
Ridho rada error emang. Masa iya aku lagi buncit disuruh pake kemejanya pak Karan yang slim fit. Ngadi-ngadi emang nih suami.
"Ya maap, Sayang? aku lupa kalau kamu lagi hamil," ucap Ridho yang tau aku lagi ngambek perkara disuruh ganti kemeja.
"Manding kamu aja yang ganti, baju basah kuyup kayak gitu..." aku kasih kemeja ke kangmas.
Dengan santainya dia buka baju, ganti gitu aja di kursinya. Ya ampun ya ampun, perutnya kotaknya tetep aja mempesona di segala suasana ya. Lagi ribet di kejar para demit, setan dan apapun sebutan yang pas buat makhluk ghoib, massiiih aja nih mata nggak bisa ngedip liat kangmas ganti.
Maap, maap aja. Otak suka lupa settingannya.
Setelah Ridho ganti baju kita lanjutin lagi perjalanan yang sungguh nggak mudah ini. Aku ambil jasnya pak Karan buat ngelindungi aku dari dinginnya ac mobil. Baunya khas parfum pak bos. Mungkin ini jas abis di pake sama dia apa gimana, parfumnya kerasa banget soalnya.
Iseng masukin tangan ke saku jas pak Karan, aku ngerasa tanganku nyentuh sebuah kalung.
Sementara Ridho masih fokus ke jalanan, aku ambil tuh kalung dan liat cuma dari saku. Nggak aku keluarin.
Empat huruf yang berdiri sendiri-sendiri di kalung itu. Ada huruf R kemudian E, huruf V dan terakhir huruf A. Dan kalau di tulis berarti Reva. Dan itu namaku.
Kalung berwarna putih itu, dengan 4 huruf sebagai liontinnya.
"Apa iya perasaannya sedalam itu sama aku? sampai dia bikin kalung ini?" batinku.
"Sayang? kamu ngelamun?" tanya Ridho. Buru-buru aku taruh kembali kalung itu ke saku.
"Ah, nggak kok. Aku nggak ngelamun," ucapku.
"Perasaan kok nggak nyampe-nyampe ya?" ucapku sama kangmas.
"Iya perjalanannya emang kan jauh. Kamu istirahat aja, tidur. Nanti kalau udah nyampe aku bangunin kok..." ucap Ridho.
"Nggak ah, aku nggak akan tenang tidur dalam keadaan kayak gini," ucapku.
__ADS_1
"Kenapa ya? anak aku ini jadi incaran semua demit? apa anak ini anak set--"
Ridho nyerobot, "Ssshh, jangan ngomong yang macem-macem. Ingat, ucapan adalah doa, apalagi kamu itu ibunya. Jadi bicara yang baik-baik aja, berdoa aja buat keselamatan kita semua,"
"Semua anak istimewa. Dan biasanya orang hamil memang beda baunya bagi para makhluk halus..." kata kangmas.
"Nenek itu, kira-kira ngejar kita nggak ya?" aku cemas.
"Berdoa aja, nggak. Kecuali kalau dia pakai akses ghoib," kata Ridho.
Hujan yang semula deras, kini hanya rintik gerimis. Perutku udah keroncongan daritadi tapi aku nggak berani minta kangmas buat sekedar mampir. Sedangkan langit udah berwarna kejinggaan. Bukan waktu yang tepat buat kelayaban di jalan.
Kelamaan duduk di mobil bikin aku agak pegel juga, aku berusaha membenarkan posisi. Dan 'seeeet' pas ngeliat ke belakang. Ada satu sosok yang nenek Yuna panggil dengan sebutan 'Ratu'.
Iya wanita bertanduk itu ada di belakang kita.
"Maaasss..." ucapku lirih.
"Mas, mas?!!" aku panggil Ridho lagi.
"Dibelakang?!!" aku tepokin pundaknya kangmas.
Dan pas aku ngeliat lagi sosok itu dah gone, udah nggak ada.
"Dibelakang?" Ridho berhenti dan nengok ke belakang.
"Tadi ada ... ada sosok yang kita lihat bersama nenek Yuna," ucapku terbata.
"Kita harus secepatnya sampai.di rumahnya pak Sarmin kalau gitu," Ridho nampak serius. Dia kebut lagi tuh mobil.
Ditengah rasa deg-degan aku yang waspada karena diikutin sama sesosok makhluk ghoib, ada panggilan masuk dari pak Karan.
__ADS_1
"Ya, halo?" ucapku. Kanas ngelirik dan mulutku kasih kode kalau yang nelpon itu pak Karan.
"Kalian sedang menuju rumah pak Sarmin?" tanya pak Karan.
"Iya kok bisa tau?"
"Saya pasang GPS di mobil itu, jadi saya bisa lacak kemana kalian pergi. Bagaimana keadaan kamu?" suara pak Karan terdengar parau.
"Kami baik-baik aja. Apa kamu lagi sakit?"
"Aku akan menyusul kesana, tunggulah..." ucap pak Karan yang kemudian menutup panggilannya.
Suaranya terdengar aneh. Aku cuma bisa berdoa semoga nggak ada hal buruk yang terjadi sama adek sepupu.
"Mas langitnya udah gelap aja?" aku memperhatikan langit.
"Padahal baru jam 5 sore. Apa ini pertanda buruk?" tanyaku.
"Banyakin berdoa aja, Sayang. Baca surat pendek yang kamu bisa," kata Ridho.
Ucapan yang sebenenya simple, disuruh baca surat pendek. Tapi aku yakin dibalik perintahnya itu ada hal yang sengaja Ridho sembunyiin dari aku. Karena kalau diliat dari raut mukanya, Ridho nampak serius dan dengan bibir yang bergerak-gerak. Seperti melafalkan sesuatu.
"Ada hal yang kamu sembunyikan, Mas?" tanyaku.
"Nanti ya, aku ceritakan kalau kita udah sampai. Sekarang kamu lakuin aja apa yang aku suruh tadi," ucap Ridho.
Nggak mau berdebat di mobil, aku pun melakukan apa yang disuruh Ridho. Sampai akhirnya kita sampai di rumah yang udah lama banget nggak kita kunjungi, persis mau adzan maghrib.
"Alhamdulillah," ucap Ridho.
"Kita udah sampai, lebih baik kita cepat turun!" lanjutnya.
__ADS_1
Ridho keluar dan jalan muter. Dan saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang memegang pundak tanganku, sepertinya mirip sebuah tangan. Aku nggak mau nengok, hanya bola mataku yang melirik ke kanan ke kiri sampai akhirnya Ridho buka pintu.
"Kita masuk," ucap Ridho yang mau ngegendong aku.