
Kangmas ngebut sengebut-ngebutnya. Sampai lupa nih kalau istrinya lagi hamil. Rasanya kecepatan jantung memompa darah ke seluruh tubuh bertambah dua kali lipat dibanding biasanya. Sar ser sar ser terus rasanya daritadi. Udah kaki rasanya pengen ngerem mulu, padahal kan rem dan gas adanya sama kangmas.
Kebut-kebutan di jalan dengan perut besar kayak gini bikin aku ngap-ngapan.
"Awwwwh, perut aku kok tambah sakiiittt..." aku merintih kesakitan.
"Gimana, Sayang? sakit? sakit banget?" Ridho panik, dia kurangin kecepatan mobil.
"Iya perutku kayak diremes-remes,"
"Ya udah kita coba cari rumah sakit sekitar sini. Kamu yang tenang ya, tahan dulu bentar," ucap Ridho.
Aku nggak yakin dengan ucapan Ridho karena sekarang aja kita udah jauh dari jalan raya. Apalagi aku udah nggak tau lagi sekarang kita ada dimana.
"Mas? kita ke rumah sakit pakai apa?"
"Pakai mobil ini lah, Sayang? masa iya pakai becak?"
"Bukan ituuuu?! tapi bayarnya pakai apaaa? kalungnya kan belum kita jual," ucapku.
"Itu kita pikirin nanti ya, Sayang. Sekarang yang penting kita cari rumah sakitnya dulu,"
Nggak tau karena terlalu lelah atau terlalu tegang, aku ngerasain kesakitan terutama di perut bagian bawah. Kenceng dan keras banget kalau disentuh.
"Kayaknya hantu tadi nggak ngejar kita kan, Mas?" tanyaku waspada.
"Nggak tau, tapi kayaknya udah nggak..." sahut Ridho.
"Kamu bawa hape?"
"Bawa,"
"Coba cari rumah sakit terdekat pakai map," suruh Ridho.
Aku mulai ngetik, nyari kali aja ada rumah sakit di sekitar sini. Tapi sialnya sinyal disini jelek banget.
Malam menjelang subuh kita berdua masih muter-muter nggak jelas. Mobil yang seharusnya menuju ke rumahnya pak Sarmin, sekarang harus mlipir dulu ke rumah sakit.
"Nggak usah ke rumah sakit. Aku udah mendingan kok," ucapku.
"Beneran?"
"Aaawkkh," aku memekik. Lagi-lagi perutku tegang.
"Alhamdulillah. Kayaknya disana ada plang rumah sakit, kita kesana. Minimal kamu diperiksa dulu, mastiin anak kita baik-baik aja," ucap Ridho.
__ADS_1
"Tapi--"
"Nggak akan disuntik, tenang aja. Kan ibu hamil nggak boleh sembarangan di kasih obat, apalagi disuntik. Suntiknya sama mas Ridho aja," kata Ridho, sumpah nggak tepat banget dia guyon kayak gitu. Pengen aku gaplok beneran.
Tanpa nunggu persetujuan dariku, Ridho berhenti di depan sebuah rumah sakit. Ta mungkin karena ini jauh dari perkotaan jadilah rumah sakitnya begini bentukannya, sederhana. Persisnya kayak bangunan lama gitu, dan banyak pohon-pohon gede.
Ridho ngeliatin terus rumah sakit yang ada di depan kita, mobil posisinya udah halaman parkiran depan.
"Ini rumah sakitnya?" aku celingukan.
"Kayaknya..."
"Loh kok kayaknya sih?" aku kesel.
"Awwwkhhh, uuuh, sakit..." perutku sakit lagi.
Ridho ngelusin perutku, "Makanya jangan marah-marah mulu, aku juga kan lagi nfeliat bener apa nggak. Atau masih beroperasi apa nggak ini rumah sakitnya,"
"Aakkh, kok rasanya sakit kayak gini sih? anak kamu nih jelalatan mulu di dalem, dikira perut emaknya lapangan bola kali," ucapku. Kita masih di dalam mobil.
"Yang pecicilan kan kamu Sayang bukan aku. Kalau aku kan kalem," ucap Ridho, sedangkan aku males nanggepinnya.
"Kamu jangan tendangin perut mami terus, Dek. Kasian itu, Mami kesakitan..." lanjutnya.
"Gimana? mau turun?" tanya Ridho.
Hawa dingin menusuk kulit, apalagi aku nggak pakai sweater atau jaket. Aku masih pakai dress ibu hamil yang panjangnya 10 senti di bawah lutut.
"Perasaanku nggak enak," gumam Ridho lirih.
"Huuufh, gimana?"
"Nggak apa-apa," ucap Ridho, tapi aku jelas ngeliat di raut wajahnya yang sepertinya mengkhawatirkan sesuatu.
Tapi gimana lagi, perutku tegang terus daritadi. Apalagi setelah ini kita membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke rumah pak Sarmin. Dengan keadaan yang kayak gini jelas nggak mungkin.
Kita berdua jalan masuk ke IGD, dan ada satu orang yang kita temui memakai seragam perawat sedang duduk di counter jaga.
"Maaf Sus, istri saya---" ucapan kangmas berhenti. Dia menggenggam tanganku kuat.
"Ehm, maaf. Sepertinya kita salah rumah sakit," ucap Ridho cepat.
Aku bingung dengan apa yang suamiku ini ucapkan, "Kita salah rumah sakit?" aku dalam hati.
"Reva, kita harus pergi sekarang!" bisik Ridho.
__ADS_1
Kreeeek.
Suara kursi bergeser, perawat tadi yang semula duduk kini berdiri menatap kita, "Disekitar sini tidak ada rumah sakit lain, Tuan," ucap perawat itu datar.
"Istri saya mendadak sudah tidak sakit. Jadi kami mau melanjutkan perjalanan," ucap Ridho, mengajakku selangkah demi selangkah mundur ke belakang.
Oke disini, aing paham kalau kita emang salah masuk. Iya, ini bukan rumah sakit untuk para manusia. Anakku di dalem perut makin jelalatan ngadepin situasi kayak gini lagi. Yassalaaaam, wonten nopo malih ya Allah Gustiiiii (Yassalam, ada apa lagi ya Allah).
"Ssshhh, aawkkh," aku merintih lirih.
"Kamu kenapa, Sayang?" bisik Ridho, aku cuma menggeleng.
"Sepertinya anda sedang hamil, Nyonya. Wajah anda pucat, mungkin sebaiknya anda berbaring dan dokter kami akan memeriksa keadaan anda," ucap si perawat.
"Dokter, ada pasien yang membutuhkan pertolongan anda," ucap si perawat.
Dan kalian tau, seorang dokter laki-laki.dengan kepala yang gundul-gundul pacul tempelengan, loh malah nyanyi. Dokter dengan kepala botak muncul dengan sarung tangan biru yang menutupi tangannya.
"Berbaringlah, nyonya..." ucap si Dokter laki-laki yang bernama dr Richard, namanya tertera di jas putih yang dipakainya.
"Maaf, Dokter. Sepertinya kami tidak jadi untuk periksa. Kami tidak punya uang, asuransi juga macet karena dua bulan nunggak tidak di bayar. Jadi, kami--"
"Oh, ya?" ucap si Dokter Richard, yang berjalan mendekat. Dia membuka tirai tempat pemeriksaan.
"Rumah sakit ini sudah biasa membantu orang-orang yang tidak memiliki uang seperti anda. Anda bisa mencari pinjaman, setelah istri anda mendapatkan pemeriksaan dan obat yang tepat," lanjut dokter Richard yang mengambil alat stetoskop yang dikalungkan di lehernya.
"Maaf, suami saya nggak biasa ngutang. Walaupun kami miskin dan nggak punya uang. Maaf mengecewakan anda," ucapku tegas pada dokter Richard.
"Anda sudah masuk, dan anda tidak akan semudah itu keluar dari sini, hahahhaaha," ucap si perawat meringik, matanya berubah menjadi putih melihat ke arah kami.
"Astaghfirullah," ucap Ridho yang kemudian dengan cepat berbalik dengan terus menggenggam tanganku.
"Kita harus pergi dari sini," Ridho mengajakku berlari menuju pintu keluar.
Tapi sayangnya...
Greppppp!!
Pintu IGD yang tadinya kebuka lebar sekarang terkunci.
Ceklek ceklek.
Ridho berusaha membuka pintu tapi nggak bisa.
"Apa yang harus kita lakukan, Mas?" aku nengok ke arah kangmas dengan keringat sudah membanjiri pelipis.
__ADS_1
"Lari," ucap Ridho.