
Ridho ngomong cas cis cus was wes wos, pak Karan manggut-manggut. Aku sih lagi melongo, liatin itu mulut Ridho lemes banget kalau lagi cerita.
"Begitu Pak ceritanya. Bukannya dia kabur tanpa alasan. Para makhluk itu seakan tertarik dengan Reva meskipun dia tidak memakai cincin ini," Ridho menaruh cincin bermata merah di atas meja kaca.
"Lalu? apa kamu tidak merasakan hal yang aneh ketika memegang cincin itu?" tanya pak Karan.
"Saya kan memang dari kecil bisa melihat makhluk astral, contohnya kayak demit yang disamping saya ini..." Ridho tanpa dosa nunjuk ke arahku.
Jarinya yang masih nunjuk aku pelintir, dia ngejerit, "Aaaaaakhhh, sakit oncom!"
"Rasain!"
Dan tingkah kita berdua tak luput dari perhatian pak bos yang kayaknya kalau diterawang pikirannya, seperti sedang melihat pertarungan dua orang yang secara umur sudah dewasa tapi kelakuan masih seperti balita.
"Sssshh ... jadi, kalau buat saya, ya biasa saja, Pak! perbedaannya tidak terlalu kentara. Karena kalau yang nampak di mata saya, mereka tidak banyak pergerakan. Paling diem di pojokan sambil dadah-dadah manja. Tapi kalau yang mengejar Reva ini, cenderung ingin memaksa Reva agar ikut masuk ke alam mereka. Ini yang bisa dibilang cukup membahayakan," ucap Ridho sambil mengibaskan jarinya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? karena ternyata saya pun mengalami apa yang Reva alami. Saya masih bisa melihat mereka semua," tanya pak Karan.
"Cincin ini seperti mengikat, dan melekat pada orang yang telah memakainya," lanjut pak Karan.
"Kita harus tahu asal usul cincin ini, Pak!" kata Ridho.
Aku nggak banyak bicara, biarlah kedua pria dewasa ini yang mengatur bagaimana baiknya. Yang jelas, yang ada di kepalaku saat ini aku nggak mau balik ke kosan.
"Cincin ini milik almarhum ibuku, Ilena Jessalyn. Ibuku yang memiliki darah keturunan Yunani, mengakui keislamannya satu tahun sebelum menikah dengan ayah. Sebenarnya aku baru menemukan cincin ini satu bulan yang lalu. Saat aku tak sengaja membuka laci di kamarnya sesaat setelah kamarnya di bersihkan. Walaupun ibuku sudah meninggal 5 tahun silam, tapi aku tak ingin ada yang berubah di rumah ini. Kecuali satu, ayahku!" jelas pak Karan.
"Aku pikir aku akan menyimpannya karena cincin ini merupakan barang kesayangan beliau," lanjut pria es batu itu.
"Sejak kapan beliau memiliki cincin batu merah ini, Pak?" Ridho nanya sambil melihat ke arah cincin yang tergeletak di atas meja.
"Saya tidak begitu ingat. Yang jelas, sejak saya kecil. Bisa jadi cincin ini umurnya lebih tua dari saya," jelas pak Karan.
Mendadak ada yang mengusik perhatianku. Aku merasa ada suara langkah kaki di depan ruangan ini. Aku memegang tangan Ridho. Bukan memegang, tapi mencengkram lebih tepatnya.
"Kenapa, Va?" Ridho melihat wajahku.
"Pintu..." ucapku takut.
__ADS_1
Ridho pun menghentikan percakapannya dengan pak Karan.
"Ada apa?" pak Karan bertanya, bahkan ia sampai memutar badannya melihat kemana arah pandangan aku dan Ridho tertuju. Saat ini kami bertiga kompak melihat ke satu arah, pintu.
Cekleeek!
Pintu pun terbuka.
"Permisi, minumnya Tuan..." dan yang nongol ternyata mbok Sri yang membawa nampan berisi tiga cangkir.
"Maaf, Tuan tadi saya lupa ketuk pintu..." ucap mbok Sri yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian 3 pasang mata.
Dan
Seketika bahu kami yang tadi sempat tegang kini langsung mengendur kembali.
"Astaga, aku kira..." aku menghembuskan nafas dan memegang dadaku yang sempat deg-degan. Begitu juga raut wajah Ridho yang berubah menjadi tenang kembali. Sedangkan pak Karan? Aku nggak berani natap tuh orang, atut!
"Silakan, Tuan. Permisi..." kata mbok Sri setelah menaruh cangkir diatas meja beserta camilannya.
"Kau terlalu penakut, Reva! coba kondisikan pikiranmu," pak Karan nyeletuknya nggak enak banget.
"Iya, Pak. Namanya juga waspada, Pak..." aku salah banget kayaknya ngejawab si bos.
"Takut dan waspada itu berbeda. Ck, begitu saja kamu tidak bisa membedakan," pak Karan kalau ngomong suka nyelekit. Ish, kalau Ridho yang ngomong kayak gitu udah aku gaplok daritadi.
Setelah perdebatan tadi, pak Karan pun mempersilakan kami untuk menikmati teh hangat yang sudah tersaji di meja. Ketika baru saja ku angkat cangkir itu, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Karla.
Aku menaruh kembali cangkir di atas meja dan meminta izin untuk mengangkat panggilan itu. Aku pun sedikit menjauh dari kedua pria yang tengah berbincang.
"Ya. ada apa, La?" ucapku saat panggilan dengan Karla tersambung.
"Aku ada di depan kosan kamu," kata Karla.
"Aku lagi di luar,"
"Mana? nggak ada? di luar dimana, ngomong yang jelas, Va!" tanya Karla.
__ADS_1
"Maksudnya, aku lagi pergi dan nggak di kosan. Tumben banget kamu nyari aku sampai kos?" aku mengernyit heran. Aku melihat Ridho melirik ke arahku dan aku memberi kode bahwa aku akan bercerita setelah ini.
"Ya, karena ada hal penting!" jawab Karla yang semakin membuatku bingung.
"Sepenting apa?"
"Penting banget dan sepertinya kamu sudah tau itu. Hal buruk menantimu! cepatlah datang. Aku tunggu," kata Karla sebelum memutuskan panggilannya.
Keningku berkerut, memikirkan kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Karla.
"Hal buruk menantimu! cepatlah datang," aku menirukan apa yang dikatakan Karla.
"Apa maksud dia? satu-satunya hal buruk yang terjadi ya..." aku menghentikan gumamanku saat Ridho memberi isyarat padaku agar aku kembali duduk.
Aku menaruh hape ke dalam saku sebelum aku kembali menghampiri Ridho.
"Ada apa, Dho?" aku nanya setelah aku duduk di samping pria yabg jauh dari kata kalem ini.
"Sambil menunggu muka kamu kembali seperti semula dan semua malapetaka ini berakhir, gimana kalau kamu tinggal dengan Mona untuk sementara waktu? nanti aku akan cari kosan dekat situ, biar aku bisa memantau kalian..." kata Ridho.
"Gimana?" lanjut Ridho minta pendapatku.
"Iya, Dho. Kayak gitu aja aku setuju," tumben banget otak Ridho terkoneksi dengan baik.
"Biar saya nanti yang membayar kosanmu. Bagaimana pun, semua kekacauan ini timbul karena aku membuang cincin ini sembarangan. Yang akhirnya cincin ini dipungut oleh salah satu karyawan perusahaanku," ucap pak Karan pada Ridho.
"Sebenarnya sih tidak perlu. Tapi kalau ada kompensasi itu ya, rasanya tidak sopan kalau saya menolak tawaran baik dari Bapak," kata Ridho. Bisa banget itu lambe kalau ngomong.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi, Pak! untuk cincin ini biar saya yang menyimpannya sembari kita mencari tahu bagaimana melenyapkan sesuatu yang membuat cincin ini menjadi cincin pembawa petaka," kata Ridho bak detektif ecekebret.
Dia mengambil kembali cincin batu merah dan menyimpannya ke dalam saku. Sok gaya banget ngomongnya, padahal dia juga tereakan waktu kita dikejar setan di rumah sakit tadi.
"Kalau ada sesuatu yang kalian perlukan, hubungi saya..." kata pak Karan.
"Tentu," jawab Ridho, sedangkan aku hanya mengangguk. Kemudian aku mengambil tasku dan mengikuti langkah Ridho yang keluar dari ruang kerja pak bos.
"Apapun yang tersembunyi kita harus menemukannya segera," ucap Ridho setelah menutup pintu dari luar.
__ADS_1
Kami berdua berjalan menuju pintu utama, namun firasatku mengatakan bahwa ada orang yang mengawasi kami dari tadi.
"Ah, mungkin hanya feeling nggak jelas!" aku berusaha meyakinkan diri.