Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Aman Nggak Ya


__ADS_3

Ridho duduk di sofa, sedangkan kepalaku sengaja dia taruh dipangkuannya, aku setengah meringkuk sambil dibelai pelan.


"Kamu tadi kemana? lama banget?" tanyaku.


Jari jemari Ridho masih setia ngusap ubun-ubunku, "Ketemu Fikri. Dia lagi stres berat, butuh temen cerita..."


"Pantesan. Aku takut banget ngeliat Mona kayak gitu..."


"Tapi kamu nggak apa-apa, kan? atau ada yang sakit?" tanya Ridho.


"Cuma kedorong aja tadi, tapi nggak apa-apa. Nggak ada yang luka lagian,"


Aku gigit bibir bawahku, "Dho. Kayaknya apa yang kita alami ini ada hubungannya sama pak Karan. Termasuk hilangnya Gadis, hantu penunggu rumah..." ucapku.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan kayak gitu?"


Aku yang tadinya rebahan di paha ayang, sekarang bangun, "Maaf aku nggak ngomong sebelumnya, tapi hari ini aku dari perusahaan milik pak Karan. Awalnya niat mau bilang kalau kita nerima tawaran dari dia..."


"Lalu?" Ridho minta penjelasan lebih.


"Lalu, aku denger kalau..." aku pun nyeritain semuanya dari A sampe Z. Pokoknya Ridho cuma bisa nganga dan sempet nggak percaya.


Jangan-jangan apa yang dialami kita semua hari ini juga termasuk ulah pak Karan. Ridho udah mulai emosi tuh, tapi aku coba buat tenangin.


"Kalau kita ngadepin ini dengan emosi, yang ada makin runyam..." ucapku.


"Aaaarrrrghhhh!" Ridho memukul tangan sofa.


Malam ini aku dan Ridho jagain Mona. Kita takut dia bangun dan menyakiti dirinya sendiri. Sebenarnya Ridho nggak yakin kalau adiknya itu sakit karena depresi.


Cuma karena kita emang udah lelah banget, kita berdua ketiduran dengan posisi duduk.


Paginya, aku nggak mungkin ninggalin Mon sendirian di rumah sakit.


"Kamu berangkat kerja aja. Mona biar aku yang jagain..." kataku.


"Beneran? tapi kamu kan harus ke perusahaan buat nyerahin hasil medical check up kan?" ucap Ridho.


"Hari senin juga bisa kan? kalau nggak diterima ya udah. Berarti emang nggak jodoh kerja disitu..."


"Yang penting kamu nggak sampe bolos kerja. Dah sana mumpung masih jam 6, masih bisa ke kosan buat ganti baju..." aku pegang kedua bahunya yang lebar dan kokoh, sedangkan Ridho narik pinggangku mengikis jarak diantara kita berdua.


"Makasih ya, pulang kantor aku langsung kesini..." kata Ridho yang memelukku.


"Iya, semangat kerjanya ya..." aku mendorong tubuh Ridho perlahan.

__ADS_1


Ridho ngerogoh dompetnya, aku nebak dia bakal ngeluarin duit.


"Nggak usah, aku masih punya duit!" ucapku mendorong tangan Ridho pelan yang mau buka dompetnya.


"Siapa juga yang mau ngasih kamu duit, aku cuma mau ngecek ktp Mona yang kemarin buat daftar rumah sakit!" celetuk Ridho, aku yang mendengar itu langsung manyun.


"Ck, canda Sayang! aku emang mau kasih kamu duit, kali aja kamu butuh sesuatu..." ucap Ridho.


"Nggak usah lah, paling aku juga di dalem sini nggak kemana-mana. Lagian aku ada duit hasil nagih utang kemarin,"


"Ya udah kalau gitu. Tapi aku tetep tinggalin duit, nih aku taruh di sini..." ucap Ridho yang ngambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan naruh di lemari tempat aku nyimpen tas baju Mona.


Cup!


Dia cium keningku, "Aku pergi. Kabari kalau ada apa-apa!"


"Pasti!" jawabku.


"Ehem," adavsuara deheman yang ternyata dari seorang perawat yang memergoki keuwuan kami berdua.


"Sana pergi..." ucapku pelan sambil kibasin tangan ke Ridho. Ridho ngangguk dan tersenyum sebelum keluar dari ruangan.


Sedangkan perawat tadi masuk, "Permisi, saya mau mengecek tekanan darah dan suhu tubuh pasien..."


"Oh ya silakan, Sus!" ucapku.


"Sudah selesai, permisi..." ucap suster, dia nutup pintu lagi. Aku yang dari kemarin sore nggak mandi pun pengen ngebasuh badan pakai air.


Mumpung Mona lagi tidur, mending aku mandi bentaran. Minimal biar nggak lemes dan ngantuk.


"Mon, Mbak mandi dulu ya?" ucapku lirih.


Lumayan, disini bisa mandi air anget. Badan yang pegel berasa jadi seger. Kepala yang nyut-nyutan jadi lumayan mendingan. Rencana mandi yang hanya sebentar, ternyata memakan waktu lebih dari setengah jam.


"Baru kali ini mandi selayaknya manusia," gumamku yang melihat wajah yang udah segera di kaca wastafel sambil ngeringin rambut pakai handuk.


Ridho pasti ngeluarin uang banyak buat biaya rumah sakit, disiitu hatiku tergerak buat sekedar bantu.


"Aku ambil duit cash dulu, lah!" ucapku sambil memandangi wajah cantik tanpa bocel di kaca.


Setelah memakai baju rapi, aku keluar.


"Astaghfirllah!" aku kaget ngeliat Mona udah duduk di ranjangnya.


"Udah bangun aja, Mon!" ucapku seraya mendekat. Tapi Mona nggak ada reaksi apa-apa, dia cuma duduk dengan pandangan kosong. Aku heran ada apa sama Mona. Apa iya gara-gara bersihin rumah yang dipenuhi ikan dan cacing bisa bikin dia sedepresi ini?

__ADS_1


"Kamu pengen apa, Mon? biar Mbak ambilin..."


Dia menggeleng tapi pandangannya kosong. Aku yang melihat itu langsung peluk ini calon adik ipar.


"Kamu kenapa si, Mon? mending Mbak liat kamu yang cerewet dan sukan ngledekin. Daripada liat kamu jadi diem kayak gini..." ucapku.


Tapi perlahan Mona ngedorong badanku, dan dia kembali tidur menyamping. Tanpa ngomong sepatah kata pun. Dia merem lagi.


Aku duduj di kursi samping ranjang Mona, dan kayaknya si Mona tidur lagi.


Perutku yabg nggak tau diri, kruyukan minta diisi. Aku nyoba telpon kantin tapi nggak ada yang angkat. Maksudnya kan aku pesen aja lewat telpon terus nanti pesenannya minta dianterin kesini, jadi aku nggak perlu ni ggalin Mona.


"Deeeuuuuh, angkat napa!" aku ngomel. Beberapa kali aku mencet nomer kantin tapi ya gitu cuma ada nada tunggu aja.


Aku nyerah dan naro gagang telepon ke tempatnya semula.


"Laper banget!" aku pegangin perut.


Dan tiba-tiba ada perawat yang masuk buat ganti botol infus Mona.


"Sus!" aku panggil itu suster.


"Iya kenapa, Mbak?"


"Kalau saya tinggalin adik saya ini buat ke kantin bentar aman nggak ya?" tanyaku pada si suster nggak pakai ngesot.


"Nggak apa-apa sih, Mbak. Masih tidur juga, asal jangan kelamaan aja..."


"Oh gitu ya, saya titip dulu ya, Sus! ntar saya balik lagi," ucapku.


"Silakan, Mbak!" ucap suster itu.


Aku ambil tas dan keluar dari ruang rawat Mona. Aku menyelusuri lorong rumag sakit yang masih lumayan sepi.


Ting!


Pintu lift terbuka.


Aku masuk dan pencet tombol lobby. Pintu besi ini pun tertutup lagi. Aku nggak tenang ninggalin Mona, tapi aku juga udah kelaparan.


Saat kotak besi ini terbuka, aku langsung keluar dan buru-buru jalan ke arah kantin.


Brukkk!


Aku nabrak seseorang wanita, "Maaf, saya nggak sengaja..." ucapku.

__ADS_1


"Nggak apa-apa!" ucap wanita itu yang main pergi aja.


__ADS_2