
"Jangan treak! berisik, suamiku bisa bangun!" aku angkat telunjuk dan memperingatkan nih makhluk.
Aku tutup pintu balkon, supaya Ridho nggak denger apa yang aku bicarain sama nih wanita keras kepala, "Jadi, mau kamu apa sebenernya? langsung ke intinya aja, nggak usah mutar-muter. Apa yang kamu inginkan?"
Aku nggak mau bertele-tele lagi, "Tadi kamu nyebut nama Dilan. Emangnya ada hubungan apa kamu sama Dilan, hem?"
"Dia berhutang sama aku,"
"Berapa? sini aku bayarin! utangnya berapa sih, sampai kamu yang udah metong ngejar-ngejar kayak gini," ucapku.
"Dia bukan hutang uang, tapi janji!" kata wanita yang belum aku tau siapa namanya.
"Ulurkan jarimu, aku akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi," kata makhkuk tadi. Aku menatapnya penuh selidik.
"Nggak ah, aku nggak mau! kamu tinggal cerita aja, nggak usah koneksi-koneksi kayak gitu," aku menolak.
"Hahahahah, kamu begitu takut? seperti Dilan saja, yang ketakutan sampai dia sakit dan menggagalkan acara pernikahannya sendiri," wanita yang tadinya menangis, sekarang tertawa. Nggak ngerti lagi aku sama yang beginian.
"Oh, jadi si Dilan gagal ngucap ijab ada hubungannya sama kamu?! nggak bisa dibiarin," aku mulai gemas dengan wanita ini.
"Aku jamin, pagi ini pun akan sama seperti kemarin. Dia tidak akan bisa menikahi adikmu, aku akan pastikan itu!" dia balik ngancem.
"Dasar bahlul! awas aja kamu macem-macem, aku kruwes-kruwes nanti!"
"Ulurkan jari telunjukmu!" dia melirikku dengan tatapan tajam.
"Astaga, kalau bukan demi si Ravel. Aku nggak akan mau berkomunikasi dengan makhluk kayak gini!" batinku
Dan ketika aku mau menjulurkan telunjukku, aku merasa ada pergerakan dari belakangku. Ternyata Ridho bangun dengan sudah berpiyama lengkap, dia nyalain lampu.
"Revaaaaa?!!!!" dia spontan teriak saat ngeliat aku berdiri berhadapan dengan makhluk ini.
Aku yang nengok ke Ridho jadi nggak fokus dan kesempatan ini dimanfaatkan dia buat mengkoneksikan kedua jari telunjukku dan telunjuknya.
__ADS_1
Seketika, aku yang tadinya berada di balkon rumah seakan melayang ke sebuah tempat mirip rumah sakit. Aku nggak tau ini tepatnya di rumah sakit mana dan taun berapa, yang jelas ada satu laki-laki yang berjalan di depanku. Dia Dilan.
"Laaaan!" aku mencoba manggil, tapi si Dilan kayaknya nggak denger. Dia jalan aja lurus nyusurin lorong-lorong rumah sakit. Aku yang nggak mau sendirian pun akhirnya ngikutin kemana Dilan pergi.
Ternyata dia berhenti di depan sebuah ruangan perawatan, Dilan masuk ke dalam. Disana ada sepasang suami istri yang kayaknya lagi nungguin anaknya yang terbaring lemah.
"Akhirnya kamu datang juga, Dilan!" ucap wanita paruh baya.
"Iya tante, gimana keadaan Freya?"
"Masih sama, Nak! mungkin jika ada kamu disini, dia akan membaik..." ucap si ibuk dari wanita yang namanya Freya itu.
"Dia kan---" aku teringat wajah si gadis yang tertidur ini sangat mirip dengan wanita berkebaya putih.
"Nak, tante mau minta tolong..." ucap si ibuk yang melihat sekilas pada suaminya.
"Apa itu, Tante?"
"Tolong, katakan sama Freya kalau kamu akan menikahi dia. Tolong tante, memanggil Freya lagi supaya jangan terlalu lama di dunianya sendiri..."
"Tolonglah kami, Nak..." ucap si ibuk yang mau berlutut di depan Dilan.
"Jangan seperti ini, Tante..." Dilan menahan tubuh si ibuk tadi.
"Dia sangat mencintai kamu, Dilan!"
"Saya tau, tapi kami hanya sebatas teman semasa kecil, Tante..." sahut Dilan.
"Lalu kamu akan membiarkan dia seperti ini, tolong Dilan. Mungkin jika kamu bilang akan menikahinya, dia akan bangun dan kembali berada di tengah-tengah kita..." ucap si ibuk yang keras kepala.
"Aiiih mekso banget sih!" batinku yang gemes menyaksikan adegan ini.
"Baik, saya akan melakukan itu. Ini hanya karena saya menganggap Freya teman..."
__ADS_1
"Terima kasih, Nak!"
Dilan duduk di samping wanita itu, "Fre ... bangun, Fre! Apa kamu nggak capek tidur terus seharian? Bukannya kamu mencintaiku, Fre? bangunlah, dan kita menikah..." ucap Dilan yang keliatan banget setengah hati.
Jari tangan Freya bergerak, dia seperti merespon apa yang Dilan katakan.
"Lihat, Pak? Freya," ucap si ibuk yang kemudian meminta suaminya untuk cepat memanggil tim dokter.
Aku ngeliat dokter dan perawat sibuk meriksa si Freya itu. Sedangkan Dilan disuruh keluar. Dan dari kilasan cerita itu, ibunya Freya meminta Dilan untuk berpura-pura menikahi putri mereka. Dia beranggapan kalau Freya akan bangun. Dilan semakin merasa kalau apa yang diminta ibunya Freya terlalu berlebihan.
"Nggak bisa, Tan! itu nggak mungkin," kata Dilan.
"Tolong tante, Dilan. Paling tidak Freya bisa memakai baju pengantin. Hanya itu saja, Dilan..."
Aku yang nonton aja gemes banget. Lagi-lagi Dilan yang emang orangnya nggak tegaan akhirnya mau-mau aja. Dan si ibunya Freya ini ternyata membawa Dilan ke butiknya madam Anna. Disitu aku ngefreeze sejenak.
Ibunya Freya minta kalau madam Anna bikinin Freya kebaya putih yang simpel, dan madam Anna langsung bikinin sketsanya. Tapi beberapa hari kemudian keadaan Freya semakin drop. Nggak tau kenapa, ya mungkin udah takdir kali ya. Akhirnya dengan sangat menyesal, Freya sudah menghadap Tuhannya. Namun, kebaya pengantin yang sudah dipesan ternyata jadi dengan waktu yang singkat.
Ibunya Freya memakaikan kebaya itu sebentar, dan memotret putrinya. Dilan yang memang nggak ada perasaan apa-apa dengan Freya pun ternyata menjalin hubungan dengan adekku, Ravel. Nggak lama setelah Freya udah gone.
Aku diajak terbang lagi, ternyata ini hari dimana Ravel dan Dilan mau bikin baju pengantin. Ravel melihat-lihat sketsa kebaya, dan dia menemukan satu sketsa yang begitu menarik perhatiannya.
"Madam, aku pengen dibikinin kebaya yang kayak gini," kata Ravel.
"Tapi sketsa ini milik oranglain," kata Madam.
Dilan yang waktu itu lagi telfon-telfonan nggak begitu jelas ngedengerin pembicaraan antara Ravel dan juga Madam Anna. Tapi tanpa mereka ketahui, arwah Freya ternyata selalu mengikuti kemana pun Dilan pergi.
"Aku akan bayar lebih, Madam. Asalkan sketsa ini bisa jadi punyaku," kata Ravel yang mengiming-imingin madam Anna dengan sejumlah uang. Madam Anna yang mata duitan pun segera mengiyakan, dan membuatkan Ravel kebaya yang sama persis dengan milik Freya.
Aku bisa ngeliat kemarahan dimata Freya, ketika kebaya pengantinnya ternyata dipakai oleh Ravel. Dilan yang kayaknya nggak bisa ngeliat makhluk halus, nggak nyadar kalau selama ini dia dikuntit terus sama Freya.
Dan malam sebelum acara pernikahan itu, Freya sengaja menghantui Dilan, "Seharusnya aku yang menjadi pengantinmu! kau ingkar janji, Dilaan!" Freya menumpahkan kekesalannya.
__ADS_1
"Aku yang menjadi pengantinmu, Dilan?! bukan wanita itu ataupun wanita lain?!" ucap Freya yang sengaja mengganggu Dilan.
"Freya?" wajah Dilan pucat.