Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Balikin Lagi


__ADS_3

Arlin nggak mau dengerin aku, padahal daritadi aku bilang ngebut dikit ngebut dikit tapi dia nyetirnya nggak jauh beda sama Ridho.


"Maaf, Nona..." kata Arlin.


"Saya tidak mau menanggung resiko jika terjadi sesuatu, saya yakin dengan kecepatan segini pun kita tidak akan terlambat, Nona..." ucap Arlin.


"Kamu kok nurutnya sama suamiku sih, Lin?" aku kesel.


"Karena Tuan bilang Mona sedang hamil," ucap Arlin.


Dan emang Ridho kebangeten, kayak gitu aja udah bilang ke Arlin. Jangan-jangan nih berita aing hamil udah nyampe ke telinga para ibu-ibu kompleks.


"Adeuh, pusing..." aku pegangin kepala.


"Anda pusing, Nona? apa perlu saya--"


"Nggak usah, Lin. Udah kamu nyetir aja yang bener," aku makin cekot-cekot ngadepin sikap Arlin.


Beruntung, kita nyampe sebelum pak Dera. Ya laki-laki tamvan dengan badan tegap, labgsung nongol di depan mata nggak lama setelah aku dan Arlin duduk, Dera Prayoga.


"Selamat pagi," ucapku yang berdiri dan menjabat tangan pria tampan ini.


"Selamat pagi, Nona..." ucapnya pelit senyum. Ya bisa dibilang setipe sama pak Karan. Ngomobg-ngomong soal pak Kaean, apa kabar tuh orang ya. Semenjak tunangan kayaknya nggak ada kabar. Sejenak aku merindukan kegalakannya.


"Halooo?" pak Dera melambaikan tangan di depan wajahku.


"Oh, maaf ... hem..." aku ketauan lagi melongo.


"Silakan duduk, Pak..." kataku yang mendadak gagu.


"Sepertinya kita datang di jam dan menit yang sama," kata pria itu yang duduk di depanku.


"Hah?" aku nggak maksud apa yang dia omongin.


"Ya, saya tidak terlambat. Karena kita datang di jam yang sama..." ucapnya.


"Oh iya," aku cuma bisa senyum seramah mungkin


"Astaganaga, perkara dateng aja rempong amat nih orang," aku dalam hati.


Kalau dilihat-lihat, pengusaha muda ini seumuran sama asek sepupu. Ya lumayan mateng tapi jangan salah mukanya kek nggak ada kadaluarsanya, alias awet muda. Aku penasaran, nih bikin produk kayak gini nih cara ngadonnya gimana gitu. Walaupun di mata dan hati aing nggak akan ada yang ngalahin kegantengan kangmas Ridho.


Selama setengah jam kita obrolin tuh tentang kontrak kerja sama yang lumayan alot ya. Nih orang kerasnya ngelebihin pak Karan deh.


"Bagaimana? deal?" tanya pak Dera.


"Tapi---"


"Kesempatan hanya datang satu kali, Nona. Saya beri waktu anda 5 menit untuk berpikir," kata pak Dera.


"Ya, ya, saya setuju..." ucapku buru-buru.

__ADS_1


"Bagus kalau begitu. Keputusan anda sangat tepat, karena tidak sembarang perusahaan bisa menjalin kerjasama dengan kami," kata pak Dera yang lagi-lagi lempeng.


Aku juga heran, pengusaha sekelas dia tiba-tiba minta kerjasama degan perusahaan ecek-ecek punyaku yang jelas nggak ada apa-apanya. Ini lumayan bikin tanda tanya sih.


Arlin pergi ke toilet dan meninggalkan aku dengan orang dari kutub utara ini.


"Ada hal yang ingin saya tanyakan jika anda tidak keberatan," ucapku ragu.


"Katakan saja,"


"Ehm, seorang pengusaha sukses seperti anda mengapa bisa terberait ingin menjalin kerja sama dengan perusahaanku yang---"


"Karena ada seseorang yang memintaku. Hah, kalau bukan karena teman baik, saya juga akan berpikir 100 kali untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan anda, Nona..." ucapnya, nylekit.


"Seseorang?"


"Ya, sepupu anda. Karan Perkasa. Kalau bukan karena mempertahankan kerjasama antara perusahaanku dengan Perkasa Group, mana mungkin aku mengiyakan permintaan konyol Karan untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan anda, Nona..."


"Oh, begitu, Ya?" aku tersenyum kecut karena merasa sangat diremehkan.


Ya ampun, itu mulut laki-laki kenapa nggak ada saringannya. Makjleb banget di hati ya. Ngerti perusahaanku mah belum ada apa-apanya, tapi kan mbok ya ngomongnya nggak usah sejelas itu dong.


"Baik, kalau tidak ada hal yang ingin ditanyakan lagi, saya permisi. Saya masih ada urusan lain," ucapnya seraya berdiri dan tersenyum tipis, sampai nggak bisa dibedain itu senyum atau bukan.


"Hati-hati di jalan," kataku.


Dia pergi dengan langkah tegap dan sombongnya. Aku yang melihat itu hanya bisa bilang 'amit-amit jabang bayi' jangan sampe anakku niru orang yang kayak gitu.


"Udah gone?!!!" ucapku kesel.


Arlin cuma bisa garuk-garuk kepala kayak onyet. Dia mungkin bingung kenapa aku tiba-tiba ngegas.


"Kita ke kantor sekarang," kataku yang bangkit dari kursi. Arlin buru-buru membayar minuman yang dipesen.


"Sudah dibayar oleh laki-laki yang bersama anda tadi, Nona..." ucap waitress sambil melihat ke arahku. Aku yang mendengar itu menatap Arlin.


"Maksudnya orang sombong tadi yang bayarin, Lin?" tanyaku.


"Maksudnya tuan Dera?"


"Iya lah, siapa lagi?" lagi-lagi Arlin kena semprot.


"Ya sudah, kita balik sekarang," aku jalan mendahului Arlin.


"Nona, Nona tunggu...!" Arlin berusaha menyamai langkahku.


Aku harus ngomong nih sama adek sepupu. Kalau nggak usahlah, promosiiin atau nyuruh-nyuruh orang kerja sama sama perusahaanku. Biar aku usaha sendiri gitu. Kalau kayak gini rasanya nggak enak banget, kesannya aku manfaatin nama besar Perkasa Group.


Di dalem mobil. Aku minta Arlin nganterin aku nemuin adek sepupu.


"Tapi, Nona kata---"

__ADS_1


"Udah deh, Lin. Aku lagi nggak mau debat. Turutin aja yang aku bilang tadi, aku lagi guondoookkk banget sekarang tau, nggak?!" aku kesel banget.


"Baik,"


Arlin akhirnya putar arah. Kepalaku langsung nyut-nyutan, nggak tau karena aku yang emosinya lagi mledak-ledak atau gara-gara aku lagi hamil muda.


Setelah lebih dari setengah jam memacu kendaraan di jalan raya, akhirnya sampai juga di perusahaan tempat dulu aku kerja.


Arlin ngekorin terus, pokoknya dia bener-bener nurutin apa kata Ridho yang nyuruh jagain aku.


Sampai di depan ruangan adek sepupu.


"Pak Karan ada di dalam?" aku nanya sama sekretarisnya.


"Ada Nona," ucap wanita yang akan berdiri tapi aku cegah.


"Duduk saja, saya bisa masuk sendiri,"


"Kamu tunggu saja disini, Arlin!" ucapku pada Arlin. Dia ngangguk nurut.


Aku ketok pintu tiga kali sebelum buka pintu.


"Reva...?" adek sepupu kaget ngeliat aku yang nggak ada angin nggak ada ujan nongol di kantornya.


"Masuk," ucapnya lagi.


Aku nggak ada mood buat ngejawab, aku cuma ngelakuin apa yang dia suruh. Pak Karan berdiri dan menghampiriku.


"Duduklah, ada angin apa sampai kamu berkunjung kemari?" dia nanya.


"Nggak boleh emang?" aku naikin alis. Kayaknya semua orang bakal kena semprot sama aku hari ini.


"Ya, boleh. Hanya saja aneh, tiba-tiba saja kamu datang," kata pak Karan.


Aku narik nafas, biar pusingku agak ilang dikit.


"Kamu sakit?" tanya pak Karan yang pegang keningku.


"Kenapa Bapak nyuruh pak Dera buat menjalin kerjasama dengan perusahaanku?" aku tatap mata pak Karan serius.


"Darimana kamu tau?"


"Nggak penting darimananya. Bapak tinggal jawab aja," ucapku datar.


"Aku ingin perusahaan itu bisa berkembang dan maju, jadi---"


"Ya udah, ambil lagi aja kalau gitu. Kalau kayak gini kesannya aku nggak bisa kerja dan pimpin perusahaan. Karena apa? ujung-ujungnya perusahaan itu ikut mendompleng nama besar Perkasa Group," kataku.


"Bukan itu maksud saya, Reva. Perusahaan itu tetap milik kamu,"


"Sekarang tidak lagi, karena mulai hari ini saya menyerahkan perusahaan itu ke tangan Bapak. Bapak pemilik aslinya. Besok, dokumennya akan saya kirim kemari, terima kasih---" aku yang berdiri dengan terburu-buru, mendadak pusing dan semuanya menjadi gelap seketika.

__ADS_1


__ADS_2