
Ceklekkk!
Cekleekk!!
Aku dan Mona diem saling pegangan, kita denger handle pintu yang kayak lagi dimainin.
"Mbak kunci pintu kamar dulu, ya?" aku dengan suara lirih.
"Jangan, Mbak!"
"Biar kita aman!" kataku.
Aku kan nggak tau ya, itu yang ceklak-ceklek itu manusia atau setan. Aku sebenernya ya takut, tapi gimana lagi, Mona nggak bisa diandelin.
"Kamu sorotin mbak pakai senter ini!" ucapku ngasih hape yang menu senternya udah on.
Hatiku jedag-jedug takut banget pas turun dari ranjang buat jalan ke arah pintu. Aku jalan pelan, cuma ada suara hujan dan petir yang jadi irama musik malam ini.
Aku puter kunci, dan geser slot pintu. Biar double lock gitu.
Pas aku balik badan, aku denger dan liat kalau kunci yang masih nancep dipintu bisa gerak sendiri.
Klek.
Klek.
Disitu aku cuma bisa mematung. Aku liat Mona yang nyumpel mulutnya sendiri pakai selimut supaya nggak teriak.
Aku taruh jari telunjuk di bibirku, ngode supaya Mona jangan ngeluarin suara. Aku nunjuk ke arah pintu, ngasih tau kalau aku mau nyabut kunci yang masih gerak-gerak sendiri.
Mona gelengin kepalanya, dia malah nyuruh aku buat menjauh dari pintu.
"Bismillah," ucapku dalam hati.
Selangkah demi selangkah, aku mendekat ke arah pintu dan mengambil kunci. Buru-buru aku balik ke Mona.
"Mbaaak aku takut!" Mona berbisik.
"Sama, Mon!" ucapku.
Udah nggak ada pilihan lain, aku harus telpon Ridho.
Drrrrttttt!
Drrrrrrrt!
"Nomor yang anda tuju sedang di alihkan!" ucap si operator kupret.
"Gimana, Mbak?" Mona udah stress banget.
Aku cuma gelengin kepala, aku nyoba lagi nih kali aja providernya lagi gangguan.
"Nomor yang anda tuju sedang dialihkan, silahkan coba beberapa saat lagi. The number u are calling---" aku matiin sebelum si operator nyerocos panjang pake bahasa negara lain.
"Mbaaakk!" Mona udah ketakutan.
"Nggak bisa dihubungi," aku nggak kalah gemeternya. Karena kalau diperhatikan lebih jelas, ada bayangan orang yang ada di balik pintu kamarku. Nggak ngerti deh kalau Mona tadi nggak nyamperin dan dia terjebak di kamarmya sendirian, dia bisa stress out banget kayaknya.
"Ridhoooo, angkat dong!" aku bergumam sendiri sambil mencoba ngehubungin Ridho.
"Coba di chat dulu, Mbak! kali aja bisa nyampe!" kata Mona.
Ceklek!
Ceklek!
Itu handle masih aja dimainin.
__ADS_1
📱Dho, please ke kontrakan sekarang! urgent!
Status chat masih centang satu. Itu artinya, pesan belum diterima sama Ridho. Boro-boro dibaca, nyangkut di hapenya Ridho aja belum.
Inginku berkata kasar, sinyal aing oleng. Beneran bikin aku sama Mona nggak tau harus apa lagi. Kita berdua cuma bisa pegangan tangan satu sama lain.
"Hujan lebat, nggak ada sinyal, Mon!" ucapku.
"Terus ini gimanaaa, hiks!" Mona malah nangis.
"Mon jangan nangis, aku juga takut kali. Tapi Kalau kamu nangis kayak gini aku malah jadi nggak bisa mikir sama sekali!"
"Aku nggak mau ketemu setan, Mbak!"
"Aku juga nggak mau kali, amit-amit deh!" ucapku sambol getokin kepala sendiri pakai buku-buku jari.
JEDEERRRRRRRR!!!!
Petir bersahut-sahutan, nambah suasana malam ini semakin mencekam.
"Kenapa kita malah dapet kontrakan yang begini sih, Mbaaak?"
"Ini kontrakan kan yang nyari mas kamu yang gantengnya nggak ada obat itu ya, jadi salahin aja dia, Mon!" ucapku.
Aku nggak mau nyerah, aku nge-chat Ridho lagi.
📱Dho kita diteror setan kontrakan, please kesini SEKARANG JUGA. AKU NGGAK MAU TAU!!!!
Aku dan Mona berdoa, karena bukan suara handle aja yang kedengeran. Tapi si setan juga ngetokin pintu kamar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Kita tutup kuping aja pakai headset. Kita nggak usah ngerewes suara itu!" ucapku ngide banget.
"Eh, iya dimana ya, Mon? lupa aku naronya!"
Situasi dan kondisi udah makin gaduh. Aku nyoba ngehubungin Ridho lagi.
"Halo?" ucap si kangmas.
"D-Dho, Ridho!"
"Iya aku Ridho!" sahut Ridho kayak orang yang baru bangun.
"Dho! cepetan ke kontrakan, a-ada setan, Dho!"
"Setannya disuruh besok aja datengnya lagi, Va! ini udah malem, ujan lagi," ucap Ridho.
"Ini Setan Dho! setan, bukan orang minta sumbangan!" aku gedeg banget, disaat kayak gini kok ya dia nglantur.
"Gimana? gimana? setan?" ucap Ridho, yang kayaknya nyawanya baru ngumpul.
"Iya, nih adek kamu udah gemeteran! udah cepetan kesini nggak pake lama!" ucapku.
"Iya iya, nih aku otewe!"
Dan telpon pun sengaja aku putus.
JEDEEEEERRRRRR!!!!
Petir menyambar lagi. Lampu kamar nyala, terus mati.
"Mbaaakkk!" tangan Mona udah basah keringat.
__ADS_1
"Sabar, Mon! mas mu bakal dateng kesini, kita tunggu aja!" ucapku yang pura-pura tenang, tapi hati jangan ditanya. Udah pengen kabur aja dari tempat ini.
Penantian selama satu jam, itu sebuah penyiksaan buat aku dan Mona. Pintu yang tadinya cuma dimainin handlenya, sekarang udah kayak mau didobrak.
Aku sama Mona pelukan, ngelindungin satu sama lain. Agresif banget ini setannya, kalau pintu rusak aku nggak mau ganti pokoknya.
Braaaaakkkk!
Braaaakkkkk!!
Tiba-tiba jendela kamarku digedor-gedor.
"Reva, Mona! buka pintunya!" ucap Ridho.
"Itu mas Ridho, Mbak!" ucap Mona nglepasin pelukanku dan ngeliat ke arah jendela. Lampu padam lagi, dan hanya ada sinar dari hapeku yang daritadi beralih fungsi jadi senter.
"Jangan dibuka, Mon!" teriakku saat Mona nyamber kunci, turun dari ranjang dan mau ngebuka pintu.
"Mas Ridho udah dateng, Mbak!"
"Barangkali bukan Ridho, Mon!" ucapku yang trauma dengan sosok ghoib yang bisa menyerupai manusia. Aku samperin tuh si Mona.
"Reva, Monaaaaa!" suara Ridho teriak.
Brak!
Brak!
Dia gedorin jendela terus-terusan.
"Mas Ridho udah dateng malah dibiarin Mbak Reva gimana sih?" Mona marah sama aku.
"Kita harus pastiin dulu, Mon. Itu beneram atau jelmaan!" ucapku.
"Aku udah pengalaman masalah kayak ginian, Mon! please jangan ngelawan!" lanjutku.
"Cari taunya gimana?" tanya Mona.
"Kita kasih kuis aja!"
"Ini keadaan darurat, Mbak!" kata Mona nggak setuju.
Ini Mona mudeng nggak sih sebenernya, apa hubungannya kuis sama keadaan darurat. Fix udah mensle nih bocah.
Aku tarik Mona ke arah Jendela.
"Reva, Monaaaa?" Ridho masih manggilin.
"Kamu Ridho beneran atau boongan?" tanyaku.
"Ridho ayang kamu!" sahut Ridho.
Dari jawabannya yang rada-rada aneh sih, kayaknya ini Ridho. Tapi kita tanya yang lebih susah lagi ya.
"Kalau kamu Ridho, kamu pasti tau nama bos kita yang galak!"
"Karan Perkasa! sodara kamu!" jawab Ridho.
"Oke satu pertanyaan lagi!"
"Astaga, ini aku udah basah kuyup! cepetan buka jendelanya!" ucap Ridho
"Bukain cepetan, Mbaak! kasian!" ucap Mona yang udah yakin banget itu abangnya.
"Bentar dulu, Mon! tadi terlalu gampang, kita tanya yang lebih susah lagi!"
"Siapa nama orang yang ngeruqyah mbak Luri waktu kesurupan?" tanyaku.
__ADS_1
"Ehmmm, namanya----" ucap Ridho menggantung.
...----------------...