Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pesugihan


__ADS_3

Dan disinilah kita, makan ayam penyet di pinggir jalan. Yang keliatan kesel banget ya si Mona. Ya gimana nggak kesel coba, makanan udah di depan mata, tinggal dilahap doang. Elah dalah si mas Ridho ngajakin pulang. Kan bikin emosi. Ditambah tuh bocah lagi kretek-kretek kan hati dan jiwanya perkara cinta bertepuk sebelah tangan.


"Jangan manyun mulu sih, Mon! ayamnya ntar kabur!" Ridho nyeletuk.


Tapi Mona nggak jawab, dia ambil paha ayam goreng dan ngarahin ke mulutnya. Digigit tuh si ayam goyeng tanpa melepaskan tatapannya dari abangnya yang rese.


"Serem amat makannya, Mon! udah kayak sikopet!" ucap Ridho.


"Udah deh, Dho. Jangan gangguin adek kamu terus napa! dia makannya nggak khusyu itu, lagian kamu itu yang rese. Kalau bukan pacar, udah aku jambak-jambak tuh kepala!" aku belain adik ipar.


"Kalian nggak tau aja sih, aku tuh nyelametin pacar dan adik aku dari bahaya. Bukannya makasih malah marahin!" Ridho masang tampang serius.


"Bahayanya apa, Dho? kita makan disana ayam dan disini juga ayam, dimana letak bahayanya?" aku ngotot, sedangkan Mona nggak peduli. Dia fokus ke makanannya, dia malah nyomotin sambel kita.


"Denger, ya! tadi kamu liat kan ada hewan yang katanya duduk di meja?" Ridho majuin badannya dikit, bisik-bisik supaya pengunjung lain nggak ada yang nguping.


"Iya sekilas, tapi barangkali aja boneka. Kan aku nggak begitu jelas juga liatnya!"


"Itu siluman! bukan hewan beneran, salah satu pengunjung tadi ada niatan nggan baik, dia lagi nyari tumbal. Aku sih ogah jadi sasaran!" ucap Ridho.


"Siluman? tumbal?" aku dan Mona saling pandang.


"Iya, kalau nggak percaya ya udah. Aku cuma jaga-jaga aja, karena yang kayak gitu tuh random gitu nyari mangsanya! lagian, disana auranya nggak baik. Banyak ghoibnya!" kata Ridho.


"Ghoib? mas Ridho kebanyakan nontonin film horor kayaknya!" Mona nggak kuat kalau nggak komen.


"Beneran, Mon! makanya mas kan nyuruh kalian cepetan pergi dari situ. Tempat makannya aja udah nggak beres! mereka pake penglaris, ditambah ada pengunjung yang bawa peliharaannya. Jadi ya, lebih aman makan disini, udah..." ucap Ridho.


Aku dan Mona manggut-manggut. Emang sih, sempet ada hawa yang nggak enak, tapi kan caranya Ridho bar-bar banget tadi. Harusnya kan biarin pelayanannya ngebungkusin tuh pesenan kita, gampang nanti dibuang di jalan kalau iya dia nggak mau kita makan tuh makanan.


"Lagian ya, baru juga dateng duitku ilang seratus ribu, coba! bukan nuduh, tapi aku liat ada yang keliaran!" ungkap Ridho, dia nunjukin dompetnya warna item di depan mata kita.


"Mungkin juga duitnya udah Mas pake tapi Mas udah pikun makanya nggak inget!" kata Mona sambil nyeruput es jeruknya.


"Sembarangan aja kamu, Mon!" Ridho nggak terima kalau dia dibilang pikun.


"Ya lagian Mas itu aneh. Kalau iya nggak mau makan disitu, jangan mencurigakan gitu!" lanjut Mona.

__ADS_1


"Tau, nih!" aku menimpali.


"Tauk nih tauk nih, kalian itu yang ngebantah mulu. Coba kalian nurut? kan nggak bakal aku ngegas!" Ridho menyudahi makannya. Lagian dia emang udah habis banyak.


"Kalian nggak jijik kalau makanan yang kalian makan itu di 'syuuuuurppp' sama makhluk ghoib? kalau aku mah nggak lah, sorry!" Ridho julurin lidahnya kayak mraktekin orang makan eskrim yang pakai stick.


"Diiiiih!" aku bergidig.


"Makanya, mending cari yang lain..." ucap Ridho.


Ngeri juga sih kalau jadi sasaran tumbal. Lagian buat apa sih pada ngilmu kayak gitu, kayak nggak punya tuhan ajah. Mau duit ya berdoa, kerja bukan malah pakai cara-cara mistis dan berakhir numbalin orang.


Setelah makan malam, kita semua pulang dengan perut yang kenyang. Apalagi Mona, dia makan nggak inget daratan, banyak banget. Sampai di kontrakan tuh bocah langsung ngeloyor ke kamar, katanya udah ngantuk. Tinggal aku sama Ridho yang masih duduk lesehan di teras sambil ngeliat langit malam.


"Dho..."


"Hemmm..." Ridho berdehem dan nengok ke aku.


"Kok tadi aku masih bisa ngeliat makhluk halus?" tanyaku penasaran.


"Karena energinya kuat. Nggak apa-apa, lama-lama juga kamu terbiasa dengan hal itu..."


Ridho kalau diliat dari samping kayak gini dia punya rahang tegas dan manly banget.


"Aku? iya, semenjak keluar dari hutan waktu itu, kayaknya aku jadi lebih sensitif. Aku pun nggak tau penyebabnya..."


"Nggak pengen ditutup mata batinnya kayak aku?" ucapku, dia nengok ke aku.


"Buat apa? biarain aja lah, selama mereka nggak ganggu it's okay, Va! asal akunya aja yang jangan ngrewes mereka, karena banyak juga yang ngikutin karena pengen dibantu..." jawab Ridho santai.


"Dibantu apaan?"


"Dibantu nyelesein permasalahan mereka seqaktu di dunia, dan hal itu yang bikin mereka ada ganjalan dan nggak tenang..." kata Ridho, aku ngangguk-ngangguk.


"Pokoknya asal kita ngebatesin dan ngebawa diri, inshaa Allah aman, Va..."


"Iya juga sih. Mau dimana pun yang kayak gitu pasti ada aja, bahkan di tempat yang menurut kita aman..." lanjutku.

__ADS_1


"Oh ya, besok kamu mau ngapain?" tanya Ridho.


"Ya sewajarnya oeang pengangguran ya paling rebahan di rumah, kenapa?" aku balik nanya.


"Nggak apa-apa, cuma pesen jangan klayaban sama pak Karan!"


"Ngapain aku pergi sama pak Karan?" aku mengernyit.


"Ya kali aja. Udah malem, aku balik ke kos ya? jangan lupa kunci semua pintu," Ridho mulai beranjak dari duduknya, aku pun sama.


CUP!


Ridho mendaratkan satu kecupan kecil di jidatku, "Jangan begadang!" ucapnya.


"Eh, emhhh ... iya," aku tersipu.


.


.


Pagi harinya, aku sibuk mencari lowongan kerjaan. Nggak mungkin juga terus-terusan ngandelin duit pesangon yang waktu itu.


Mona nggak kuliah, dia lagi glosoran aja di lantai yang dialasin karpet, ngerjain tugas.


"Tumben ngerjainnya di kontrakan, biasanya kamu kerja kelompok?" aku ngledekin Mona yang tumben-tumbenan lemes dan nggak bertenaga.


"Males ketemu Bara. Hati aku masih cekit-cekit!" kata Mona.


"Prikasain sonoh!"


"akalau ada rumah sakit nanganin orang patah hati begini mah, aku labgsung capcus kesana, Mbak!" ucap Mona.


Udahlah, aku nggak mau gangguin makhkuk yang satu itu. Perkara hati bikin dia males ngapa-ngapain. Biasanya pagi-pagi dia udah masak, udah mandi dan pakai parfum sebotol biar wangi. Nah khusus hari ini nggak ada semua itu, dia bangun tidur cuci muka aja, terus ngadepin toples nyemilin kue sus kering isi coklat.


Lagi enak-enakan leyeh-leyeh, ada telpon dari yang suka maksa.


"Cepat keluar!" ucap pak Karan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2