
Aku tarik aja tangannya. Nggak boleh pergi dia, nggak boleh sejengkal pun melewati pintu rumah.
"Iya iya aku jawab, tapi jangan tinggalin aku. Sampai Mona balik ke kontrakan," kataku, Ridho manggut-manggut. Sekarang dia duduk di sofa, nungguin jawaban.
"Sebenarnya...."
Aku mulai menceritakan siapa itu mbak Sena, bagaimana aku bisa kenal dia. Pokoknya aku jelasin dari ketemu dia di hutan terlarang, sampai teror telfon dari nomernya mbak Sena yang entah sengaja atau nggak nyangkut ke hape ku. Termasuk cerita mantan ibunkost yang bilang kalau mbak Sena itu sudah hilang di hutan selama kurang lebih dua bulanan. Dan pas aku lagi cerita kayak gini tiba-tiba aja ada bunyi petir disertai hujan deras.
Bressssss!
Jederrrrr!
Petir saling bersahut-sahutan, bikin aku meluk diri sendiri karena dingin.
"Jadi maksud kamu, kamu mau ke rumah Karla itu karena mau nolongin mbak Sena itu?" ranya Ridho.
"Iya,"
"Kamu tau itu sangat beresiko?" Ridho natap aku.
"Waktu itu kamu aja bisa nemuin aku di hutan terlarang, dan karena itu aku juga aku bisa kembali kesini dengan selamat,"
"Itu jelas beda, Va! aku menembus dunia goib karena aku juga punya bekal, dan aku..."
"Dan aku apa?" aku nautin kedua alis karena mendengar ucapan Ridho berhenti.
"Dan karena aku cinta sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, Va..." lanjut Ridho.
Seketika jantungku berpacu, aku kedip beberapa kali nggak percaya dengan apa yang aku denger saat ini. Apa dia bilang tadi? Cinta?
"Waktu itu aju udah janji kan mau memperjelas hubungan kita. Aku udah nggak mau lagi jadi temen kamu, Va. Aku mau lebih dari itu," kata Ridho. Aku malu-malu meong.
"Aku juga nggak tau kenapa aku suka sama kamu yang otaknya suka agak geser kanan kiri, tapi ya udah mungkin itu jadi takdir aku..." Ridho ngelanjurin ucapannya tadi.
"Heh, niatnya mau nyatain cinta apa mau ngehina sih?" aku kesel banget.
"Lagian, kayak gini juga aku udah ada yang ngelamar!" aku sombong dikit.
"Iya iya percaya, gitu aja marah sih, Va! Sensi amat..." Ridho ngelus lenganku tapi aku tepis.
"Jadi?" Ridho nanya tapi ngegantung.
"Jadi apa prok prok prok," aku lanjutin salah satu pesulap tradisional tersohor.
"Ngerusak suasana banget sih kamu, Va!" Ridho ngedorong kening aku dengan telunjuknya. Suasana malam
"Hahaha, lagian nggak jelas. Jadi apa maksudnya?"
"Haish, nggak perlu siaran ulang lah. Tadi kan aku udah ngomong panjang lebar," Ridho malah ngambek.
"Jadi kamu terima nggak?" Ridho nanya lagi.
"Terima apaan?"
"Astaghfirllah! daritadi aku ngomong kamu nyambung nggak sih, Va?" Ridho gregetan.
"Ya nyambung, dikit-dikit. Masalahnya ini tadi kita lagi mbahas mbak Sena tapi malah mbleber kemana-mana, aku kan agak buffering jadinya!"
__ADS_1
"Masalah mbak Sena nanti dulu dipikirnya, inj ada yang lebih penting dari itu," Ridho pegang tanganku dia tempelin telapak tanganku di dadanya.
"Ini soal perasaanku Va..." katanya lagi.
Aku bingung harus jawab apa, mau jingkrak-jingkrak ntar dikata norak. Mau diem aja nanti dikira nggak suka. Duh kepriben, Gusti!
Backsound suara ujan dan gledek, ditambah kilatan petir yang bikin suasana tambah dramatis.
"Aku sebenernya..." ucapku ngegantung.
Ridho nyelipin tangannya diantara rambut panjangku yang aku tergerai.
"Kamu juga punya perasaan yang sama kan sama aku, Va? kamu nggak mungkin suka sama pak Karan kan? kalian sodara, loh! nggak baik cinta-cintaan..."
"Kenapa malah bahas pak Karan, aneh banget kamu!"
"Jangan gantungin jawaban napa, Va! daritadi tuh kita ngomong mutar-muter kayak komedi putar tau, nggak? jadi nggak nyampe-nyampe nih!" Ridho dari yang tatapannya romantis sekarang malah manyun-manyun nggak jelas.
"Ya aku juga punya rasa yang sama kayak kamu," aku jawab agak ngeri-ngeri sedap.
"Beneran?"
"Hemm, kayaknya sih gitu..." aku pura-pura mikir.
Dan tiba-tiba aja dia ngecup keningku dan nyatuin dua kening kita.
"Jadi mulai sekarang jangan pernah nantangin bahaya sendirian, karena aku nggak akan ngebiarin itu!" kata Ridho.
Duh Gusti, jantung aing berasa maraton ini. Ridho ngelepasin tautan kening kita, dia deketin wajahnya. Tapi tiba-tiba...
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
"Assalamualaikuuuuuuuum, Mbaaaaaaaaak!" suara Mona.
Aku yang denger itu lantas menjauhkan wajah Ridho yang berjarak kurang dari 5 senti.
"Ya, waalaikumsalam!" aku jawab sedikit teriak, supaya bisa kedengeran sampai keluar.
Aku yang mau di berdiri, dicegah Ridho.
"Ini urusannya gimana?"
Aku cium pipi Ridho sekilas, lalu aku kabur bukain pintu dengan muka yang pasti udah kyak udang rebus.
Diluar ujan deres, aku yakin Mona pasti udah basah kecipratan air.
Ceklek!
__ADS_1
"Mona?" aku liat Mona agak basah, ditemenin satu pria yang seumuran sama nih bocah.
"Ayo cepet masuk!"
"Ayo Bar, masuk!" kata Mona ngajakin temennya ikutan masuk le dalam rumah.
"Oh ya, Mbak. Ini Bara temen aku," kata Mona lagi.
"Ya ampun basah kayak gini, kamu cepetan ganti, gih..." aku nyuruh Mona masuk ke kamar.
Sementara aku liat temen Mona nggak kalah basah.
"Kalian naik motor? nggak pakai jas ujan?" aku nanya.
"Jas ujan cuma satu, Mbak. Udah saya sruruh Mona pakai, tapi dia keukeuh nggak mau. Jadi ya udah, akhirnya basah berdua. Tapi untungnya cuma sebentar kena hujannya," kata Bara.
Dan ngedenger ada suara cowok di ruang tamu, si kutu kupret nongol pakai gaya sok cool gitu.
"Eheeemmm!" Ridho dehem.
"Dho, kamu masih ada baju di sini nggak? nih temennya Mona basah," aku nengok ke Ridho.
"Nggak usah, Mbak! saya juga mau pulang..." tolak Bara.
"Kamu yang nganter Mona?" tanya Ridho, tatapannya menelisik.
"Iya, Mas. Saya Bara, saya temen satu kampus Mona," Bara ngulurin tangannya dan Ridho pun menjabat tangan itu sekilas.
"Duduk dulu, Bar! saya buatkan minuman panas dulu, lagian masih deres banget diluar..."
"Nggak usah, Mbak. Nanti kursinya basah..." jawab Bara.
"Besok bisa dijemur, ayok duduk aja nggak usah sungkan!" aku ngelirik ke Ridho supaya nyuruh Bara duduk. Aku yakin si Bara nyalinya ciut gara-gara dipelototin sama Ridho.
"Duduk aja nggak apa-apa," kata Ridho yang lebih dulu duduk, dan mau nggak mau Bara pun mengikutinya.
Aku pergi ke dapur buat bikin minuman anget. Aku nyalain kompor dan mulai masak air biar mateng.
"Kopi atau teh ya?" aku mikir.
"Kalau teh, barangkali takarannya nggak pas," aku ambil kotak yang isinya kopi sasetan dan kawan-kawannya.
"Lah ini ada jahe instant, pasti mama nih yang nyetok kayak ginian..." aku nemu beberapa sachet susu jahe instant, kesukaan mama. Mama kan emang habis nginep lama disini, jadi nggak heran kalau dia nyetok banyak minuman kesukaannya.
Aku bikin tuh 4 cangkir, kebetulan aku juga pengen yang anget-anget di lambung.
Pas aku lagi bawa nampan, mau jalan ke ruang tamu. Mona nongol, buka pintu kamar.
"Kamu bawain anduk gih buat Bara! kasian, dia pasti kedinginan!" aku nyuruh Mona.
"Ini aku udah siapin lok, Mbak!" ucap Mona yang ditangannya nyampir handuk putih kayaknya sih baru.
"Aku beli waktu Ravel kesini, Mbak! dia sempet bilang lupa bawa anduk, jadi aku beliin. Giliran udah dibeliin, eh anduknya nyempil di koper mamanya katanya..." lanjut Mona, kayaknya bisa nerawang apa yang barusan ada dipikiran aku.
"Ya udah cepetan kasih ke Bara!" aku nyruuh Mona buat cepetan jalan nyamperin temennya.
Aku ngikutin di belakang Mona, tapi tiba-tiba aja...
__ADS_1
...----------------...