Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Penampakan Lagi


__ADS_3

Dengan langkah terburu-buru aku masuk ke dalam kamar. Aku samperin tuh orang yang aku sekap di ruang ganti.


"Kenapa pakai ngejatohin barang segala sih?"


"Aku nggak jatohin apa-apa suwer kewer-kewer!" kata Ridho.


"Ck, jelas-jelas suaranya dari arah sini pakai ngeles segala!" aku nuduh Ridho yang bikin ulah.


"Sekarang mendingan kamu pergi sekarang," aku tarik tangan nih orang.


"Nih, jas kamu!" aku ambil jas dari keranjang pakean kotor, lalu aku kasihin ke Ridho.


"Loh kok kamu ambil dari sana?"


"Udah, akh jangan banyak nanya! nih bawa pulang dan cuci sendiri," ucapku yang ngedorong pria ini keluar dari ruang ganti yang isinya baju-baju dan kumpulan sepatu, tas dan aksesoris.


Tapi lagi seru dengan aksi dorong mendorong yang lebih mirip peluk-pelukan itu pun terganggu karena adanya ketokan pintu dari Ravel.


Tok!


Tok!


Tok!


"Mbaaaaak? mbak punya gunting kuku?"


Aku pun yang lagi di kamar bareng nih orang somplak, mendadak ngefreeze.


"Ada Ravel, diem! jangan ngomong!" aku memperingatkan Ridho, aku bekep mulutnya pakai tangan.


"Apaaa? gunting kuku? ya bentar, Mbak cari dulu!" aku setengah berteriak, nengok ke arah pintu.


"Va, aku nggak bisa napas!" Ridho protes, dia gelagapan, ternyata aku nggak sengaja mencet hidungnya.


"Sorry, sengaja!" ucapku bisik-bisik.


Aku lepasin tangan aku, Ridho megap-megap kayak ikan yang kekurangan air.


"Ngumpet di dalam lagi, awas jangan berisik!" aku dorong Ridho ke dalam ruang ganti lagi.


Aku atur napas, buat nemuin Ravel.


"Oh ya, gunting kuku ya..." aku baru inget Ravel minta barang itu.


Aku ambil gunting kuku dari dalam laci yang ada di meja rias, sebelum aku buka pintu.


"Nih, gunting kukunya!" ucapku sambil ngasihin tuh barang ke adekku.

__ADS_1


"Lama banget sih mbak buka pintunya? mbak lagi ngobrol sama siapa? kayaknya tadi aku denger suara orang dari dalem?" Ravel ngelongokin kepalanya.


"Lah ya suara mbak lah. Kan mbak orang buka Etan!" aku nunjuk diriku sendiri.


"Nggak, aku denger kok tadi mbak kayak ngomong sama orang lain, suaranya kayak cowok!" Ravel masih keukeuh.


"Aiiihh kupingnya tajem benerrrr!" aku dalam hati.


"Mana ada cowok disini, dah sana tidur. Mbak juga udah ngantuk!" aku ngusir adikku supaya nggak banyak ngomong. Berabe kalau dia tau-tau masuk dan nemuin satu makhluk yang lagi ngumpet disini.


Ceklek!


Aku kunci tuh pintu, dan ngeluarin Ridho dari persembunyiannya.


"Hampir aja Ravel nemuin kamu disini," aku natap Ridho kesel.


Kita berdua auto lupa kalau tadi ada yg ketak-ketok mainin jendela.


"Kalau nemuin juga nggak apa-apa. Jadi kan kamu dikawininnya sama aku bukan sama yang lain..." ucap Ridho.


Aku kruwes aja bibirnya, "Kalau ngomong volumenya bisa dikecilin, nggak?"


"Ampun, Va! jontor nih!" Ridho ngusapin bibirnya sendiri.


"Ya udah, aku pulang! kalau ada yang ngetokin jendela, kamu banyakin baca doa aja..." Ridho ngeloyor pergi mau buka pintu.


"apulang, kan tadi katanya suruh pulang kan..."


"Itu kan aebelum Ravel kesini, kalau sekarang kamu keluar dan adikku ada di ruang tamu. Sama aja boong, ujungnya ketauan juga! sengaja ya?" aku nuduh Ridho.


"Ya udah, jalau kamu yang maksa. Aku bakal disini, arrghhh, lagian aku capek banget..." Ridho lemparin badan ke kasur.


"Ya ampuuunn, seenaknya tiduran di kasur orang!" aku gregetan banget sama kelakuan absurd Ridho.


"Ih, malah tiduran disitu, siiiih!" aku tarik kakinya yang panjang itu.


"Eeeehhhh," Ridho auto terkejut.


"Aku nyuruh kamu ntar pulangnya, bukan berarti nyuruh akmu buat tiduran disiniiiiiii!" suaraku meninggi.


"Ssshh, kalau Ravel kesini bukan salah aku, loh! kamu sendiri yang berisik!" kata Ridho.


Astagaaaanaaga, ini orang bikin aing emosi. Huufh, sabar mengsabarrr Revaaaa.


Ridho malah enak-enakan tengkurap, nikmattin empuknya kasur dan bantal milik aing maung.


Sedangkan aku ngliatin dari sofa single yang ada di sudut kamar.

__ADS_1


"Ngejengkelin banget nih manusia!" gumamku lirih.


"Ravel udah tidur belum ya? apa aku cek dulu aja ya keluar?"


Akku liat jam udah nunjukin jam 11 malem, dan aku udah ngantuk banget woy! sedangkan aku nggak bisa rebahan gara-gara nih Ridho yang menguasai hamparan kasur milikku.


Akhirnya, aku berjalan perlahan keluar kamar dengan langkah senatural mungkin. Nggak ngendap-ngendap juga supaya aku tau kalau Ravel masih berkeliaran di sekitar rumah atau dia udah ngandang tidur di kamar tamu.


"Kayaknya aman,"


Aku sidak ke dapur dan ke ruang tengah berikut ruang tamu, dan hasilnya nggak ada tuh sosok Ravel tertangkap oleh bidikan mataku yang udah nyensor setiap sudut ruangan.


"Aku harus cepet-cepet nyuruh Ridho pulang, mumpung situasi aman terkendali!" ucapku setelah tau kalau kondisi rumah udah bener-bener sepi.


Aku balik lagi ke kamar, Dan pas aku buka pintu ternyata....


Ada satu sosok makhluk berambut panjang yang berdiri di samping Ridho yang lagi molor.


"Heh, siapa kamu?" ucapku spontan ketika pertama kali melihat penampakannya.


Tapi baru sekejap ngedip, dia menghilang entah kemana. Sedangkan Ridho setengah sadar, "Ada apa, Va?" tanya Ridho dengan suara seraknya.


Sementara aku mengabaikan pertanyaan dari Ridho dan fokus ntari kemana perginya tuh makhluk jahanam. Kok bisa-bisanya dia dateng disaat aku lagi patroli rumah. Aku curiga dia punya bakat-bakat pelakor. Deketin Ridho pas aku lengah atau nggak ada. Ups, aiiih kok aku mikirnya. Ah, sudahlah.


"Kamu lagi nyari apaan?" tanya Ridho yang kini mengubah posisinya yang tadinya tengkurap sekarang miring meluk guling. Udah berasa rumah sendiri.


Jadi, emang hawa-hawa nggak enak itu ya karena ada makhluk lain. Tapi jujur baru kali ini aku liat sendiri ada satu penampakan yang terjadi di kamar ini, biasanya nggak pernah. Atau kalau pun memang ada mungkin energinya yang rendah jadi aku nggak bisa ngeliat secara langsung.


"Dho, bangun!" aku tarik-tarik tuh tangannya.


"Aku ngantuk, Va..." ucap Ridho.


"Kalau ngantuk ya pulang, ini bukan rumah kamu..." ucapku.


Tapi aku dijamin nggak akan bisa tidur kalau si Ridho balik ke habitatnya.


"Percuma banget dibangunin," aku menyerah buat bikin mata Ridho melek.


Dia malah makin pewe tuh meluk guling, udah nggak tau sampe mana mimpinya.


Nggak mungkin aku disini, jadilah aku ke kamar yang ditempati Ravel. Aku tidur disana.


Aku buka pintu pelan-pelan, ternyata bener. Ravel udah tidur.


"Cepet banget dia tidurnya," gumamku yang ikut bergabung di ranjang yang sama dengan adik perempuanku itu.


Aku liat sekeliling, nggak ada apa-apa.

__ADS_1


"Sampai kapan aku berurusan dengan mereka semua," batinku.


__ADS_2