Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Mencurigakan


__ADS_3

Kita nggak langsung pulang, tapi mampir ke toko elektronik.


"Mau beli apaan si?"


"Kompor!" jawab Ridho yang ngegandeng tanganku di salah satu mall.


Aku jalan lumayan agak susah karena bener kata Ridho ini rok kebangetan ketatnya dan sepatu yang haknya ketinggian, "Apa nggak nanti aja belinya?"


"Sekarang aja, mumpung kita lagi jalan bareng..." ucap kangmasku.


Kangmas Ridho nengok ke aku, "Kenapa? susah kan jalannya?"


"Ntar kita beli sendal jepit," dia nunjuk ke salah satu stand persendalan.


OMG apa kata dunia, kita pakai baju kantoran bawahnya sendal jepit. Kadang Ridho kalau ngide suka kebangetan deh.


"Nggak usah, Dho..." aku ngomong deket telinganya.


Dia gelengin kepala, "ntar kaki kamu lecet. Ini kita mau tawaf di mall ini loh!"


Laki-laki ini mekso banget suwer deh, dia tetep beliin aku sendal jepit dan sepatuku dia masukin ke kantong kresek, "Aneh banget nih aku..."


"Aneh gimana? nggak lah, biasa aja! ngapain enak diliat tapi malah bikin kamu tersiksa!" kata Kangmas.


Debat ama ini orang mah nggak bakalan selesai. Diiyain aja udah lah, capek juga ini mulut ngomong mulu.


"Kompor yang ini apa yang itu, Va?" Ridho nunjuk dua jenis kompor yang menurutku mana aja boleh lah.


Aku memilah mana yang kira-kira harganya pas di kantong, "Yang item aja tuh!"


"Oke yang item ya," Ridho mastiin untuk yang kedua kalinya.


Udah dapet nota kompor, sekarang kita milih wajan dan peralatan lainnya, "Dho, kita pakai motor loh! bawanya gimana ini?"


"Kamu nanti naik taksi online, ntar aku ngikutin dari belakang..." ucap Ridho, tapi sejenak Ridho ngeliat penampilanku lalu dia pijit-pijit pelipisnya sendiri.


"Kompornya nanti aja deh, aku yang beli sama Bara. Ini kita beli apa yang bisa di cangkolin di motor aja!" kata Ridho.


"Lain kali jnagan pakai pakaian kayak begini," tegur Ridho.


"Iya iya..."


Kita pulang hanya dengan membawa beberapa peralatan rumah tangga yang minimalis. Kayak wajan sama temen-temennya.


Setelah perjalanan lumayan lama akhirnya kita sampai juga di kontrakan. Perut untung udah diisi pas lagi di mall tadi, karena kalau di kontrakan kan nggak ada apa-apa.


"Mona ngampus nggak ya?" aku bergumam sendiri.

__ADS_1


"Kamu bawa kunci cadangan kan?" Ridho mastiin.


"Bawa sih..."


"Ya udah cepet buka pintunya," kata Ridho.


Ceklek!


Setelah memutar kunci, akubtarik handle pintu.


"Assalamualaikum," Ridho ngucapin salam padahal nggak ada siapa-siapa. Kayaknya Mona nggak ada di rumah.


"Aku taruh di dalem aja ya," lanjut Ridho nyelonong masuk aja.


Aku nyusulin kangmas dengan buarin pintu ngebuka gitu aja, "Dho, nanti jangan pulang dulu!"


"Kenapa emangnya?" Dia naruh belanjaan kita di ruang tivi.


"Ya nggak apa-apa, bete aja sendirian di rumah. Apalagi adek kamu kalau pulang nggak tentu jamnya,"


Ridho ngeliatin jam tangan di tangan kanannya, "Tapi ini ydah jam 4 sore loh, Va..."


"Ya terus kenapa? biasanya juga kamu sering nemenin aku kan?" aku maksa.


"Ya iya sih. Tapi kosan aku jauh dari sini," kata Ridho.


"


Ridho naikin satu alisnya dan ngerogoh kantkng belanjaan yang ada di deketnya, "Jadi kamu takut sama salah satu penunggu di rumah ini? kalau dia ganggu mulu nih tempeleng aja pakai wajan, Va!" Ridho nunjukin teflon warna merah.


"Emang dia maling bisa ditempeleng? yang ada aku kayak mukul angin kali, nggak bakal kena!"


Ridho malah ngekek dan ngembaliin tuh wajan ke kantong semula, "Ya udah iya iya, sana mandi aku tungguin di luar ya,"


"Jangan diluar, sini duduk aja sambil nonton tivi!" kataku.


"Ya udah sana cepetan!" Risho ngibasin tangannya.


Mendapat kesempatan ditungguin pun nggak aku lewatin sia-sia. Nggak mungkin Ridho kayak Mona yang disuruh tungguin malah kabur telpon-telponan sama si mas crush-nya.


Bukannya takut, tapi males kalau digangguin mulu. Capek dan bosen lebih tepatnya. Kalau ada Ridho kan tuh syaithon pada ngabur, kalau pun nongol juga pasti diusir lah sama Ridho.


Aku ketemu air dengan tenang, nggak ada rasa was-was ataupun yang aneh-aneh. Aku juga nggak manggilin Ridho, aku percaya aja udah dia nggak bakalan pergi.


Kelar mandi aku keluar dari toilet dengan baju santai, dan handuk yang aku pakai buat gosokin rambut.


Pas aku liat ke ruang tivi, Ridho lagi tidur. Mungkin dia kecapean. Aku pandangi wajahnya yang imut dan ngegemesin kalau lagi kayak begini, aku jadi senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Kasian dia ngeringkuk tanpa bantal aku inisiatif masuk ke kamar buat ambil selimut dan bantal.


Aku angkat kepalanya perlahan dan nggak lupa buat nyelimutin dia juga. Tapi nggak sengaja ekor matalu menangkap sebuah bayangan dari jendela luar. Kayak ada orang lewat gitu.


Sreeeeeek!


Otomatis aku menoleh, aku pastiin sekarang belum ada jam 5. Jadi nggak mungkin setan yang keluyuran.


"Siapa sih?" gumamku. Aku berjalan mengendap buat nyibak tirai dikit dari jendela yang ada di ruang tivi yang mengarah ke luar.


"Tapi tadi perasaan ada yang lewat?" keningku berkerut, mataku masih mencari-cari sosok yang nggak sengaja keliatan dari celah jendela yang nggak tertutup tirai.


"Ngintipin apa, Mbaaak?" tanya Mona dari arah belakangku.


Aku yang kaget langsung puterin badan, "Astaga, Mona! kamu bikin aku kaget tau, nggak?" aku ngelus dada sendiri.


"Lagian, Mbak ada-ada aja jongkok disitu, sambil intip-intip keluar lagi. Terus pintu depan dibiarin kebuka kayak gitu..." kata Mona.


"Ssshhh, jangan kenceng-kenceng, Mon. Mas mu lagi tidur noh!" kataku nunjuk Ridho yang lagi bobo ganteng.


Mona berjalan ke ruang depan, dia nutup pintu kayaknya.


"Kok mas Ridho?" tanya Mona nunjuk masnya dengan dagunya.


"Kecapean kayaknya," jawabku.


"Ya udah, aku ke kamar dulu ya, Mbak!" ucap Mona.


Baru juga Mona masuk ke kamarnya, Ridho yang tadinya merem, sekarang perlahan kebuka.


"Va..." panggil Ridho dengan suara serak-serak beceknya.


"Kok bangun?" aku mendekat ke Ridho yang kini duduk bersila kayak orang mau wiridan.


"Aku ketiduran ya?" dia ngusap keningnya.


"Iya tadi, kecapean mungkin. Makanya kamu sampe ngeliyep katak tadi," ucapku.


"Dho," aku bisik-bisik.


"Kenapa? ada apa?"


"Kayaknya daritadi ada yang mondar-mandir di samping rumah ini," ucapku nunjuk ke jendela samping.


"Jurig apa manusia?" tanya Ridho.


"Ya nggak tau lah! yang jelas ini juga belum magrib, shift nya para setan kan belum mulai..." kataku sotoy.

__ADS_1


Ridho langsung bangkit dan bergerak ke arah jendela. Sedangkan aku ngekor di belakangnya.


__ADS_2