
Kalau komunikasi dari awal aja udah nggak baik, jangan harap bisa menjalin hubungan yang lancar dan mulus kayak jalan tol.
Liburan dengan badan agak meriyang-meriyang gini juga aslinya nggak guna banget, tapi gimana ya aku butuh refreshing dan rehat bentar.
Hatiku yang seputih salju ini kayak layangan yang seenaknya aja ditarik ulur sama Ridho. Nggak jelas mau gimana mau kemana arahnya.
Abis dari spa, aku sengaja jalan ke tepi pantai. Duduk lesehan di pasir sambil sesekali ombak yang terhempas di hamparan pasir putih yanh menyentuh kakiku yang terbebas dari alas kaki.
"Kesannya kabur-kaburan kayak bocil nggak sih?" aku ngomong sendiri.
"Nggak lah, ya! terkadang kan kita butuh waktu buat diri sendiri," lanjutku.
Aku yang cuma pakai hotpants dan kaos over size mainin pasir pakai tangan. Aku bikin pola-pola nggak jelas di atas pasir yang percuma banget dibuat karena bakal terhapus sama ombak kecil yang datang.
Aku masih termenung ngeliatin langit yang perlahan mulai berubah warna.
"Udah mau maghrib, udah waktunya balik ke kamar!" aku bangkit dan bersihin kaki dan baju dari butiran pasir. Pantai ini masih dalam satu kawasan sama penginapannya, jadi aku cuma perlu jalan kaki aja.
Sampai di kamar, aku ganti baju lagi, dengan baju terusan yang super nyaman. Liburan sendirian ya kayak gini, sepi.
Makan juga cuma di dalam kamar, karena males juga buat keluarLiburan tapi males gerak, mau ke pantai lagi takut masuk angin
Jadi ya udah, glosoran aja di kamar sambil gonta ganti channel.
.
.
Paginya aku disambut matahari yang cerah, ditengah hatiku yang lagi mendung. Buat sarapan aku turun ke bawah, ke restorannya. Pengunjungnya nggak banyak, ya kan ini bukan weekend jadi pantes lumayan agak sepi. Tapi menurutku malah enak kayak gini, liburanku jadi berkualitas banget.
Habis menikmati sarapan sampunya, aku jalan-jalan keluar dengan dress selutut topi pantai dan pouch kecil buat naruh duit sama hape. Sekuat tenaga aku singkirin kata mager, dan nyoba jalan-jalan aja sekitaran sini yang ujungnya ke pantai lagi ke pantai lagi. Emang kalau liburan tapi hati lagi galau itu beda, nggak ada aura-aura cerianya.
Jalan sendirian di bibir pantai kayak orang ilang sambil pegangin topi yang tadi mau diterbangin angin.
"Reva? kamu, Reva kan?" tanya seseorang yang nggak sengaja ketemu aku disini.
"Dilan?" kedua alisku bertaut.
"Aku kira aku salah orang, ternyata bener kamu kakaknya Ravel..."
Mendengar nama adikku disebut, aku pun jadi kepo tentang kebenaran hubungan nih orang sama Ravel.
__ADS_1
Jadi, kita mampir di resto yang deket pantai ini sambil nikmatin es kelapa muda yang suegerr.
"Jadi kamu kesini sendirian?" tanya Dilan.
"Iya, emang kenapa?"
"Nggak kenapa-napa. Aku manggilnya kamu nggak apa-apa kan, apa harus panggil mbak juga?"
"Panggil nama aja, kita seumuran kan?" kataku.
"Okey,"
"Jadi kamu kesini?" ucapku menggantung.
"Urusan kerjaan, kebetulan lagi bangun bisnis sama temen, dan lagi survey tempat yang cocok gitu," jawab Dilan.
"Oh kirain liburan sama si Ravel. Kalau iya, aku marahin dia. Beraninya bolos kuliah!" kataku.
"Nggak kok, dia nggak sebandel yang kamu kira, Reva. Dia lumayan tanggung jawab masalah kuliah, itu yang aku liat sih..." kata Dilan.
"Kamu pacarnya jadi wajar belain," kataku, sekaligus mancing si Dilan ini.
Dilan cuma ketawa tipis, agak beda nih si Dilan hawa-hawanya.
"Ya, itu pun kalau nggak direcokin setan!" ucapku.
"Setan?"
"Canda, jangan terlalu serius lagi..." kataku yang kemudian nyeruput minuman dan ngemilin kentang goreng.
Belum ada hilalnya nih sampai sekarang. Dilan beneran pacaran sama adekku yang somplak itu atau nggak.
"Oh ya, Lan. Aku duluan ya, aku mau ke penginapan. Udah lumayan panas, pengen istirahat..." ucapku, bokis banget. Padahal kan baru jam 11 siang, belum panas-panas banget lah.
"Oke aku anter!" kata Dilan.
Aku anggap cukup gentle lah nih cowok, dia mastiin aku sampai di penginapan dengan selamat.
"Kamu nginep disini?" tanya Dilan.
"Iya...? emang kenapa?"
__ADS_1
"Kebetulan aku juga nginep disini juga. Wah kenapa serba kebetulan kayak gini ya?" ucap Dilan.
Aku lepasin sabuk pengaman, "Mungkin karena mau jadi sodara mungkin ya,"
Tadi kita naik mobil buat ke resto, mobil yang disewa sama Dilan.
Sekarang dia bukain pintu.
"Kamu nggak masuk?" tanyaku saat Dilan kayaknya nggak ada niatan buat ikut masuk ke penginapan.
"Sebenernya aku masih ada janji ketemu sama orang, Reva. Jadi ini aku mau langsung keluar..."
"Oh ya, aku boleh minta nomor hape kamu?" tanya Dilan.
"Nggak sekalian nomor rekening listrik?" selorohku.
"Boleh, boleh, ntar aku bayarin listriknya kakak ipar..." Dilan becanda.
Ya udah kita tukeran nomor hape. Yang jelas yang aku kasih ya nomor baru, karena kan no hapeku yang lama aku matiin, percuma kalau dia nelpon ke nomor yang itu.
Badanku kayak berat banget, nggak tau kenapa. Perasaan kemarin udah spa, lukuran segala macem. Tapi kenapa rasanya tetep nggak enak.
"Apa aku butuh pijet lagi ya?" aku yang baru masuk kamar langsung rebahan.
Mungkin tadi aku kebanyakan mikir, makanya otot-otot dan syarafku jadi tegang semua. Ketemu Dilan, malah bikin aku kepo sama apa yang terjadi dan apa yang mereka rencanakan, Ravel dan mama maksudnya.
"Bodo amatlah, aku mau healing malah jadi pusing!"
Tapi aku jalan lama kelamaan kayak orang sempoyongan pas mau ke kamar mandi, "Kok aku jadi kayak orang meriyang gini ya?"
"Nggak mungkin karena tabrakan congor sama si Ridho beberapa hari yang lalu kan?" aku mendadak inget kejadian itu, buru-buru aku gelengin kepala biar bayangannya ilang.
"Nggak, nggak! ini pasti karena aku yang belum fit tapi aku paksain buat pergi,"
Aku yang tadinya mau ke kamar mandi, akhirnya nggak jadi. Aku tiduran aja, tapi badan tuh lemes dan pada sakit.
"Aku cuma butuh istirahat. Iya, butuh istirahat" Baru juga mau merem, bayangan Rimar sama Ridho pas di rumah sakit muter aja diotak termasuk sikap cuek Ridho yang bikin aku jadi ragu.
"Waktu itu kamu yang ngilang, sekarang giliran aku..."
Aku lanjut merem, mencoba buat ngilangin hal-hal yang jadi beban pikiran. Dan semakin mencoba, bukannya berhasil malah semakin membayang-bayangi. Apalagi waktu Ridho bilang ke Rimar buat mensiunin heelsnya, karena sering bikin jatuh.
__ADS_1
Fix dari situ ketauan kalau Ridho sering nolongin si syemok itu. Dan nggak menutup kemungkinan, mereka bisa jadi deket dan....
"Au ah gelap!" aku noyor jidatku sendiri.