Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pura-pura Tidur


__ADS_3

Namanya bukan pak Karan Perkasa kalau nggak on time, 30 menit dia udah sampai di ruanganku. Entah naik jin yang mana tapi yang jelas nih ruangan jadi penuh dengan makanan dan barang-barang.


"Bunga dari siapa?" tanya pak Karan yang ngeliat ada mawar putih yang sengaja aku sandingkan dengan mawar merah yang pak Karan kasih. Aku taruh di vas bening.


"Itu dari tetangga di apartemen,"


"Laki-laki?" dia nanya.


"Hu'um!"


"Kok tau kamu disini? kalian dekat?" tanya Pak Karan.


"Kenal, tapi nggak begitu deket. Ya namanya tetangga sakit masa iya nggak nengokin?"


Mungkin pak Karan heran aja, kan aku tinggal di apartemen yang biasanya pada individual banget orangnya. Nggak jarang suka pada nggak kenal siapa tetangganya. Tapi ini kok bisa banget jenguk segala dan kasih bunga, pak Karan kan auto curiga ini yang jenguk pasti ada apa-apanya.


"Kamu sendirian?" tanya pak Karan.


"Nggak, kan ada Bapak!"


"Aiiish, Bapak lagi Bapak lagi!" pak Karan jitak kepalaku.


"Awwwwkhhhh!" aku pegangin kepalaku, lebay.


"Sorry, sakit?"


"Ada pasien lagi dianiaya sama sodaranya!" ucapku lebay sambil meringis kesakitan


"Aiish, acting-mu terlalu berlebihan!" kata pak Karan.


"Hahahahah, habisnya main jitak aja. Ini kepala bukan meja..."


Dia usap-usap kepalaku, "Iya maaf,"


"Dimana laki-laki yang--"


"Ridho, hey Ridho! namanya Ridho," aku serobot sebelum pak Karan ngomong yang aneh-aneh.


"Ya, dimana dia?"


"Ada kerjaan mendadak. Tapi daritadi dia nemenin aku kok," ucapku sambil melirik makanan apa saja yang orang ini bawa.

__ADS_1


"Kamu ingin puding? aku bawa puding sutera,"


"Ck, harusnya puding sultan dong! yang ada emas-emasnya gitu!" ucapku bercanda.


Dan pak Karan hapenya buat nelpon asistennya, "Belikan puding sultan! yang ada taburan edible gold-nya! saya tunggu 30 menit," ucap pak Karan sebelum nutup telponnya.


Lah kan aku bercanda sih. Ngapa dia anggap serius. Aku cuma bisa melongo ngeliatin adek sepupu yang duitnya aku yakin nggak akan abis 7 turunan.


"Sambil nunggu kamu mau makan yang lain?" tanya Pak Karan.


Ehm, aku ngeliatin apa aja yang dia bawa, "Donat?"


Dia bukain kotak gede berwarna gold itu, "Mau yang mana?"


"Green tea aja," aku nunjuk yang berwarna hijau.


Pak Karan ngambilin pakai piring kecil dan dia deketin kursinya ke aku.


Tapi sebelum dia kasih makanan yang berbentuk bulat dan bolong tengahnya itu, matanya agak memicing.


"Kenapa bibir kamu? sepertinya luka..." ucap pak Karan.


Aku pun teringat sesuatu, kejadian kepergok dua congor yang bertemu di titik yang sama yang diakhiri dengan Ridho yang kejengkang karena aku dorong.


Buat ngalihin kegugupanku, aku ambil piring kecil yang ada di tangan adek sepupu, langsung aku makan tuh donat.


"Sepertinya bukan kamu kalau tidak grusa-grusu!" sindir pak Karan, dua ngusap sudut bibirku dengan tisu.


Ya kita ngobrol aja ngalor ngidul nggak jelas. Dan beneran loh itu puding sultan dateng bahkan lebih cepet dari yang aku bayangkan. Nggak paham deh, gimana cara dapetinnya. Aku yakin asisten pak Karan auto lega setelah misinya selesai.


Udah siang, tapi Ridho belum balik juga. Tadi katanya sebentar, tapi ujungnya lama juga. Jadi kesel deh.


"Kenapa?" tanya pak Karan, mungkin ngeliat raut wajahku agak beda.


"Hoammph, nggak apa-apa cuma ngantuk," aku bohong lagi.


Dia naikin selimutku, "Ya sudah kamu istirahat,"


Aku pun merem dan pura-pura tidur. Padahal aku belum ngantuk. Dan setelah beberapa saat aku denger pak Karan bangkit dari kursinya dia ngebelai rambutku.


"Nyatanya sulit sekali untuk menghancurkan perasaan ini, tapi apa boleh buat?" dia membelai pipiku juga. Ya aku bisa merasakan karena aku kan belum molor.

__ADS_1


Lalu, dia mencium kepalaku sekilas, "Mimpi indah..." ucapnya sebelum pergi meninggalkan aku di ruangan sendirian.


Setelah merasa nggak ada siapapun disini kecuali aku, aku pun buka mata pelan-pelan.


"Maaf, aku nggak bisa bales perasaan anda, Pak. Coba aja kira deketnya pas aku belum deket sama Ridho, pasti beda ceritanya..." ucapku lirih.


Nyebut nama Ridho pikiranku melayang nggak tau kemana, bayangan Ridho lagi sama Rimar semobil berdua dengan rok tuh perempuan yang cuma sejengkal. Deuh, bikin hatiku dagdigdug jeder jedor nggak karuan.


Bisa aja Ridho ketularan playboynya pak Bagas. Apalagi Rimar dan Ridho sama-sama asisten, pasti mereka tuh sering ada kerjaan bareng. Dan yakin deh, mata lelaki nggak akan nolak kalau disuguhin yang bagus-bagus. Emang harus segera disahkan secara agama dan negara nih hubungan aku sama Ridho, biar nggak ada kesempatan orang lain buat nikung.


Aku tarik selimut dan merem ngilangin bayangan Ridho dari pikiranku. Tapi tiba-tiba aja pintu kebuka. Aku masih merem, kali aja pak Karan yang masuk lagi. Kan malah jadi ketauan aku nggak tidur.


"Dia lagi tidur, Mar!" itu suara Ridho yang dibikin selirih mungkin.


"Kamu duduk dulu aja," ucap Ridho lagi. Aku buka mata dikit, ngintip.


Aku ngeliat nih perempuan duduk di sofa, tuh rok mini auto keangkat.


"Tutupin pake karung kek, pake baskom kek, biar paha jangan kemana-mana!" aku ngedumel dalam hati.


"Minum apa, Mar? biar aku bikinin?" Ridho nawarin minunan.


Ridho tau-tau nengok ke arahku, aku langsung merem lagi.


"Nggak, Mas. Ehm, aku boleh ikut ke toilet?" tanya si Rimar yang suaranya serak-serak basah. Mana manggil "Mas" ke Ridhonya lembut banget. Pantesan bosnya nempel mulu.


"Toilet ya? sebelah sana..." sahut Ridho.


Aku buka mata dikit lagi, aku liat Rimar bangun dan...


"Awwwwwkh!" kakinya kesandung meja.


"Hati-hati, Mar! tuh sepatu dipensiunin aja udah, daripada jatuh-jatuh mulu!" ucap Ridho yang nahan tangan Rimar, supaya dia nggak nyungsruk. Masih untuk ditahan pake tangan, kalau sampe nemplok ke dadanya kangmas, aku tabok tuh bamper biar mletus sekalian, biar tepos.


"Nih pakai jepit aja, kepleset di toilet malah benjol nanti!" ucap Ridho yang ngasih jepit sama Rimar.


"Uh, perhatian banget. Ehmmm, awas ya. Ntar aku kruwes-kruwes kepala kamu, Dho?!!!" batinku ngedumel. Aku merem lagi, takut Ridho curiga, lah kok aku yang kayak lagi ngintipin pasangan yang lagi pacaran? Nggak bener ini.


"Iya makasih, Mas. Aku ke toilet dulu," jata Rimar.


Dan ketika pintu toilet ketutup aku udah nggak tahan buat bilang, "Eheeeemm, enak yaaaaaaa ... kerja sambil cuci mata?"

__ADS_1


"Kamu udah bangun?" Ridho mendekat.


"Nggak! aku bangkit dari KUBURRRR!!!!" jawabku ketus.


__ADS_2