
"Aaaaaaaaa," aku teriak dan dorong pintu lemari sekuat tenaga.
Tuh setan mungkin benjut, benjol kena pintu. Sedangkan aku dengan susah payah keluar dari dalam lemari.
"Aaaaa," aku lanjut teriak dan tutupin tuh setan yang nemplok ke tembok pakai jas itemnya kangmas. Nggak apa-apa ya, Mas. Jasnya aku korbanin buat nutupin tuh Etan.
"Akkh, hhh ... hhh..." aku setengah lari ke kamar niat hati mau keluar, tapi apa di dalem sini banyak setan lolipop alias ocong.
"Astaghfirullah, duuh bisa pada kroyokan sih mainnya?" aku kesel banget.
Dugh?!!
Dughhh?!!
"Revaaaaa? kamu di dalam? Revaaaa?" teriak pak Karan.
Aku nggak bisa jawab, itu ocong anjluk-anjlukan , lompat mendejat ke arah aku. Kalau dihitung sekitar ada 6 ocong yang ada di kamarku ini, dan satu setan kondangan yang sekarang jalan melayang dari kamar ganti.
"Sayang, akkh ... buka pintunya, kita pergi dari sini," ucap kangmas.
Dugh!!
Dugh!
"Sana kalian pergiii?!!" aku teriak ke hantu-hantu yang mendekat ke arahku.
"Ini aku Ridho suami kamu, Revaaa?!!" Ridho gedor pintu lagi.
Dugh!!
Dugh!!
Dugh!!
Astaga, kangmas salah paham. Dia pikir aku ngusir dia.
"Disini banyak setannya, Mas!" kataku.
"Buka pintunya Revaaa," ucap pak Karan, dia berusaha narik handle.
Tapi setan kondangan itu bergerak ke arah pintu, dia sengaja ngejogrog disitu biar aku nggak bisa ngebuka kuncinya.
"Sayang, buka pintunya?!! kita pergi sekarang, uhuuukk?!!" Ridho terbatuk.
Tapi aku nggak bisa, mereka terlkau banya buat dilewatin sementara ocong-ocong tadi lompat-lompat mau deketin aku.
"Heh, pergi sana. Tempat kalian tuh bukan disini tapi dikuburan sana," ucapku sambil ngelindungin perutku sendiri pakai tangan. Aku berjalan mundur.
Tapi yang namanya setan ya, mereka nggak suka-syka dia mau ngejawab mau nggak, yang jelas mereka semakin mendekat.
Angin malam ini lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aku berjalan mundur sampai nggak sadar pinggangku menyentuh tralis balkon.
"Astaga, ini yang mereka inginkan," aku melihat ke arah bawah. Ngeri-ngeri sedap.
__ADS_1
Sebuah kursi melayang mengenai kaca meja riasku.
Praaaaang?!!
"Akkh," aku teriak saking kagetnya.
"Revaaaaa?!! kamu tidak apa-apa?" suara teriakan pak Karan.
Dugh!!
Dugh!!
Dugh!!
"Aku dan pak Karan akan dobrak pintu ini, kamu minggir, Sayang?!!" ucap Ridho.
Sedangkan wanita tadi, iya wanita bergaun ungu tadi dia datang menghampiriku yang udah kejebak di balkon. Aku nggak mungkin kan terjun ke bawah, bisa auto beda alam yang ada.
"Mau apa?" aku nantangin.
"Mau yang ada di dalam sana," dia menunjuk perutku.
"Situ mimpi kali ye? minta minta, ini anak bukan permen?!! suka ngadi-ngadi kalau ngomong," aku pegang perutku posesif dengan kedua tangan.
Braaakkk!!
Suara pintu yang di dorong paksa, tapi aku liat pintunya masih utuh belum kebuka.
"Aku menginginkanya, bahkan kita semua menginginkannya dan aku yakin aku yang berhasil membawanya pulang," ucap si Etan nggak tau diri.
Tangannya kotornya terulur mencoba menyentuh aku tapi aku atuo geser, "Et
iits, nggak kena?!"
Braakkkk?!!
Syara pintu di dorong lagi. Tapi belum juga kebuka.
"Arrgghhhhh," dia nunjukin kuku-kukunya yang tajem dan berusaha mengarahkannya ke peutku tapi aku bergeser lagi, nggak kena.
Braaaakkk?!!
Dan dorongan yang ketika, akhirnya pintu bisa kebuka, aku lihat Ridho udah compang camping.
"Awassss, Revaaaaa?!!" teriak pak Kaean dan Ridho berbarengan.
Sontak aku melihat ke arah lain, dan ternyata hantu itu mau menyerangku tapi dengan sigap aku menghindar dan berlari menerobos kerumunan ocong yang daritadi cuma anjluk-njlukan nggak jelas. Tau kayak gitu aku terobos daritadi deh.
"Masss," aku peluk Ridho.
"Aakkhhhhhh, sakit," aku memekik.
Aku merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perutku.
__ADS_1
"Aaaaaarrrggggghh, aku tidak akan membiarkan kamu pergiiiiii?!!" wanita itu melayang berusaha mengejar dan menangkapku.
Tapi pak Karan langsung menghalanginya.
"Jangan ikut campur?!!" ucap sosok wanita itu.
"Aku tidak akan biarkan kamu menyentuhnya," ucap pria galak yang kini berusaha keras melindungiku.
"Kau ingin bermain-main dengan ku rupanya, arrrghh," ucap itu dengan mulut yang terbuka mengeluarkan lidahnya yang bercabang, tangannya memegang leher pak Karan kemudian membantingnya ke lantai.
"Akkhr, uhukk. Kalian cepatlah pergi," ucapnya dengan darah yang mengalir dari mulut.
"Ridho, Bawa Reva pergi, sekarang!" lanjutnya yang kemudian bangkit lagi.
Ridho menggendong aku di kedua tangannya, aku yakin berat banget karena selama hamil berat badanku naik secara signifikan.
Dan aku ngeliat wanita tadi mau ngejar tapi dihalangi pak Karan, "Aakkkhh," pak Karan memekik.
"Dasar, bego. Ngapain dia berkorban seperti itu," gumamku dalam hati. Nggak tega sebenernya liat sodara sendiri celaka kayak gitu. Tanganku melingkar di leher kangmas.
Ridho bawa aku ke lantai bawah, dan ternyata keadaan udah kacau banget. Ada satu orang yang berbaju putih dan juga bersorban yang lagi megang leher satu makhluk yang kemarin ngeganggu aku. Iya hantu yang ngajak main cing ciripit.
"Permainan kita belum selesai..." ucap si hantu ke aku. Dikira kita anak SD main begituan, sorry kita udah dewasa nggak level main permainan anak-anak.
"Duniamu berbeda dengan kita. Mereka tidak memiliki hubungan di masa lalu dengan makhluk seperti kamu. Tidak sepatutnya kamu mengganggu," ucap pak Ridwan.
"Seseorang sudah memberikannya," ucap si hantu.
"Jangan berbohong, tidak mungkin ada yang memberikannya. Siapa yang menyuruhmu untuk mengganggu mereka?" tanya pak Ridwan.
"Aku tidak akan berhianat pada tuanku," ucap si hantu yang sok setia.
"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakannya, aku akan mengembalikan kamu ke tempat asalmu," ucap pak Ridwan.
"Kalian cepat pergi. Aku akan mengurus makhluk ini," ucapnya pria berbaju putih itu, pria yang sama yang pernah aku liat waktu ada kejadian di rumah neneknya pak Karan.
"Baik pak ustadz," jawab Ridho.
"Nggak, Mas. Di atas, pak Karan dalam bahaya..." aku menggeleng.
"Nggak usah mikirin yang lain. Yang terpenting kamu dan anak kita selamat. Aku yakin dia bisa mengatasinya," ucap Ridho.
"Namanya emang Karan Perkasa, tapi belum tentu dia juga perkasa dalam menghadapi makhluk ghoib,"
"Va, pikirin anak kita. Udah, kamu nurut aja sama aku," ucap Ridho yang nggak mau di bantah. Dia ngegendong aku menuju mobil.
Pas udah di luar, somplaknya Ridho lupa nggak bawa kunci, "Shiiiit, aku lupa bawa kunci mobil?!!!"
"Aku tunggu disini, kamu keatas aja. Sekalian liat keadaannya pak Karan. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi sama dia..." ucapku.
"Nggak bisa, aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian disini, bisa aja makhluk tadi---"
"Terus kita keluar pakai apa? kuncinya aja nggak ada,"
__ADS_1
"Ya udah, kamu tunggu disini, aku akan bilang sama pak Ridwan," ucap Ridho.
Dan baru aja Ridho nurunin aku. Ada suara pekikan pak Ridwan dari arah dalam, "Aaakkkkkkh,"