Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kembali


__ADS_3

Dan tiba-tiba saja...


Pak Karan muncul ke permukaan.


"Pak, Pak Karan!" aku teriak sementara badanku masih ditahan Ridho.


Pak Karan hanya melihat aku sekilas dan dia malah berenang menjauh dari aku dan Ridho.


Aku nggak ngerti kenapa lagi tuh manusia. Kita selamat bisa keluar dari dalam air, malah muka dia asem banget kayak gitu. Nggak ngerti aing nih ama si kutub.


"Va..." Ridho ngebuyarin lamunan aku.


"Emh, ya Dho..."


"Kita menepi sekarang," ucap Ridho, aku ngangguk.


Aku dibawa Ridho sampai ke tepi air terjun. Ridho nurunin aku, dan sekarang aku jalan menuju daratan.


Aku ngeliat si Karla berdiri sambil tangannya dia lipet di depan dada. Bukannya dia nolongin mukanya nggak kalah jutek dari pak bos. Ini pada kenapa sih, mendadak pada aneh banget.


"Masih bisa nafas, Va?" celetuk Karla, yang kemudian ngeloyor pergi.


"Aiiih, kenapa sih itu perempuan?" aku bergumam nggak jelas, dan pas liat ke bawah aku baru nyadar kalau tangan Ridho masih meluk pinggang aku.


Oh, jadi si karet lagi cemburu buta nih ceritanya.


"Kamu duduk disini, aku ambilin air..." kata Ridho, aku kasih senyuman tipis sambil duduk di samping pak Karan.


Pak bos ngeliatin air terjun aja daritadi. Ya aku tau, dia pasti lagi melow-melownya karena abis ngeliat ibunya di dalam sana.


"Pak..." aku menyentuh lengannya. Tanpa diduga, pak bos malah berdiri dan menjauh dari aku.


"Astaga, kenapa dia yang marah sama aku? harusnya kan aku yang marah sama dia, dia yang bikin aku berurusan sama tuh cincin! ngeselin banget sumpeh!" aku ngedumel sendiri.


Aku coba atur nafas buat nenangin hati yang nggak enak. Aku berdiri, dan mencoba mencari pak bos.


"Kamu mau kemana, Va?" tanya Ridho yang mencekal lenganku.


"Nyari pak Karan..." kataku.


"Tuh orangnya disana, ngapain dicari segala!" Ridho sewot.


"Ya barangkali ilang, Dho..." ucapku.


"Minum," ucap Ridho yang ngasih aku gelas berisi air, pas aku mau minum aku mencium bau yang nggak enak dan aku lempar aja tuh gelas.


"Kenapa, Va?" tanya Ridho.


Tanpa aku jelasin, ternyata ada banyak cacing yang keluar dari gelas itu. Ridho pun sampai kaget.

__ADS_1


"Astaga, yang aku isi tadi air putih loh, beneran!" kata Ridho.


"Sebaiknya kita ke tenda sekarang!" kata Ridho lagi yang narik tanganku supaya ngikutin dia.


Aku masuk ke dalam tenda buat ngambil tas, yang berisi hape. Dan aku melihat pak Karan sedang mengambil jasnya disana.


"Pakai!" dia melempar satu jas yang emang aku pakai sewaktu masuk ke hutan ini.


"Astaga, main lempar aja!" aku nyerocos dalam hati.


Aku dan pak Karan pun keluar dari tenda. Dan tiba-tiba bertiup angin yang sangat kencang, bahkan hampir merobohkan pohon-pohon yang ada di sekitar sini.


"Kita harus cepat pergi dari sini, waktu kita udah habis!" kata Karla tiba-tiba yang narik tangan Ridho.


"Awas!" pak Karan melindungi aku yang hampir kena tenda yang kini sudah terbang entah kemana.


"Akkkh!" aku memekik.


"Reva!" Ridho ngelepasin tangan Karla dan malah menghampiri aku yang lagi dipeluk pak Karan.


"Cepaaaattt pergiiiiiiiii!" suara nenek Karla terdengar menggema.


"Ayo, Dho!" Karla menarik kalungnya dan membuka liontin dan mengeluarkan pasir yang ada di dalam liontin itu dan menaburkannya di udara.


Dan sekarang munculah sebuah lingkaran cahaya berwarna. Karla menarik Ridho berlari menuju lingkaran cahaya itu.


Sedangkan aku melihat sosok Ilena dan juga papa beserta makhluk-makhluk yang lain berjalan mendekat.


"Ibu..." cicit pak Karan.


"Ridho, waktu kita nggak banyak!" teriak Karla.


"Revaaaaaaa! ayo," Ridho narik tangan aku sedangkan pak bos masih aja mematung di tempat bahkan dia berniat berjalan mendekat ke arah ibunya.


Aku melepaskan cekalan tangan Ridho dan berlari ke arah pak Karan.


"Revaaaaaaaaaa...!" Ridho berteriak histeris saat melihat aku berlari menjauh darinya


Aku mengejar pak Karan dan hap aku berhasil menarik tangannya.


"Pak kita harus pergi sekarang," aku menarik tangan pak Karan tapi pria itu diam saja dan menoleh.


"Aku tidak bisa meninggalkan ibuku disini bersama mereka," kata pak bos.


"Sadar, Pak. Ibu Bapak sudah meninggal, begitu juga Papaku. Mereka hanya ilusi, supaya kita tertinggal disini. Ayo, ikut aku Pak..." aku menangkup kedua pipinya dan menatap lekat kedua matanya.


Makhluk-makhluk tadi semakin dekat.


"Kita pergi dari sini, Pak..." aku menatap pak Karan penuh harap. Bagaimana pun aku nggak mungkin meninggalkan pak Karan sendirian.

__ADS_1


Pak Karan akhirnya mengangguk. Kita berdua berlari menuju lingkaran cahaya itu.


"Ayo, Dho!" Karla lebih dulu masuk ke dalam lingkaran itu.


"Ayo cepat!" teriak Ridho, dia tetap menunggu aku. Aku dan pak Karan berlari.


"Cepat masuk!" Ridho menyuruhku dan pak Karan masuk bersama.


"Ridhoooo!" aku teriak memanggil Ridho dan syukurlah dia berhasil sebelum cahaya itu menutup dan menghilang.


Dan kita sekarang ada di sebuah perkampungan. Aku masih nggak tau ini dimana tapi sepertinya nggak asing. Aku menatap Ridho, memastikan perkiraanku ini benar atau nggak.


Ridho hanya mengangguk, dan tersenyum.


Melihat aliran sungai yang jernih ini aku yakin kalau sekarang kita berada di kampungnya Karla.


"Ayo, hari makin sore..." kata Karla yang sebenernya aku tau omongannya itu tertuju buat Ridho.


Aku berjalan beringan dengan Pak Karan. Aku hanya melihat wajahnya yang dingin.


"Pak..." aku menyenggol tangannya.


Lagi-lagi dia hanya melirikku, lalu kembali fokus menatap ke depan.


"Kamu jalan di depan," Ridho menarikku agar berjalan di depannya.


Dan nggak lama kita sampai di rumah Karla.


"Assalamualikum!" ucap Karla.


"Waalaikumsalam!" biyung Karla langsung berlari saat mendengar salam dari anaknya.


"Karlaaaa! syukurrlahh, kamu sudah kembali, Nak!" biyungnya Karla langsung memeluk Karla dengan erat, lalu ia melepaskan pelukannya dan beralih melihat ke arahku.


"Nak Revaaaa! alhamdulillah kamu bisa kembali dengan selamat, Nak..." biyungnya Karla menangkup wajahku.


"Ayo, ayo masuk. Sebentar lagi masuk waktu maghrib!" biyingnya Karla menyuruh aku masuk dan ternyata di ruang tamu ada seorang nenek yang pernah aku temui beberapa yang waktu lalu. Dia duduk di depan sebuah kendi yang berisi air.


"Kalian duduklah..." ucap biyungnya Karla yang menyuruh kami semua untuk duduk di atas karpet. Aku ngeliat di ruang tamu ini kursi dipepetin ke pinggir semua.


"Bersyukurlah tuhan masih menyelamatkanmu!" dia melihatku dengan tatapannya yang membuat aku menciut.


"Sudah, Bu sudah..." ucap biyungnya Karla mengusap lengan ibunya yang sudah tua.


Ya pasti neneknya Karla udah tau aku dan pak Karan, tapi aku melihat ada darah di sudut bibirnya.


"Nenek, sepertinya kau terluka..." aku memberanikan diri untuk bicara padanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2