Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nggak Ada Pilihan Lain


__ADS_3

Kita semua udah ada di dalem lagi beresin pecahan kaca jendela, "Kalian tidur aja. Biar aku yang selesein ini..." ucap Ridho.


"Tapi Mas Ridho nggak pulang ke kosan, kan?" tanya Mona.


"Nggak. Pulangnya nanti kalau matahari udah nongol! dah sana, tidur..." suruh Ridho.


"Ya udah," Mona yang udah ngantuk balik ke kamarnya. Sedangkan aku masih penasaran dengan kertas yang di tunjukkan Ridho waktu di samping rumah.


"Kamu ke kamar aja, Va..." ucap Ridho yang masih dengan telaten bersihin serpihan kaca.


"Dho, kertas yang kamu pegang tadi isinya apa?"


Ridho menghentikan aksi mungutin beling, dia rogoh saku celananya dan nunjukin gulungan kertas itu sama aku, "Kalau kamu memanfaatkan hantu itu untuk menakutiku, kamu salah besar. Dia bersamaku sekarang, bahkan aku memiliki yang lebih mengerikan daripada ini," aku membaca isi dari kertas itu.


Aku menatap Ridho, "Jadi dia tau..."


Ridho ngangguk, " Kalau dari kertas itunya berarti dia udah tau semua rencana kita..."


Ridho memasukkan pecahan demi pecahan ke dalam kantong tebal.


"Lebih baik kamu duduk di sofa, biar ini aku yang bersihin. Kalau kena kaki bisa berabe..." Ridho menunjuk pecahan yang masih tersisa.


Aku manut aja, soalnya kan Ridho udah paham kalau calon bininya ini suka sembrono. Jadi mending aku yang anteng dan Ridho yang ngebersihin sisanya supaya pecahan kaca itu nggak ada yang tertinggal.


Tengah malam kasian juga ngeliat Ridho kerja bakti, dia udah ngepel rumah dua kali.


"Berhenti napa. Capek, Dho..." aku ngingetin Ridho supaya berhenti.


"Bentar lagi kelar..." ucap kangmas. Dia tipe orang yang kalau udah mulai harus sampai tuntas di selesein.


"Kamu udah ngepel dua kali malam ini,"


"Biar nggak ada serpihan yang ketinggalan, Va! kalau keinjek bakalan sakit banget, dan susah ngambilnya kalau udah nancep di telapak kaki..." ucap Ridho yang udah keringetan. Ini mah beneran olahraga malam dia, masih untung tongkat pelnya tinggal di-spin nggak usah peres manual.


Aku mulai ngantuk ngeliatin Ridho mondar mandir kayak setrikaan. Belum lagi dia nutup jendela yang bolong pakai koran ditempelin lakban, katanya buat sementara aja dulu sebelum jendelanya dia ganti.


Namanya juga numpang ya, kalau ada kerusakan kayak gini ya jadi tanggung jawab kita sebagai penyewa.


Aku ngerasa badanku melayang, diangkat ke awan. Mungkinkah aku udah menjelma jadi bidadari langit yang dicintai oleh penghuni seluruh alam semesta ini?


Cuma kok ada guncangannya dikit ya, dan sekarang badanku mendarat di sesuatu yang empuk.

__ADS_1


Mataku ngebuka dikit dan ngeliat satu sosok yang tersenyum, "Selamat tidur..."


.


.


.


Karena emang lagi ada tamu bulanan, aku pun ngelewatin sholat subuh. Dan bangun ketika ada suara aktivitas di dapur.


"Siapa yang masak jam segini?" aku ngeliat jam belum ada jam 6 pagi.


"Loh kok aku ada di kamar?" aku bangun dengan perasaan yang aneh. Karena seingatku aku lagi nemenin Ridho nutup jendela yang bolong.


Aku segera bangun dan keluar dari kamar. Bau yang sangat enak langsung menyapa hidungku.


"Ridhooo?" aku ngucek mata barabgkali salah liat.


"Ridha Ridho Ridha Ridho, sekali-kali 'Sayang' gitu loh!" protes kangmas.


"Iya iya Sayang..." aku deketin buat liat apa yang dia masak..


"Kamu nggak tidur lagi?" tanyaku.


Ridho tersenyum tipis, "Nggak. Jendela rusak kayak gitu, aku jadi nggak tenang buat ngeliyep barang sebentar..."


Dia naruh makanan di mangkok nasi yang besar. Ternyata dia udah bikin telur dadar yang diiris tipis dan timun yang udah diiris dadu, biar ada seger-segernya pas makan nanti.


"Terus yang mindahin aku siapa?"


"SUPARMAN," sahut Ridho asal.


"Jangan becanda!"


"Yang mindahin kamu ya aku lah, masa iya Mona? nggak akan kuat dia. Badan kamu lebih bongsor dari adek aku..." ucap Ridho yang ngelepas celemek dari badannya.


"Aku panggil Mona dulu," Ridho ninggalin aku sendirian di dapur.


Ngeliat pintu belakang, aku jadi inget sesaji yang semalem kita temuin di depan pintu itu. Maksudnya apa ada yang naruh barang begituan di rumah ini. Apakah ada yang lagi main dukun-dukunan?


Ridho kembali lagi dengan diiringi suara pintu kamar mandi yang ditutup. Kemungkinan si Mona lagi ada panggilan alam dadakan makanya dia nutup pintu agak kencengan.

__ADS_1


"Mona mana?" aku nanya aja sama Ridho.


"Mau mandi dulu katanya," ucap Ridho yang duduk di sampingku.


Dia naruh nasi goreng diatas piringnya, sedangkan aku terpaku sama wajah gantengnya.


"Rumah ini semakin nggak aman buat kamu dan Mona..." ucap Ridho dia nengok ke aku.


"Maksudnya?"


"Bener juga kata mantan bos kita yang sombong itu, aku udah membahayakan kamu..." kata Ridho.


"Janga bilang kayak gitu, please!" aku lepasin sendok dari tangan Ridho, dan genggam tangan pria yang lihai mainin wajan sama sutilnya.


"Aku nggak boleh egois, Va! keselamatan kamu dan Mona lebih penting dari segalanya. Aku udah janji sama ibu bakal jagain Mona, aku nggak bisa maafin diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan kalian..." kata Ridho.


"Kita pergi temui pak Karan, dan bilang kita menerima tawarannya buat tinggal di rumah yang dia sediakan, lebih baik harga diriku yang diinjak daripada ngeliat kalian ketakutan setiap hari," lanjut Ridho.


"Nggak, aku maunya sama kamu, Dho! aku lebih aman kalau deket sama kamu, kita udah ngelalui hal yang lebih mengerikan daripada teror-teror kayak gini kan, Dho?" aku nggak mau Ridho mikir yang nggak-nggak.


"Buat sementara aja, Va. Sampai kita tau siapa yang melakukan ini semua. Aku janji ini nggak akan lama!" Ridho menangkup kedua pipiku yang basah karena air mata yang meluber dari sumbernya.


"Aku nggak mau,"


"Aku juga nggak mau, Va! tapi semalaman aku berpikir, dan aku belum nemu cara lain selain ini..." ucap Ridho, sementara aku udah nggak bisa nahan air mata dugong yang meluncur deras.


"Jangan nangis ntar tambah jelek!" ledek Ridho.


"Mbak Reva? kenapa nangis?" tanya Mona yang tiba-tiba muncul.


"Ini loh, Mon. Kecolok tangan sendiri, makanya lagi mau Mas tiupin..." kata Ridho bohong.


"Tiupin apa tiupinnn?" Mona geser kursi dan mulai nyendokin nasi goreng buatan abangnya.


"Tiupin, Mon! tapi kalau mleset ya itu berarti rejeki..." ucap Ridho nggak tau malu.


Kok dia bisa nyantai banget ngomong kayak gitu sama Mona, dasar abang minim akhlak.


"Mon, pulang lebih awal ya. Jangan keluyuran. Ini malam jumat, jangan nyerobot jamnya para makhluk ghoib. Ntar yang ada kamu saingan sama mbak Kun yang suka nongkrong di jembatan!" kata Ridho.


"Ihhh, Mas Ridho nggak usah nakutin deh..." Mona manyun.

__ADS_1


__ADS_2