
Nggak paham deh, gimana semesta ini bekerja. Tau-tau kok ya mendung, langitnya biru ke abu-abuan.
Mereka mintanya ketemu di luar, ya udah kita turutin aja. Dan Arlin yang ngurusin semua dokumennya, kalau aku? aku kan udah jadi bos, jadi aku terima beres aja.
Tenang si Arlin aku bayar mahal buat pekerjaannya itu, dan aku juga nggak nyiksa dia kok. Kalau dia nggak betah, udah dari dulu dia out dari sini.
"Ketemunya dimana sih, Lin?" aku nanya Arlin yang lagi nyetirin.
"Di cafe sekitaran sini," ucap Arlin.
"Hoaaaammmph," aku nguap.
Udah tidur lama tapi kok masih ngantuk, tapi aku berusaha buat nggak tidur di mobil. Soalnya ntar mukaku jadi bengep, kayak orang abis dipukulin.
Arlin markirin mobil di salah satu cafe.
"Disini?" tanyaku.
"Iya, Nona ... saya sudah pesankan tempat," kata Arlin.
Aku sih manggut-manggut aja. Sat set juga nih si Arlin kerjanya, emang pilihan pak Karan. nggak pernah salah.
Arlin berjalan dibelakangku, vibesnya udah kayak bos banget. Beuuuuh, aku jamin pada klepek-klepek kalau liat pesonaku saat ini. Please jangan gumoh. Seorang pelayan nunjukin dimana meja yang udah kita pesen
"Silakan duduk, Nona..." ucap pelayan tadi.
"Ok, thanks!" ucapku, pelayan itu pun pergi ninggalin aku dan Arlin.
"Mereka belum datang?" tanyaku pada Arlin yang udah ribet nyiapin dokumen-dokumen.
"Mungkim sebentar lagi, Nona. Kita tunggu saja..." jawab Arlin.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang membawa minuman yang aku tebak si Arlin yang udah pesen, dia nyengir berarti jawabannya iya. Tau banget si Arlin aku lagi pengen ea kopi pagi-pagi, ya walaupun abis ini aku harus minum obat maagh, gara-gara lambung konslet, tapi nggak apa-apa. Orang kepengen itu nggak ada lawannya.
Baru juga ngeliat jam yang ngelingker di tangan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri meja kami, "Maaf, membuat anda menunggu!" ucap seorang pria.
Aku mendongak dan melihat penampakannya.
"Nggak mubgkin sih, aku pasti salah liat!" aku merem terus buka mata lagi.
Dan sosok itu masih ada, dia malah duduk persis di depanku.
Pandanganku berubah, tatapanku menajam.
"Perkenalkan saya Ridho, saya mewakili tuan Bagas untuk membahas kerjasama dengan perusahaan anda..." Ridho ngulurin tangannya, ingin menjabat tanganku. Tapi aku diam saja.
"Nona..." Arlin memanggilku lirih.
"Maaf, pak Ridho..." ucap Arlin yang ngerasa nggak enak ngeliat tangan Ridho yang belum juga aku jabat.
"Tidak masalah, Nona..." ucap Ridho yang menurunkan tangannya.
__ADS_1
Dan kita mulai membahas poin-poin penting dalam kerjasama ini. Aku sih ham hem ham aja. Di dalam batinku ini lagi bledar-bledor nggak karuan, penampilan Ridho saat ini beda banget. Ya aku akui dia tambah ganteng, dan rapi. Wait, wait! kok aku malah muji dia, sih.
Sabodoteuing dia mau ganteng kek mau burik kek udah nggak ada urusan sama aku. Kita berdua udah end.
"Nona, saya mau ke toilet. Perut saya sedikit bermasalah," ucap Arlin.
Tanpa nunggu jawabanku, si Arlin main ngibrit aja ke toilet.
Sedangkan situasi ini yang lagi aku hindari sebenernya, duduk berdua dengan makhluk yang berasal dari masa lalu.
"Apa kabar, Va?" tanya Ridho.
"Seperti yang kamu lihat tentunya! sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apapun," jawabku judes.
Dia ngelempar senyum, "Syukurlah,"
What, jawaban macam apa itu. Heeeyyy, andaaaaaa laki-laki yang udah kayak setan dateng dan pulang seenaknya sendiri, kamu kira ini hati kayak halte bis? enak banget dia muncul setelah dua tahun ngegantungin aing dengan hubungan yang nggak pasti.
Dia natap aku dalem banget, dan tatapan itu berakhir saat Arlin datang.
"Nona, maaf! saya lupa, kalau hari ini saya ada janji dengan dokter. Saya ada sedikit masalah dengan perut," kata Arlin.
"Ya sudah, cepat ke rumah sakit!" kataku.
"Kamu bawa saja mobil saya, biar nanti saya naik taksi!" ucapku pada Arlin.
"Terima kasih, Nona!" Arlin membereskan tas dan segala berkas yang dia bawa.
Ridho cuma senyum dan nganggukin kepala. Gerak geriknya nggak ada yang berubah secara signifikan, tapi hati aku yang kayaknya udah berubah buat dia. Kek ngerasa gerah banget aku, padahal acnya udah termasuk dingin disini.
"Ehem..." Ridho berdehem.
"Kalau tidak ada yang akan dibicarakan lagi, saya permisi. Senang bekerja sama dengan anda!" ucapku formal.
"Duduk dulu, Va..." ucapnya, tapi aku mebatapnya nggan suka.
"Maksud saya, Nona..." ralat Ridho.
Sejujurnya aku kangen dipanggil kayak tadi, tapi jiwa gengsiku cukup tinggi buat nerima kehadiran Ridho yang tiba-tiba kayak gini. Coba kalau dia dateng 2 tahun yang lalu, waktu aku lagi bonyok-bonyoknya. Aku pasti udah meluk dan lelendotan sama dia sambil nangis-nangis pengen di puk-puk gitu punggungnya.
"Ada apa lagi? bukankah pembicaraan kita sudah selesai, pak Ridho?" ucapku sambil ngelipet tangan di depan dada.
"Minumlah dulu, bahkan minuman anda belum tersentuh sedikitpun," kata Ridho yang menggeser sedikit posisi iced coffee dengan float ke arahku
Satu sudut bibirku naik ke atas, lalu menyeruput minuman kesukaanku itu.
"Kamu berubah," ucap Ridho.
"Berkat dirimu!"
"Sejujurnya aku nggak mengharapkan itu," ucap Ridho.
__ADS_1
Lama-lama duduk di kursi ini bikin aku tambah gerah, aku segera berdiri dan pengen buru-buru buat keluar dan meninggalkan pria yang bikin hatiku cekit-cekit.
"Revaaa! tunggu, Vaaa!" seru Ridho.
Tapi aku nggak peduli, aku terus berjalan keluar sampai ke pinggir jalan.
Aku julurin tangan buat nyetopin taksi, karena kalau mesen udah pasti kelamaan. Tapi ternyata Ridho lari nyusul aku.
"Va, kamu mau kemana biar aku anter," ucap Ridho nawarin tumpangan.
"Nggak usah, aku bisa naik taksi!" aku nggak peduliin Ridho, aku sibuk ngeliat taksi yang kali aja lewat.
"Ikut aku," Ridho buka mobilnya dari luar dan ngegendong aku dengan kedua tangannya.
"Heh, turunin nggak?!!" ucapku pada Ridho yang nggak peduli aku pukulin dari tadi.
Dia masukin aku ke dalam mobilnya, dia duduk di kursi kemudi dan sedikit mencondongkan badannya ke arahku yang masih shock dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Heh, jangan kurang ajar, ya!" aku menunjuk wajahnya.
"Pakai sabuk pengamannya," Ridho ngelilitin seatbelt ke badanku sampai bunyi 'klik', yang berarti sabut itu sudah terpasang dengan sempurna.
"Buka pintunya, aku mau keluar!" ucapku.
Tapi Ridho sama sekali nggak ngegubris omonganku. Dia malah tancap gas, entah mau kemana.
"Kamu mau ke kantor atau?" tanya Ridho di tengah jalan.
"Turunin aku di-si-ni!" kataku dengan tegas.
Dan ...
Cyiiiiiiiiit!
Ridho menepi dan menghentikan laju kendaraannya.
"Dengan pakaian seperti ini?" ucapnya.
"Asal kamu tau aja, Va. Di daerah sini rawan garong! naik motor aja bisa dijambret apalagi orang jalan kaki dengan sepatu hak tinggi yang nggak mungkin bisa lari, aku nggak bisa bayangin apa yang bakal terjadi!" ucapnya.
"Omong kosong!"
"Kalau nggak percaya, silakan kamu turun. Dan tunggu taksi sampai jempol kamu karatan!" kata Ridho.
Aku menatapnya kesal.
"Silakan Nona..." Ridho membuka system lock pada mobil ini.
"Sialan!" umpatku.
"Salah, aku si-Ridho bukan si-alan," ucapnya.
__ADS_1