kamu lagi sakit. Mending kamu istieahat duku deh di kamarku, nanti aku buatin teh anget..." Barraq bangkit dan menarik tanganku menuju kamarnya.
"Bar, Barraq! aku nggak sakit, Barraq!" ucapku melepaskan cekalan tangannya.
"Kalau kamu nggak sakit, kamu nggak bakal ngomong ngaco kayak tadi. Yang pertama, memangnya kamu kenal dengan Rania yang aku maksud? yang kedua bisa-bisanya kamu bilang dia udah meninggal. Pamali loh, Reva bercanda tentang kematian..." Barraq menyembunyikan tangan di dalam saku celananya.
"Ya ampun, Barraq. Aku nggak bercanda!" aku tarik Barraq ke lukisan bunga mawar putih.
"Ini buatan Rania, sebenernya dia itu salah satu fans kamu. Dia yang bikin ini khusus buat kamu, Barraq. Dia meninggal saat mau dateng ke acara meet and greet, terserah kamu mau percaya atau nggak yang jelas itu faktanya," ucapku yang udah pusing dengan kisah percintaan dua dunia kayak gini.
Sedangkan Rania kayaknya nangis bahagia coy. Ternyataaah eh ternyata si idola juga suka sama Rania secara diam-diam. Jadi mereka tuh penganut cinta dalam hati begitu ye kira-kira.
Barraq geleng-geleng kepala, "Nggak, nggak mungkin dia udah meninggal..." Barraq menatapku nggak percaya.
"Siapapun pasti nyangkanya aku bohong dan ngelantur ngomong kayak gini.Tapi biar kamu percaya, aku bakal buktiin sesuatu sama kamu, Barraq. Sebenernya aku kesini, disuruh sama Rania untuk mengambil satu barang yang dibungkus kain putih. Itu ada di kolong tempat tidur kamu,"
"Barang? kolong tempat tidur?"
Adeeuhh, muka doang ganteng. Otaknya leletnya masya Allah. Nggak usah kebanyakan babibu, aku langsung ngajak Barraq masuk ke dalam kamarnya. Heeey, aing nggak berbuatbyang iya iya ya. Aku cuma mau nunjukin itu ada barang yang sengaja diumpetin dikolong tpat tidurnya.
"Kamu diem deh," aku taruh telunjuk di depan bibir dan nyuruh. Lalu aku mulai nunduk dan tiarap.
"Senter!" aku minta senter sama Barraq.
Dia ngasih senter kecil.
Mataku mulai menelisik kira-kura dimana tuh bungkusan berada. Awas aja kalau si Rania korban berita hoax, aku remes-remes tuh rambutnya. Lagian Rania bukannya bantuin aku, dia malah masih sibul mebggalau. Bleweran aie mata dimana-mana dan bikin aku kesusahan sendirian.
"Nggak ada apa-apa, kan?" tanya Barraq.
Dan aku pun lemes, disegala sudut barang yang Rania maksud itu nggak ada.
"Bangun, Reva..." Barraq ngulurin tangannya.
Aku bangkit dengan bantuan cowok yang terkenal jadi model ini.
__ADS_1
"Kamu kayaknya terlalu mendalami karakter buat casting, Reva. Makanya--"
"Nggak, Barraq! aku ngomong apa adanya!" aku duduk di tepi ranjang ounya Barraq yang empuk banget.
"Aku dikasih tau Rania, termasuk Cherryl yang sering kamu bawa kesini," ucapku.
"Darimana kamu tau? maksudnya, darimana kamu tau kalau Cherryl sering berkunjung? tapi, tapi kita nggak--"
"Aku tau dari Rania! dia itu ngawasin kamu mungkin hampir 24 jam kayak cctv, dan akhir-akhir ini ssering ngintilin aku, neror aku berkedok minta bantuan buat nyingkirin benda keramat itu," ucapku.
"Hah, cctv! ya, kamera cctv!" aku bangkit dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan.
"Rumah ini pasti dilengkapi dengan cctv kan?" aku nanya serius ke Barraq.
"Ya...? pasti, untuk berjaga-jaga..." sahutnya.
"Coba, sekarang buka rekaman cctv. Rania bilang kalau Cherryl datang kemari dan menaruh sesuatu di bawah ranjangmu. Dan seharusnya benda itu ada disana, tapi daripada main tebak-tebakan buah manggis, lebih baik kita buka aja rekaman cctv..." ucapku.
"Buat apa?"
"Ya ampun, Barraq. Sampai disni, kamu belum percaya kalau Rania itu sudah meninggoyyyy?" aku kayak udah putus asa banget.
Si Rania kupret banget ini loh, dia malah natap Barraq nggak ngedip. Heran.
"Rania, tolong bikin Barraq bisa percaya sama aku..." ucapku sama Rania, tapi dia malah geleng-geleng.
"Aku nggak pede, nggak mau Barraq ngeliat aku dengan keadaan kayak gini," ucap Rania.
Ya ampun, ini syaithon bikin aing guooondooook, gueeedeggg, gemes banget pengen jedotin kepala ke tembok.
"Ya ampun, Raniaaaa! astaga, kamu ini..." aku nggak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sudah, Reva. Kayaknya kamu terlalu capek bekerja, jadi otak kamu sedikit---"
"Apaaa? sedikit terganggu? terserahlah! apa peduliku, itu bungkusan berisi benda keramat yang membuat kamu kesengsem terus sama Cherryl," ucapku pada Barraq, kesel.
__ADS_1
"Dan kamu Rania, aku udah nggak mau bantu. Silakan kamu selesaikan masalahmu sendiri! dan jangan ganggu-ganggu aku lagi, ngertiii?" aku nunjuk ke Rania yang lagi galau beraaat.