
1 bulan Kemudian.
Nggak tau adek aku yang ngebet nikah muda atau emang emaknya si Dilan yang emang udah mekso-mekso mulu tiap hari perkara udah pengen banget nimang cucu biar bisa dipamerin ke temen-temennya. Persiapan pernikahan mereka bisa secepat kilat bahkan maju dari tanggal yang udah ditentuin.
Aku aja belum sempet dibawa Ridho ke kampung halamannya buat dikenalin sama calon mertua karena kerjaan aku dan Ridho yang lagi padet-padetnya. Lah, ini si Ravel malah gerakannya licin banget kek belut, tau-tau udah menghitung hari ajah acara kawinannya.
Jangan ditanya, di rumah sibuknya kayak apa. Aku dipaksa buat pulang kalau nggak mau dicoret dari daftar kartu keluarga yang sebentar lagi cuma menyisakan nama aku dan juga mama. Karena si Ravel kan otomatis ngikut si Dilandamusibah itu.
"Revaaaa, tolong itu vas bunga yang ada di depan pindahin kesini," perintah mama.
"Ya ampun, Mah! aku udah mindahin itu vas lebih dari 2 kali loh, sekarang mau ditaruh dimana lagi coba?" aku ngenes. Daritadi mama nyuruh bolak-balik hal yang sama, mindahin vas dengan rangkaian bunga yang baunya udah ngalah-ngalahin lobby hotel ternama, buat di taruh lagi di ruang tengah.
"Iya soalnya tadi mama pesen bunga yang lebih gede lagi buat ditaruh di depan, Va! udah nurut aja sih kalau disuruh orangtua!" mama ngomel.
Gini amat nasib yang mau dilangkah, disuruh-suruh bae. Sampe pegel nih betis, mondar mandir mulu kayak setrikaan.
Sedangkan si Ravel lagi enak-enakan dimanjain ama kang salon tuh di halaman belakang, deket kolam renang. Rumah mama emang aku rombak, renovasi abis-abisan. Ya itung-itung nyenengin hati orangtua.
Pokoknya ini bangunan udah aku sulap jadi dua lantai dengan taman depan dan belakang yang sesuai selera mama. Pada dasarnya, rumah aku itu ya tanahnya lumayan luas, tapi kebetulan tetangga ada yang mau pindah ke luar pulau. Dan butuh duit buat bertahan hidup buat ditempat yang baru, jadi aku beli lah rumah itu buat memperbesar rumah yang ditinggali mama.
Meskipun ada kolam renang di rumah, tapi percayalah. Itu kolam masih perawan sampe sekarang. Nggak ada yang bisa renang soalnya, baik aku, Ravel ataupun mama. Terus dibikin buat apa? Jawabannya buat gaya-gayaan doang.
Biasalah mama suka ngajak temennya nongki disitu sambil haha hihi ngopi-ngopi sama gelar arisan. Karena aku dan Ravel masing-masing beda kota, alhasil rumah sepi. Dan cuma ada mama dan mbak-mbak yang emang aku suruh buat bebersih rumah sekalian nemenin mama.
"Yeeeeuuuuh, enakkkk banget yang lagi di meni pediiii" aku nyamperin Ravel sambil berkacak pinggang.
"Iya dong, calon penganten kan harus kinclong!" ucap Ravel yang lagi dimaskerin juga. Kamfret emang.
"Revaaaaaaa.....?!! kok belum dipindahiiin siiih?" mama tereakan.
"Iyaaaa, Maaaaaaaahhh. Sebentaaaaaarrr, lagi ambil minum duluuuuu!" ucapku.
"Noh, dipanggil mama. Sana Mbak, cepetan!" Ravel ambil jus mangga yang seger banget mau dia seruput.
Tapi sebelum hal itu terjadi, aku buruan nyamber gelas yang dipegang Ravel.
Gleeekk!
Gleeekk!
__ADS_1
"Aaaaaaaahhh, segernyaaaaah!" ucapku ngembaliin gelas yang udah kosong ke tangan adek laknat.
"Mbaaaaak Reeevaaaaaaa!" Ravel treakan.
"Aduuub aduh, masker aku retak!" lanjut Ravel
Sedangkan aku udah ngibrit ke depan, mau menunaikan perintah sang penguasa rumah ini.
"Kamu apain adek kamy, Revaa?" tanya mama yang kebetulan lewat.
"Nggak aku apa-apain, Mah!"
"Mbaak, ini tolong taruh di belakang!" ucap mama sama mbak Rosma, ngasihin keresek nggam tau isinya apaan.
Sedangkan aku lanjut mau ambil vas bunga yang udah digeser entah berapa kali. Dan pas si vas mau aku angkat, tiba-tiba ada tangan yang bersentuhan dengan tanganku. Aku pun meglengin kepala buat ngeliat siapa nih orang, yang wajahnya kehalang rangkaian bunga yang super wangi.
Dia pun ngelakuin hal yang sama dengan yang aku lakuin, "Ridho? kamu? disini?" mataku refleks membulat melihat sosok pria yang katanya mau ngenalin aku ke ibunya, tapi sampai sekarang belum direalisasikan.
"Mau dibawa kemana? biar aku angkatin," kata Ridho.
"Emh, di-disana..." ucapku cengo sambil nunjuk ruang tengah yang didominasi warna krem.
"Dimana?"
"Di meja itu!" ucapku nunjuk sebuah meja marmer.
Lagi-lagi dia tersenyum, kenapa nih orang kayaknya beda banget dari biasanya. Ridho dengan setelan jas semi formalnya meletakkan vas bunga dengan hati-hati. Ya lah, kalau pecah bisa merong-merong itu mama.
"Ada lagi yang mau dipindah?" tanya Ridho menghampiriku.
"Nggak ada..." ucapku yang nggak bisa lepas dari wajah ganteng Ridho.
"Ada tamu siapa, Vaa?" tanya mama yang muncul dari arah belakang.
Sontak aku dan Ridho menoleh.
"Ada ... Ridho, Mah..." ucapku.
"Selamat siang, Tante..." sapa Ridho.
__ADS_1
Tapi nggak seperti biasanya, raut wajah mama nampaknya datar. Nggak ada senyuman ataupun kesan ramah seperti biasanya.
Aku juga kaget sih, karena nggak biasanya mama kayak gini. Mama tuh nggak bisa judes sama oranglain, kecuali ama anak-anaknya kalau lagi bandel udah pasti itu suara melengking sampai ujung gang sana.
"Maaaah, mbak Revaaa ngabisin jus aku....?!!" Ravel yang juga tiba-tiba dateng memecahkan situasi krik-krik ini.
"Maaaaah...?! upssss!" Ravel tutup mulutnya. mukanya udah bersih dari masker.
"Kamu bikin lagi kan bisa, Ravel!" ucap mama dingin.
"Emnhh, i-iya, Maaaah..." Ravel buruan kabur. Kayaknya ada hal yang mencurigakan ini dari gerak-gerik adekku itu.
"Mbak, Mbak Rosmaaaa..." sayup-sayup Ravel manggil mbak Rosma yang lagi di dapur.
Sedangkan kita berdua lagi ditatap sama mama disini, di ruang tengah. Ridho kayak lagi disidang sama dosen killer.
"Ada perlu apa kamu datang kesini?" tanya mama.
"Maaaah..." aku yang duduk disamping mama, mengelus lengan mamaku. Supaya sikapnya jangan judes-judes.
"Kamu diem dulu, Reva. Mama kan perlu tau ada apa dia datang kesini," ucap mama ke aku.
"Emh, maaf mengganggu, Tante. Saya dengar, Ravel mau menikah..."
"Tapi kami nggak ada yang ngundang kamu," ucap Mama.
Sumpeh demi apa, mama bisa bersikap dingin kayak gini sama orang. Sama temen yang ngutang dan nggak bayar-bayar aja mama tetep ramah dan baik loh.
"Reva, masuk ke dalam!" ucap mama nunjuk ke arah lantai atas dengan dagunya.
"Tapi, Mah. Ridho kesini kan mau--"
"Kamu nurut kata Mama, Reva! sekarang kamu naik ke atas, mama perlu bicara empat mata sama laki-laki ini!" kata mama nggam mau dibantah.
Mataku beralih pada Ridho, dia ngangguk sebagai kode kalau aku nurutin aja apa yang mama bilang tadi.
"Cepetan, Revaaa!" kata mama.
Aku pun bangkit dan berjalan menuju kamarku di lantai atas, meninggalkan Ridho dan mama yang duduk berhadap-hadapan.
__ADS_1