Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Minta Liburan


__ADS_3

Situasi hati Ridho lagi nggak enak. Pulang dari resto, kangmas maksa nyetirin. Padahal aku tau itu dia masih nggak enak body.


"Aku aja yang nyetir," aku nawarin bantuan tenaga.


"Nggak usah, aku udah mendingan kok," kata Ridho.


"Tadi gimana?"


"Apanya?" Ridho balik nanya.


"Meetingnya,"


"Ya gitu-gitu aja," kata Ridho.


Bener-bener lagi badmood parah nih orang. Biasanya nggak gitu loh kalau aku nanya, dia pasti ada senyum-senyumnya. Lah ini mah datar, lempeng kayak jalan tol.


"Udah makan?" tanya Ridho tiba-tiba.


"Belum, tadi pesen minum aja,"


"Mau makan di luar atau dibungkus aja dan makan di rumah?"


"Nanti deliverry aja, biar kamu istirahat di rumah," kataku. Ridho tersenyum tipis.


Nggak biasanya jam 2 siang kita udah pada ngandang. Biasanya kalau nggak sore ya pasti malem kita pulang ke rumah.


Sampai rumah, aku pesen deliverry. Kita makan bareng. Mungkin karena badannya yang beneran nggak enak habis makan Ridho naik ke atas buat tidur siang.


Di rumah ini cuma ada aku dan Ridho. Nggak ada asisten rumah tangga. Ridho udah nawarin, tapi buat pengantin baru kayak kita kayaknya belum begitu butuh banget asisten rumah tangga. Lagian, kalau yrusan makan kan bisa beli sedangkan beres-beres rumah masih bisa dilakuin aku sama Ridho.


Gabut nggak ada yang bisa dilakuin, aku pergi ke teras depan. Udah mau sore, jadi aku pikir buat nyiram-nyiram tanemannya Ridho.


"Wah, bu Reva rajin banget ya? jam segini udah nyiramin taneman,"


"Eh, iya bu Ella. Mumpung lagi sempet," kataku yang lagi pencitraaan jadi istri yang baik.


"Tumben jam segini udah pulang, bu Reva?" tanya bu Ella yang kebetulan jadi bu RT di kompleks ini.


"Iya, Bu. Lagi pengen pulang cepet. Bu Ella mau kemana, Bu? udah rapi aja,"


"Saya mau berangkat senam, Bu. Bu Reva mau ikutan? bagus loh bu, buat pengantin baru kayak bu Reva ini. Badan jadi kenceng, dijamin bikin suami klepek-klepek,"


"Alhamdulillah saya masih kenceng semua, Bu. Belum ada yang kendor," kataku.


"Ya sudah, saya duluan ya? kabari aja kalau mau ikutan senam ya, Bu..."


"Siaaap, Bu Ella..." ucapku sambil ngarahin air ke taneman.


Setelah semua taneman udah pada seger aku pun matiin kran air. Ternyata enak juga pulang lebih awal. Aku masuk lagi ke dalem rumah, buat ngambil air dingin di dalem kulkas.


"Lagi apa, Sayang?" tanya Ridho.

__ADS_1


"Uhuuukkk, lagi minum! uhukk,"


"Aku ngagetin ya?" tanya Ridho yang kemudian nepokin punggungku buar nggak batuk-batuk lagi.


"Ya jelas lah, ngangetin. Uhukk,"


"Kok udah bangun?" aku ajak Ridho duduk.


"Keringetan, kamu matiin ac-nya ya?" dia kibasin kaos yang dia pakai.


"Nggak, aku nggak matiin ac kamar,"


"Ya udah lah. Mungkin emang lagi eror aja tuh ac," Ridho nggak mau ambil pusing.


"Mau aku bikinin teh?" aku nawarin.


"Enaknya mah air dingin ya,"


"Ini? janganlah, orang kamu lagi sakit, Mas..." aku nunjukin minuman kaleng yang ada di tanganku.


"Aku bikinin teh aja, ya?" aku nyalain kompor dan mulai bikinin Ridho minuman panas.


Dari raut wajahnya sih, acara ngambeknya udah kelar dan badannya lumayan mendingan karena udah sempet minum obat.


"Besok kalau belum begitu fit, mending istirahat di rumah aja," ucapku sambil nyodorin satu cangkir teh panas.


"Makasih ya, Sayang?" Ridho tersenyum tipis.


"Baguslah kalau kayak gitu," aku ngambil kue kering.


"Aku oerhatiin kamu akhir-akhir ini suka banget makan kue kering kayak gitu padahal belum juga lebaran," ucap Ridho nunjuk satu toples nastar yang aku kekepin terus.


"Iya, nggak tau. Lagi suka aja, ini aja Arlin yang suruh nyari," kataku.


"Enak?"


"Banget," aku tunjukin dua jempol.


Seperti hari-hari sebelumnya, makanan semua hasil dari deliverry order. Mau nyoba masak, takut malah ngeracunin kangmas. Apalagi dia lagi sakit, ntar tambah parah lagi sakitnya. Jadi lebih baik kita cari aman ya.


Setelah sholat berjamaah bareng suamiku yang gantengnya luar binaaasaaah. Aku baru nyadar kalau kayaknya aku belum dapet tamu langganan yang biasanya dateng sebulan sekali.


"Terakhir bulan kemarin ya, apa aku terlalu stress makanya hormonku terganggu?" aku cepetan ngelipet mukena. Sedangkan Kangmas katanya mau rebahan dulu, masih pusing.


"Aku bawain makanan kesini, ya?" aku nawarin. Ridho cuma ngangguk.


Kalau nggak bisa masak ya minimal bisa mesen gitu. Madih untung aku bisa nyalain kompir dan bikinin teh dengan takaran yang pas.


Waktu lagi ambil ayam bakar dan lalapan beserta sambelnya, aku ngerasa ada sesuatu yang lewat.


"Cuekin aja," aku bergumam dan cepat-cepat ke lantai atas dengan nampan di tangan.

__ADS_1


Untung tadi pintu nggak aku tutup sempurna, jadi tinggal dorong dikit tuh pintu udah kebuka.


"Maszeeeh, makan dulu, yuk? Mas....?" aku taruh nampan di nakas dan ngebangunin kangmas yang udah molor lagi.


Aku jadi ketularan pusingnya, apalagi ngeliat nih orang rebahan dan molor terus.


"Hey, mas suamiii. Bangun dan makan dulu," aku goyangin badannya.


"Iyaaa..."


Akhirnya dia duduk walaupun dengan wajah yang seperti ituuuuuh.


"Suapin," dia merengek.


"Biasanya juga nyaplok sendiri, nah ini harus banget disuapin?"


"Kan aku lagi sakit," kata Ridho.


"Tapi kata dokter nggak ada hal yag serius, cuma kecapean..."


Tapi walaupun begitu aku juga nggak tega ngeliat Ridho yang lagi lemes gitu. Aku pun nyuapin mas suami dikit-dikit.


Menjelang tidur, aku kepo banget. Aku mulai serching tentang ketidakseimbangan hormon akibat stress yang mungkin bisa mengganggu siklus datang bulan pada perempuan.


"Tuh kan, kayaknya bener deh. Aku terlalu stress makanya aku nggak jelas gini dateng bulannya,"


Fix, aku butuh healing. Biar stressnya ilang, tapi pertanyaannya kapan. Mungkin aku bisa, tapi Ridho?


Dia kan sibuknya nglebihin yang punya perusahaan.


"Dho ... eh, Mas?" aku goyangin badan Ridho.


"Emh, kenapa Sayang? mau minta jatah? jangan sekarang ya? aku lagi sakit nih," ucap Ridho ngelantur.


"Jatah? jatah duit maksudnya?" aku geleng-geleng kepala.


"Mas Ridhoooo?!!" aku lanjut bangunin.


"Emmmh, iyaaa ada apa?"


"Kita liburan, yuk?"


"Kemana?" Ridho ngejawab tapi matanya merem.


"Kemana aja kek, yang penting keluar dan nggak ngurus kerjaan kantor?!"


"Hem, ya..." Ridho naikin selimutnya dan merem lagi.


Pengen marah tapi kasian, dianya lagi meriyang. Nggak marah tapi hati dongkol banget liat kelakuannya yang dikit-dikit *****.


"Sabaarrr Revaaaaaaa," kataku ngeliat suami udah pules lagi.

__ADS_1


Aku juga ikutan tarik selimut dan redupin lampu.


__ADS_2