
"Gimana, Dho?" aku ngomong lirih.
"Sssssshhh!" Ridho mendesis.
Aku yang kepo, tetep ngumpet dibelakang punggungnya. Duh, kalau kayak gini pengennya cepet-cepet dikawinin deh, biar ada yang ngelindungin gitu. Ridho masih fokus aja lirik ke kanan ke kiri.
"Dhoooo? gimana?" ucapku superrrr duper lirih sambil tepokin pundak kanannya
Kangmas malah nunnjukin kepundak satunya, "Lagi, Va. Sebelah sini..." katanya.
"Emangnya aku lagi mijitin? dasar!" aku geplak lagi pundaknya. Lalu dia berbalik dan pegang kedua bahuku.
"Kayaknya kalian harus berhati-hati," kata Ridho serius.
Aku tepis kedua tangannya yang kokoh kayak beton, "Jangan suka becanda, nggak lucu! aku udah mulai santuy nih sama mereka semua!"
"Siapa yang becanda? nggak ada. Aku ini ngomong beneran!"
"Ya udah kalau disini nggak aman, ya mending kita pindah aja," ucapku.
"Jangan! kita nggak tau kan tujuan dia dateng kesini buat apa?" kata Ridho.
"Ngapain tau, kalau kita tiba-tiba dijahatin? gimana?" Aku nggak setuju sama idenya si Ridho.
"Aku ada cara lain, kita nggak boleh biarin mereka atau siapapun di bertindak semaunya!" usul Ridho.
"Maksudnya?"
.
.
.
Ridho beneran otaknya rada geser sodara! Dia mau minta bantuan hantu penunggu rumah, kan edun ya. Jadi si ayangku yang super gemas ini mau kongkalikong sama hantu. Gimana nggak geser coba otaknya?
Barusan Ridho ceritain apa yang dia liat. Jadi yang lewat itu beneran manusia, bukan setan atau sejenisnya. Si kangmas bilang ke Mona tentang idenya buat bikin kapok tuh orang rese.
"Gimana Mon?" Ridho minta pendapat si Mona.
"Masa mau manggil mereka?" Mona celingukan dia, ngusap tengkuknya.
Posisinya sekarang udah lewat maghrib. Kita lagi ngumpul di ruang tivi duduk melingkar.
"Tau nih, Mas kamu ini suka aneh-aneh aja!" aku gelengin kepala ngeliat Ridho.
__ADS_1
"Mbak kan minta pindah aja gitu, takut nya orang ini berbahaya buat kita, Mon!" lanjutku.
"Kali ini aku setuju sama Mbak Reva, Mas. Kenapa kita nggak balik aja sih ke kontrakan yang sebelumnya? disana kan sikonnya aman terkendali, Mas!" Mona keliatan cas banget.
Ridho pegang kepalanya persis kayak orang yang sakit kepala, "Rumah itu udah ada yang nyewa, Mona. Masa kita ngusir mereka? sebagai apa kita, Mon?"
"Lagian tenang aja, kita nggak sendirian. Kita nanti berkolaborasi dengan pak RT dan pemilik rumah ini kalau perlu!" ucap Ridho lirih.
"Aneh-aneh aja kamu, Dho! beneran deh!" aku ngelipet tangan di depan dada, natap ayang dengan sinis.
Dia pikir kita lagi ngadain konser musik, perlu kolaborasi segala. Kolaborasinya bukan sama manusia, ini sama setan. Sungguh membagongkan.
"Kita perlu kasih dia pelajaran matematika atau fisika biar dia ada yang dipikir dan nggak ganggu kalian," kata Ridho.
"Sini kalian ikut aku!" Ridho lalu bangkit dan nyuruh aku dan Mona buat ngikutin dia.
Ridho berhenti di depan jendela, "Nih, liat!"
Ridho nunjukin jendela yang kayaknya lecet kayak mau dicongkel.
"Dah, masuk!"
aku dan Mona digiring buat masuk lagi ke dalem. Kita ngumpul lagi di ruang tengah depan tivi.
Ridho berdecak dan mencubit pipiku gemas, "Biar mereka nggak curiga. Barangkali orang itu ada di sekitar sini!"
"Terus malam ini gimana? aku takut lah, Mas!" ucap Mona yang aku yakin nggak mau ditinggal abangnya.
"Gimana kalau kita minta bantuan pak Karan, Dho. Katanya dia punya rymah yang siap buat ditinggali. Mungkin disana lebih aman," ucapku hati-hati.
"Jadi kamu mau tinggal di rumah bos sombong itu?" tanya Ridho agak nggak bersahabat.
"Bu-bukan kayak gitu, Dho. Kamu jangan salah paham!"
"Kalau kamu mau, nggak apa-apa, Va..." kata Ridho.
"Nggak gitu, aku cuma sekedar usul aja!" kataku.
"Nanti aku nginep disini, jadi kalian ngga usah takut. Aku ngomong dulu sama pak RT dan juga yang punya rumah ini kalau aku dan Mona itu ada hubungan keluarga," kata Ridho.
Sekarang Ridho pergi dulu ke rumah pak RT. Dia minta aku dan Mona tetep di dalam rumah dan kunci semua jendela dan pintu. Sekalian dia mau ambil baju di kosannya, karena besok Ridho kan udah mulai kerja, sedangkan besok aku baru mau medical check up.
"Mbak ada di kamar ya, kalau dengar sesuatu yang aneh kamu telpon aja..." kataku yang beranjak ke kamar.
"Aku juga mau ada yang dikerjain," kata Mona yang ngibrit juga ke kamarnya.
__ADS_1
Aku mikir keras sambil rebahan di kasur. Aoa nggak beresiko kalau aku dan Mona tetap disini. Apalagi kita belum kenal betul tetangga kanan kiri.
Drrrrrt!
Drrrrrt!
"Reva!" suara pak Karan nyamber gendang telinga waktu hape persis di kuping.
"Astaghfirllah! volumenya full banget ya, Pak?" aku protes.
"Kamu bagaimana, sih? kenapa seharian tidak mengabari?" pak Karan mulai ngomel.
Aku mengernyit, "Lah emang ada kewajiban saya buat ngabarin Bapak gitu? suami bukan pacar bukan,"
"Orang suruhan saya mau ke rumah kamu! mau naruh barang-barang!"
"Oh, itu ya..." aku meringis, malu.
Aku gigit bibir bawahku, "Kayaknya itu nggak perlu deh, Pak! Lebih lega nggak ada barang apa-apa," ucapku bohong. Padahal mah aku cuma ngejaga hatinya bang ridho biar nggak terpotek-potek.
"Kamu itu aneh! memangnya kamu mau main sepak bola di dalam rumah? sampai-sampai tidak ada barang apapun?" sindir pak Karan.
Uwow banget sih adek sepupu, bisa tau kalau di rumah nggak ada apa-apaan. Jangan-jangan dia yang punya kontrakan.
"Pokoknya tidak boleh menolak, besok orang-orang saya akan kesana. Tidak ada alasan, mengerti?" ucap pak Karan.
Tuuut tuuuuuut tuuuuuut.
"Astaganaga, kang suka maksa ini mah! dibilang nggak usah tetep aja nggak mau dengerin! alamat perang dunia ke 2 lah sama Ridho," aku tepokin jidatku pusing mikirin dua pria itu.
Belum juga ngomong kalau besok aku ada medical check up di rumah sakit. Belum tentu Mona juga ada di kontrakan, kan hobi dia kelayaban sama Bara.
"Kalau dipikir bisa-bisa aku cepet keriput, kayak terong yang dua hari ditaruh di kranjang belanjaan!" aku peluk guling sambil mijitin kepala.
Nah, pas posisiku miring kayak gini. Adaaaa aja yang mau gangguin. Wahai pak Sarmin, bisa nggak sih kemampuan yang begini ini ditiadakan seutuhnya?
Sungguh aku merindukan diriku yang dulu, yang aman sentosa tanpa ngeliat makhluk-makhluk astral yang menyebalkan.
"Pura-pura tidur aja, biar dia bete!" ucapku dalam batin.
"Jangan mencoba membodohiku!" ucap si gadis penunggu rumah.
"Alaaaamaaaaaakkk, nih hantu susah banget dikadaliiiiiin!!!!" teriak aku dalam hati.
...----------------...
__ADS_1