
Kesel banget aku, soalnya Ridho banguninnya mepet.
"Maaf, Sayang? tadi kamu tidurnya pules banget. Nggak tega aku..." ucap Ridho, dia nekuk kakinya, di samping aku yang lagi duduk di depan meja Rias.
"Va...?" dia goyangin lengan aku yang lagi ngebentuk alis.
"Ih, Ridhoooooo?!!! jadi nyoret kaaaaan?" suaraku naik satu oktaf.
"Nggak sengaja, sini sini aku beresin. Apa aku bantu garis," kata Ridho.
"Dah, nggak usah..." ucapku kesel.
Aku nggak mau didandanin kayak kemarin, kelamaan soalnya. Jadi aku putuskan buat make up minimalis aja. Kan kalau cantik mah udh dari orok, jadi modal alis ama lipstik aja udah on banget ini muka.
"Maafin..." Ridho ngerengek.
"Iya, jangan ditarik-tarik, bisa sobek ini kebayaku,"
"Kalau maafin ya jangan manyun sih, Va..." kata Ridho.
"Iya iya bawel!"
Setelah udah siap, muka udah cucok meong aku dan Ridho turun ke bawah. Dan sesuai prediksi, itu penganten udh ngejogrog di taman belakang.
Aku duduk di belakang penganten, sederet sama mama.
"Loh kamu kayak gitu aja?" tanya mama.
"Iya, nggak ada waktu," ucapku sambil melirik ke arah Ridho.
"Ya ampun, kalian sempet-sempetnya ngadon? astagaaa," ucap mama.
"Hah? ngadon? siapa?" aku malah nggak ngerti apa yang mama omongin.
"Apa sih mama nggak jelas," kataku lagi.
Meninggalkan ucapan mama tadi, aku lagi khusyuk inih ngedengerin si Dilan mau ijab qobul, semoga aja jangan sampe salah lagi. Kalau salah, aku karungin aja lrmpar ke pasar. Kesel kan kita nyiapin acara beginian mulu, tapi endingnya gagal maning gagal maning son!
"Va, menurut kamu Dilan bakalan bener nggak nih ijabnya?" bisik Ridho di telingaku yang bikin merinding bulu romaku, bbrrrr.
"Berhasil lah, masa iya gagal mulu?"
Ridho malah nyengur, mungkin dia geli sendiri pas keinget momen Dilan salah sebut nama penganten.
"Iishhh, jangan ngetawain?!" aku nyenggol lengan kangmas.
Semua orang terdiam.
Suasana jadi hening. Bahkan musik juga mendadak dimatiin. Biar si Dilan bisa fokeus. Nggak salah-salah bae.
Dilan mulai menjabat tangan pak penghulu, "Bismillahirrohmanirrohim, saya terima nikah dan kawinnya Ravelia Adhisti binti Dave alfarizi dengan mas kawin tersebut dibayar tu-nai!" ucap Dilan dengan lantang cenderung bersemangat.
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
"Saaaaaaaahhh!!!" ucap kita serempak.
Alhamdulillah akhirnya sah juga nih pasangan. Walaupun tadi suasana sedikit horor gitu, takut si mulut Dilan kepleset lagi gitu.
Kelar ijab, dilanjut acara ramah tamah. Emang bener kemarin itu gagal karena gangguan si Freya. Karena terbukti hari ini semuanya berjalan lancar, ya walaupun acara diundur sampe sore kayak gini.
"Daaaaah sah, kan?" ucapku pada Ravel.
Adekku mesam-mesem nggak jelas, dia gandeng mulu tuh tangan suaminya berasa mau nyebrang jalan.
"Makasih ya, Va. Aku nggak tau kalau kamu nggak bantuin," ucap Dilan.
"Iya sama-sama. Kalau nggak demi kebahagiaan si centil ini, aku mah ogah pagi-pagi ke rumahnya tante Santi, Lan?!" kataku nyindir Ravel yang lelendotan mulu ama Dilan, udah kayak ulet bulu uget-uget mulu.
"Selamat ya, aku kira bakal gagal lagi," kata Ridho.
Sontak aku sikut perut kotak-kotaknya, "Aaawkh?!!" Ridho memekik.
"Hadeeuuh, kalau mau sikut-sikutan jangan disini, Va?! maap ya, Reva suka ngode nggak jelas..." ucap Ridho yang bikin Ravel dan Dilan mikirnya udah nyebrang pulau saking jauhnya.
"Maklum manten baru, ntar juga pada ngerti..." lanjut Ridho.
Aku kruwes langsung tuh bibir, "Jangan digubris omongan nih lakik!" ucapku yang kini ngebekep mulut Ridho dan ngebawa kangmasenjauh dari Ravel dan juga Dilan.
"Iiiiih, ini mulut kalau ngomong suka ngadi-ngadi, deh?!!!!!" aku kesel banget.
"Heheheh, jangan marah, Va. Ntar aku nyut-nyutan," kata Ridho.
"Aaadudududuh,"
"Ya kepalanya nyut-nyutaaan, Va. Kepala..." ucap Ridho, aku pun ngelepasin capitanku.
.
.
.
Waktu cepet banget berlalu, baru sore tadi rumah kerasa rame. Sekarang udah pada bubar jalan. Resepsi dimulai nanti malam jam 8 di salah satu hotel. Kita milih indoor, mengantisipasi hujan dan gledeg yang kita nggak bisa predisksi sebelumnya.
Sejujurnya aku tuh capek banget, tapi mau gimana lagi. Ini resepsi pernikahan aku dan Ravel yang digabung jadi satu. Sebenernya aku nggak begitu mikirin resepsi, tapi mama maunya sekalian ya udah aku iyain aja. Daripada ntar dikutuk jadi tutup panci.
Kita udah boyong kesini habis maghrib, dilanjut langsung sat set sat set dandan biar tambah mempesona. Tapi ada satu hal yang menurutku kurang. Nggak hadirnya adek sepupu galak.
"Ada yang lagi dipikirin?" tanya Ridho tiba-tiba.
"Nggak ada, aku cuma ngerasa capek..."
"Kita ke rumah ibuku minggu depan aja, kasian kamu capek kalau harus perjalanan jauh," ucap Ridho yang sekarang lagi ngebantu aku nutup resleting gaun pengantin ekor panjang dengan punggung yang sebagian terbuka.
"Nggak apa-apa, besok kita kesana. Kita nikah tanpa restu ibu kamu juga sebenernya udah salah," ucapku yang kemudian berbalik menatap suamiku.
"Tapi kalau kamu capek, kita tunda..."
__ADS_1
"Iyaaaa," aku kasih dia seulas senyum tipis.
Ting tong!
"Biar aku yang buka..." kata kangmas. Dia jalan dan buka pintu, kepalanya noleh ke kanan dan ke kiri, terus pintu di tutup lagi.
"Siapa?" tanyaku.
Ridho balik badan, "Nggk ada,"
"Nggak ada?" alisku keangkat satu, heran.
"Nggak usah heran, kan kita mah udah biasa diganggu kayak gitu. Jangankan cuma diisengin ketukan pintu, dikejar setan juga kan sering bukan sekali dua kali..." ucap Ridho yang baru mau ngelangkah tapi ada suara bel yang dipencet lagi.
Ting tong!
"Aiishhhh, kenapa dipencet lagi coba?" Ridho agak kesel roman-romannya.
Dia buka pintu lagi dan taraaaa, nggak ada siapa-siapa. Aku cuma bisa ketawa ngeliat muka bete mas bojo. Bisa-bisanya mereka ngegganggu kita mulu, apa nggak ada orang lain lagi yang bisa dijahilin gitu yaaaa.
"Awasss aja sekali lagi. Aku getok nih yang mencetin bell!"
Dan untuk yang ketiga kalinya suara bell kedengeran lagi, dan kali ini emosi jiwa raga banget nih suami aing.
"Dasar Set-" ucapan kangmas terhenti saat pintu dibuka dengan penuh kekesalan.
"Set apa, Dho?" kedengeran suara mama.
"Set ... set ... setelan baju, Mah..." ucap Ridho mbleret.
"Setelan baju?" ucap mama bingung sambil nyelonong masuk, aku cuma bisa ketawa ngekek ngeliat muka Ridho auto pucet.
"Udah siap?" tanya mama ngeliat aku yang lagi pasang giwang.
"Udah," jawabku.
"Katanya mau getok yang mencet---" ucapanku terhenti gara-gara dibekep sama kangmas.
"Mencet apa?" tanya mama ngeliat kita berdua.
"Nggak apa-apa, Mah..." ucap Ridho nyengir garing.
"Kalian ini aneh..." kata mama.
"Ayo, sebentar lagi acara dimulai," ucap mama ngode supaya aku dan Ridho ikut keluar.
Ridho pun ngelepasin bekepannya, "Ember banget sih kamu, Va?!!"
"Lipstikku nih, ah! untung nggak blepotan!" aku ngecek bibir seksoyku di cermin.
"Revaaaa, Ridhoooooo?!!" panggil mama.
"I-iyaaa, Maaaa?!!" sahut kita kompak.
__ADS_1