Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pondok Mertua Indah


__ADS_3

"Bu ... tunggu," aku bangkit dan nyusulin ibu mertua. Takut dibilang mantu durjana, masa iya nggak bantuin sama sekali.


"Nak Reva temani Ridho saja di ruang tamu, kamu juga pasti capek habis perjalanan jauh. Biar ibu yang siapkan kamarnya," kata ibu yang ngebuka salah satu kamar. Disinyalir ini kamar Ridho, soalnya barang-barangnya cowok banget.


"Nggak apa-apa, Bu. Saya nggak capek sama sekali," ucapku bohong. Padahal mah badan rasanya udah nggak karuan, tapi demi citra baik menjadi seorang menantu apa boleh buat. Kita kerjain aja, walaupun badan remek rasanya.


"Biasanya ada Mbok Surti, tapi dia lagi libur. Lagi nengokin anaknya yang habis melahirkan di luar kota," ucap ibu yang lagi gantiin sprei. Aku ikutan juga tarik sana sini biar cepet selese.


"Sebenernya kamar ini selalu dibersihkan, tapi kayaknya kurang sreg ya kalau nggak diganti lagi," ucap ibu lagi.


"Ridho, emm maksudnya, Mas Ridho sering pulang kesini, Bu?" tanyaku basa-basi.


"Hah, anak itu mana ingat kampung halaman. Dia sibuk terus, paling juga setahun sekali pulangnya,"


"Tapi ibu tau dia nggak pulang karena kerja terus, ibu sempet khawatir Ridho belok kanan kiri. Soalnya setiap ditanya kapan nikah pasti ngeles terus. Hemmmph, kasian anak itu. Dia harus banting tulang buat menghidupi ibu dan adiknya," ucap ibu sendu, aku jadi ngerti gimana perjuangan Ridho buat ke tahap ini. Ibu ngajak aku duduk di pinggir ranjang yang udah rapi.


"Pesen ibu cuma satu, Nak. Kalau Ridho aneh-aneh, kamu tinggal lapor sama ibu. Nanti ibu jewer anak itu," ucap ibu. Aku cuma melongo, aku kira ibu bakal titip pesen supaya aku jadi istri yang baik apa gimana gitu.


"I-iya, Bu..." jawabku.


"Semoga kalian selalu rukun, dan jangan menyimpan kebohongan secuil apa pun. Karena api yang besar, berawal dari api yang kecil tapi dibiarkan..." ucap Ibu.


"Iya, Bu. Inshaa Allah, Reva akan ingat itu..."


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Nanti ibu panggil Ridho buat nemenin kamu disini," ucap Ibu.


"Ng-nggak usah, Bu. Biar dia disana dulu," kataku cepat.


"Loh memangnya kenapa?" tanya ibu penuh arti.


"Ng-nggak apa-apa, Bu..."


"Ya sudah, ibu keluar dulu..." ucap Ibu yang membelai rambutku sekilas sebelum pergi.


"Hadeeuuh, kalau anaknya disuruh kesini yang ada aku nggak bisa istirahat," gumamku yang bergidig mengingat pertarungan sengit antara dua perguruan.


Baru juga rebahan, Ridho datang dengan membawa tas dan koperku.

__ADS_1


"Loh kenapa kesini?" aku yang udah pewe bangun lagi.


"Lah emang kenapa? kan kamarnya udah di beresin, kakiku pegel pengen rebahan..." ucap Ridho dengan segera ngelempar badan. Untung aku menghindar, bisa jadi ayam geprek yang ada.


"Katanya besok malam, Ibu mau bikin acara syukuran. Supaya nggak ada fitnah karena aku pulang bawa wanita. Lagian biar pada tau kalau aku udah sold out," ucap Ridho yang kemudian nyuruh aku rebahan di sampingnya.


"Dih sok kecakepan banget!" aku nyinyir.


"Woya jelas! sodara-sodara kamu aja pada ngakuin kok," ucap Ridho pede.


"Ac nya terlalu dingin apa nggak?" tanya Ridho yang mulai meluk dari belakang.


"Nggak sih, aku malah gerah. Gerah banget tau, nggak?" aku mencoba menjarak.


"Jangan ugat-uget, Va. Diem..." ucap Ridho.


"Kita pulangnya selesai acara ya," lanjutnya.


"Iya, aku sih bebas mau pulang kapan aja. Kerjaan ada Arlin yang handle. Cuma kamu yang gimana, emang kamu udah bilang pak Bagas?" tanyaku.


Nggak ada jawaban.


Aku juga sebenernya sejak di mobil pengen tidur, tapi berhubung grogi mau ketemu mertua, jadi aku paksain melek. Dan ngeliat Ridho yang tidur pules banget dalam hitungan detik, aku pun jadi ikutan ngantuk dan mulai meremin mata.


.


.


.


Suami minim akhlak emang si Ridho. Dia biarin aku tidur sampai ngelewatin maghrib, hancur sudah citra yang sudah aku bangun dengan susah payah. Pasti ibu mikirnya aku istri males, ya emang bener sih tapi kan nggak usah diperjelas kayak gini dong.


"Udah dong, Sayang. Jangan ngambek, udah aku bangunin dari jam 4 sore, tapi kamunya nggak bangun-bangun. San itu pasti karena kamu kecapean banget," ucap Ridho yang nyerocos.


"Ini pasti ibu mikirnya aku mantu yang males, Ridhooo," aku kesel banget udah nggak pakai 'mas' lagi.


"Nggak, ibu aku nggak bakalan mikir kayak gitu. Beneran deh," ucap Ridho ngeyakinin.

__ADS_1


"Tau, akh?!" aku ngambek.


"Airnya udah aku siapin di kanar mandi, kamu tinggal nyemplung cipak-cipak, terus kita makan. Ibu udah masak makanan yang enak," kata Ridho.


Aku gelengin kepala, sambil ngelipet tangan di depan dada.


"Kalau nggak mau ke kamar mandi sendiri, aku gendong paksa nih," kata Ridho yang ancang-ancang mau ngegendong aku.


Aku yang tau arah pikiran Ridho, milih pergi ke kamar mandi sendiri dan kunci pintu biar dia nggak bisa sembarangan masuk.


"Huuufhhh, dasar suami lucnut!" ucapku yang dongkol banget.


Kamarnya sebenernya nggak gede-gede amat, tapi kamar mandinya ada bathtube-nya jadi mayan ini bisa rendem air anget. Dalam pikiranku, Ridho pasti kerja keras banget buat bikinin rumah yang nyaman buat ibunya. Dia aja bisa sesayang itu sama ibu, pasti dia juga bisa jadi suami dan ayah yang baik buat keluarga kecil kita. Aku ngebayangin aku dan Ridho dan anak-anak kita nanti.


"Hadeuuh, mikirnya apaan sih?" ucapku yang menyudahi acara mandiku.


Takut masuk angin, aku cepetan bilas dan ambil anduk. Kepalaku nyelonong keluar lebih dulu, dan ketika situasi aman terkendali aku pun segera keluar dari kamar mandi dan ganti baju.


Lupa nggak bawa hair dryer, aku jadi gosak gosok rambut pakai anduk.


Dan Ridho pun masuk lagi, "Udah selesai? makan yuk? ibu udah nunggu di meja makan," ucap Ridho.


"Bentar, lagi ngeringin rambut," kataku.


Dengan cekatan tangan kekar Ridho mengambil alih anduk yang udah ningkring daritadi di kepala aing.


"Maaf ya, nggak ada pengering rambut. Apa mau aku cariin di kamar Mona? kali aja tuh bocah nyimpen," kata Ridho.


"Nggak usah lah, masa iya kamu geratakan di kamar Mona," kataku.


"Ya udah, aku bantuin keringin kalau gitu," Ridho bukan cuma gosokin kepala, tapi agak dipijet juga. Beuh, enak banget asli. Tangan Ridho tuh enak banget kalau buat mijet.


"Keenakan nih kayaknya ya, jangan tidur loh..." kata Ridho. Tau aja kita udah merem-merem enak, ngantuk lagi.


"Nggak kok," aku ngeles.


"Nggak gimana, itu mata kayak udah ngantuk lagi," Ridho menyudahi pijetannya, dia sisirin rambutku yang panjang.

__ADS_1


"Kita makan sekarang..." ajak Ridho setelah ngeliat aku yang udah wangi.


__ADS_2