
Seseorang ngebuka pintu pelan-pelan.
"Reva, Ravel..." panggil mama sembari masuk ke dalam.
"Acaranya mau dimulai," lanjutnya.
"Emang si Dilan-da Musibah udah dateng sama emaknya?" aku tanya.
"Dibilangin jangan pakai musibah!" Ravel nyerobot.
"Udah, baru aja dateng. Tinggal nunggu penghulunya. Moga aja dia nggak nyasar ya..." kata mama.
"Nyasar gimana? nggak lah, kecuali dia emang kagak niat dateng kemari," kataku nyairin suasana.
Aku dan Ravel berdiri mendekat ke mama.
"Nggak nyangka kalian udah menjelma jadi wanita dewasa,"
"Dia mah belum, Mah! masih bocil dia, kelakuannya aja masih kayak anak SD!" aku nunjuk Ravel.
"Emang Mbak kira Mbak juga dewasa? beuuh mas Ridho aja kayaknya bengek mulu ngadepin kelakuan Mbak!" ucap Ravel.
"Ehem," mama berdehem.
Mendengar nama Ridho kesebut, situasi jadi krik krik.
"Kalian jangan ribut, udah pada gede! malu sama umur. Mama keluar dulu, jangan lama-lama di dalem. Semua tamu udah nunggu," kata Mama yang kemudian keluar dari kamar.
Aku menghela nafas, kayaknya susah banget gitu buat dapetin restu dari mama.
Aku tau Ravel ngerasa nggak enak, sempet keceplosan nama Ridho.
"Udah nggak apa-apa," ucapku sambil ngusap lengan Ravel, "Lebih baik kita keluar, semua orang udah nunggu..."
Musik mulai mengalun, rasanya aneh banget nuntun adek sendiri ke meja ijab. Ada rasa bahagia dan sedih yang bercampur aduk jadi satu. Tamu undangan nggak begitu banyak, hannya kerabat dekat. Sekilas aku ngeliat pak Karan udah ngejogrog disana. Dan udah juga udah ada Dilan yang duduk di depan penghulu.
Aku anterin Ravel dan duduk di belakangnya, "Tenang, oke..." aku bisikin ke telinga adekku.
Aku celingukan nyari Ridho, katanya dia mau dateng. Tapi kenapa belum nongol juga. Mama juga tau-tau dateng dari arah belakang dan duduk di sampingku.
Pak penghulu mulai membacakan doa, dan saat yang mendebarkan akhirnya tiba juga. Dilan menjabat tangan pak penghulu untuk mengucapkan satu kalimat sakral dengan lantang.
"Bismillahirrohmanirraohim, saya terima nikah dan kawinnya Ravel Velya---"
"Aa namaku Ravelia Bukan Ravel Velyaaaa?!!!! Ravelia Adhisti, kalau Velya itu nama belakang Mbak Reva. Aa gimana sih?" Ravel nyenggol lengan Dilan.
"Astaghfirllah, maap. Maap, Sayang. Nama kamu mirip sama mbak kamu, jadi aku suka ketuker-tuker nyebutnya..."
"Silakan diulangi, mas Dilan. Jangan sampai salah sebut nama," ucap penghulu.
__ADS_1
"Saya ulangi ya, Pak?"
"Saya terima nikah dan kawinnya, Ravell--" ucapan Dilan terhenti.
"Raveliiiiaaa Aaaaaaaa! Ravelia Adhisti binti Dave Alfarizi," Ravel gemes banget.
"Iya maaf, Sayang! kepalaku lagi pusing banget," ucap Dilan.
"Aku coba sekali lagi, ya? oke? kali ini aku jamin pasti bener,"
"Ravelia Adhisti, iya kan?" ucap Dilan lagi ke Ravel.
Ravel udah kesel banget tuh ditambah suasana jadi riuh, karena Dilan udah dua kali gagal ngucapin kalimat ijabnya.
Nih, si Dilan udah wudhu belum sih nih orang. Pikirannya jadi kemana-mana.
"Dilan kenapa sih, Mah?"
"Nggak tau, Va! Kayaknya dia lagi kurang sehat," jawab mama seadanya. Mama tetep mamerin senyumnya walaupun aku tau dibalik senyuman itu ada rasa khawatir.
"Jangan gugup dan tenangin diri dulu, Mas Dilan. Ini kesempatan terakhir, kalau masih gagal lagi. Berarti pernikahan ini harus ditunda," kata pak Penghulu.
"Sini aku contohin!" kata orang yang kemudian duduk dan menjabat tangan pak penghulu.
"Ridho?"
"Wait, wait, dia mau nyontohin caranya ijab? atas nama Ravel? lah kalau kebablasan gimanaaaaaa???" batinku meronta. Aku mau berdiri, tapi disuruh duduk sama mama.
"Itu si Ridho," aku nunjuk orang yang udah memposisikan dirinya di depan penghulu, persis disamping kursi Dilan. Jadi merrka empet-empetan bertiga.
"Dengerin baik-baik," kata Ridho.
"Saya sudah siap, Pak!" ucap Ridho pada pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Reva Velya binti Dave alfarizi dengan seperangkat perhiasan dan alat sholat dibayar, tunai!
"Saaaaaahhhhh?!!!" dan semua orang menyerukan kalimat sah.
Aku melongo,"Heh maksudnya gimana ini? kenapa jadi sah?" aku celingukan kyak orang bego. Mama cuma ngangguk, dan tersenyum. Aku masih bingung.
"Selamat ya, Sayang?" ucap mama seraya meluk aku.
"Lah, ini gimana? kok jadi----"
"Mama merestui kamu," ucap mama dengan mata yang berkaca-kaca.
"Silakan Mbak Reva untuk duduk disini, dan menandatangani dokumen pernikahan," ucap penghulu.
"Untuk mas Dilan harap bersabar. Lebih baik anda wudhu terlebih dahulu supaya lebih tenang..." lanjut pak penghulu.
__ADS_1
"Aku ambil wudhu dulu ya, Sayang?" ucap Dilan pada Ravel yang masih ngambek.
Sedangkan aku duduk disamping Ridho dengan tatapan bingung. Setelah diliat, emang ni jasnya Ridho juga warna abu-abu, lumayan senada sama aku.
"Dhooo...?"
"Iya, ini bukan mimpi. Sekarang kita sah jadi suami istri..." ucap Ridho.
Dan ketika Dilan kembali dengan wajah yang seger, acara ijab pun dimulai lagi. Dan kesempatan terakhir itu alhamdulillah gagal maning gagal maning son!
Beuuh udah kebayang itu mukanya si Ravel, nahan malu dan gregetan sama Dilan.
"Yaang, Sayaaaang..." Dilan ngejar Ravel yang kabur dari tengah-tengah tamu yang hadir.
"Hahahah, astagaaa, kenapa bisa dia salah sebut terus?" aku cuma geleng-geleng kepala.
Sanak saudara dan kerabat mengucapkan selamat buat pernikahan tahu bulat ini. Karena aku bener-bener nggak tau kalau semua ini bakal terjadi, pernikahan antara aku dan Ridho.
"Selamat, aku harap kamu bahagia dengan orang ini," ucap pak Karan.
"Dan kamu, awas saja kalau bikin Reva celaka lagi," ucap Pak Karan sama Ridho.
"Soal takdir kita nggak pernah tau. Yang jelas, aku bakal berusaha ngelindungi dia," Ridho memeluk pinggangku dari samping.
"Aku nggak bisa lama-lama, ada hal penting yang harus aku selesaikan. Aku pamit," ucap pak Karan yang kemudian berbalik dan pamit juga sama mama. Aku cuma bisa memandang badan tegap pria galak itu yang semakin lama semakin menjauh.
Lumayan pegel nih kaki pakai heels yang tinggknya alaihim gambreng. Ravel balik lagi ke sini, dengan di gandeng Dilan. Mereka nyamperin aku sama Ridho.
"Gimana? udah selesai ngambeknya?" tanya ku.
"Lumayan, Va..." ucap Dilan yang wajahnya emang lagi pucet banget.
"Kamu lagi sakit, Lan? Mending kamu istirahat aja," kataku.
"Vel, harusnya Dilan kamu suruh istirahat. Kasian itu dia pucet gitu,"
"Dia pucet karena 3 kali nggak bener ngucapin ijabnya!" jawab Ravel.
"Nggak, Vel. Kayaknya Dilan emang sakit,"
"Ck! harusnya kan aku yang nikah, bukannya mbak Reva?!!" Ravel masih aja ngambek.
"Ya elah, kan acara ijab kamu masih bisa diulang lagi besok, Ravel. Itu yang penting Dilan disuruh istirahat dulu, kasian..." kataku. Kalau Ridho mah cengar-cengir pengen ngetawain sepasang calon penganten yang lagi nggak akur itu.
"Ck, Dhooo!" aku sikut lengannya.
"Iya iya sorry..."
"Lan, istirahat aja kamu di kamar tamu..
__ADS_1
" ucapku.
"Ayo, Aaa..." Ravel ngegandeng calon suaminya buat masuk ke dalam.