
Sebelum akhirnya dia bilang, "Oke deh, dasar penakut!" dia save apa yang dia kerjain tadi dan mulai beres-beres.
"Tunggu! ambil tas dulu, Dho..." aku ngeloyor ke kubikel ku dan langsung menyambar tas yang udah stay diatas meja.
Cihuy! dan akhirnya Ridho mau juga diajak pulang. Dan sesuai dengan tebakan aku, ini ada aja yang nyempil ke dalam lift saat aku, Ridho dan beberapa orang karyawan lagi gunain ini kotak besi ajaib. Setannya mulai aktif ya, Bun!
Sesuai anjuran Ridho, aku pura-pura liat kemana gitu biar mereka ngerasa diabaikan. Padahal aku takut banget, kaki aja kayaknya udah gemeter daritadi.
"Dhoooo..." aku manggil setengah berbisik.
"Tau mau ngomong aku ganteng, kan?"
"Bukan itu, combro!" aku sewot.
"Masih inget kan yang aku bilang tadi pagi?" dia bisikin ke telingaku, "Anggap mereka nggak ada!"
"Haiiish nggak segampang itu juga keles! astaga punya temen gini amat!" aku cuma ngebatin.
Dan nggak lama penyiksaan ini berakhir, pintu lift terbuka. Orang-orang jalan keluar, sedangkan hantu perempuan tadi masih ngejogrog di dalam lift sampai pintunya tertutup kembali. Seketika aku lemassss pemirsaaah!
"Astagaaaa, akhirnya ... huuufh!" aku buang nafas dan Ridho cuma nepuk bahu.
"Nah, gincuuu donk!" Ridho niruin iklan ojek daring di tivi. Aku gaplok aja lengannya yang keras itu.
Dia cuma ngekek, dan ngajak aku ke mesin absen.
Dan saat ini di lantai basement, aku sama Ridho masing-masing lagi nyalain motor. Kita udah nggak boncengan lagi, karena ya kaki udah sembuh begitu juga dengan motorku yang udah bisa buat ngantor lagi.
"Langsung pulang, ya? jangan mampir-mampir," kata Ridho yang udah pakai helm dan nangkring di motornya.
"Tapi aku mau beli makan,"
"Nggak usah. Pesen aja atau suruh Mona yang masak," kata Ridho nggak mau dibantah.
Dan tiba-tiba karet nasi dateng sambil ngomel nggak jelas, "Reva! ya ampun dari tadi aku panggilin malah nggak nyaut! nyebelin banget, deh!"
"Manggil? kapan? nggak denger tuh!" aku ngejawab rada jutek, aku matiin mesin motorku.
__ADS_1
"Dari lantai atas, waktu kalian naik lift! aku bilang tunggu dulu, aku juga mau ikut turun! eh malah kamu melongo padahal kamu berdiri di depan tombol lift!" Karla malah ngomel.
"Iya sorry, nggak denger! terus tadi naik lift sendirian?"
"Ho'oh, emang kenapa?" si karet nasi balik nanya. si Ridho masih anteng duduk di motornya yang daritadi mesinnya udah nyala.
"Nggak apa-apa! aku balik duluan, ya?"
"Eh, Dho? besok jadi ke rumahku di kampung?" Karla nengok ke Ridho.
"Jadi, La..."
Karla balik nengok aku yang udah pakai helm dan nyalain mesin motor, "Katanya mau duluan?"
"Iya, ini juga mau pulang kok!" aku ketus.
"Ya udah hati-hati, ya?" Karla melambaikan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya pegang kaca spionnya motornya Ridho.
Aku pun pergi meninggalkan Ridho dan Karla di basement. Aku lihat dari kaca spion, Ridho ngasih helm putih buat Karla. Daaaan si Karla naik ke motornya Ridho. Fix mereka udah rencana mau pulang bareng.
Sampai di kontrakan, aku langsung buka pintu pakai kunci cadangan yang aku bawa. Aku langsung masuk ke kamar, ternyata Mona udah pulang, dia habis shalat magrib.
"Kok nggak panggil Mona buat buka pintu, Mbak?"
"Pakai kunci cadangan, Mon!" aku nunjukin kunci rumah.
"Mandi dulu ya, Mon..." aku ambil anduk dan baju terus masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mengguyur kepalaku dengan air dingin, aku pun udah ngerasa lebih seger. Mona lagi tiduran di tempat tidur sambil nempelin kupingnya sama hape, "Udah nyampe, iya..." dia ngomong di telepon, nggak tau juga sama siapa.
Aku yang udah pakai baju santai dengan anduk masih ngelilit di kepala, langsung keluar kamar. Aku laper dan aku mau masak mie instant goreng jumbo pakai rawit.
Aku langsung buka bungkus mie dan masukin mie ke dalam air yang udah mendidih di dalam panci. Aku masukin tuh cabe rawit, dan biar rasanya makin uwow aku kurangin airnya terus aku tambahin kecap dan saos terus aku aduk-aduk sampai mie berubah warna agak kecoklatan. Dan terakhir tuang ke mangkok dan campurin sama bumbunya.
"Hmmm baunya aja udah enak banget!" aku bawa mangkok dan aku taruh di atas meja makan. Aku ambil air dingin terus duduk di kursi.
Mona dateng, mungkin karena nyium bau mie goreng buatanku yang udah pasti enak.
__ADS_1
"Kok makan mie, Mbak?" dia duduk nggak jauh dari kursi yang aku duduki.
"Udah laper banget, Mon!" jawabku, kemudian menyuapkan mie pedas itu ke dalam mulutku.
"Nggak panas tuh perut Mbak makan cabe segitu banyaknya?" Mona kayak nelen salivanya sendiri liat aku makan.
Aku cuma menggeleng karena mulutku penuh dengan mie yang uwoww enaknya.
Nggak lama ada suara ketukan pintu dari luar. Mona menggeser kursinya, "Aku liat dulu ke depan ya, Mbak!"
"Ya, Mon!" aku jawab singkat padat dan sangat jelas.
Aku masih menikmati mie buatanku, dan aku kayak denger suara laki-laki ngobrol sama Mona di depan. Dan suara itu makin jelas punya siapa setelah orang itu nongol di depan mataku, Ridho.
"Makan apa, Va?" doi nanya tapi aku diemin, nggak mood.
"Minta dong!" Ridho mau nyamber mangkok mie ku tapi dengan cepat aku menghabiskan sisa mie yang ada di mangkok.
"Astaghfirllah pelitnya..." Ridho ngomong sendiri.
"Mbak ini mas Ridho bawain pecel ayam sama martabak telor," kata Mona sambil mengeluarkan apa yang dia sebutkan barusan.
"Perutku menolak telor dan ayam bertemu di lambung dalam satu waktu, Mon!" aku ngomong nggak jelas. Aku yang kepedesan, langsung menyambar air minum sedangkan Ridho cuma melongo mendengar ucapanku yang mungkin terkesan dingin.
"Kamu meriyang?" Ridho menempelkan punggung tangannya di jidatku dan satu tangannya memegang jidatnya sendiri.
Tapi sentuhan itu segera aku tepis, "Apaan, sih!"
Aku bangkit dari kuburan, eh dari kursi terus aku cuci bekas makanku tadi.
"Kamu kenapa sih, Va?" tanya Ridho nyejajarin badannya di sampingku yang lagi ngebilas mangkok dan gelas yang tadi aku pakai.
"Martabak telornya enak banget loh, Mbak! pakai telor bebek 3 biji," kata Mona yang langsung mangap masukin martabak telor ke mulutnya.
"Aku ngantuk, aku ke kamar duluan ya, Mon!" kataku setelah menaruh mangkok dan gelas yang habis dicuci bersih.
...----------------...
__ADS_1