Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Keras Kepala


__ADS_3

Ya ampun, mau kemana sih Mona. Loh kok kita nggak nyampe-nyampe. Jangan-jangan ini kita salah jalan.


"Masih jauh, Mon?" tanyaku, udah haus dan capek juga duduk di dalam mobil.


"Kalau di mapnya sih, bentar lagi, Mbak!" kata Mona yang sibuk ngeliat lokasi tujuan kita di hape.


"Mbak udah capek banget tau, Mon!" kataku.


"Sama, Mbak! apalagi aku yang abis mapah mbak Reva, tanganku pada pegel ini!" Mona sok lebay.


"Pakkk, Pak. Berhenti di depan warung itu, saya mau beli air..." ucapku.


"Baik," ucap si supir.


"Lah kan udah nyuruh Bara buat beli, Mbak?!" tanya Mona.


"Hausnya sekarang, Mon! Mbak udah nggak tahan, bisa dehidrasi ini!" ucapku ngotot.


Mungkin datipada pusing 7 keliling, si supir lebih milih buat berhenti dan nurutin apa yang konsumennya pengenin. Toh minuman itu juga aku beli sendiri nggak minta dibayarin.


"Makasih ya, Bu!" kataku setelah bawa dua botol air mineral dinginnukuran kecil.


Aku masuk lagi ke dalam taksi dan melanjutkan perjalanan.


"Aku satu, Mbak!" kata Mona


"Nggak pas nyampe aja? kan Bara udah dipesenin tuh buat beli minuman!" aku mode nyindir.


"Aku juga haus, Mbak..." kata Mona yang main nyember aja satu botol air mineral yang masih tersegel.


Glek!


Glek!


Glek!


Akhirnya aku minum air di botol itu sampai tandas, begitu juga dengan Mona.


"Alhamdulillah," ucapku setelah rasa haus itu udah pergi entah kemana.


Mobil taksi yang kami tumpangi nampaknya semakin melambat, dan berhenti di depan sebuah bangunan tua yang ditumbuhi banyak rumput liar.


"Sudah sampai, Mbak!" kata si supir taksi.


"Kenapa berhenti disini, Pak? wah, Bapak mau ngerjain kita nih!" aku nuduh si Bapak.


"Ini kan alamat yang mbak itu kasih! " kata si supir taksi yang nengok ke belakang dan nunjuk Mona dengan dagunya.


"Tapi iniah bangunan kosong, Pak! Bapak jangan macem-macem ya?" kataku nggak mau kalah.

__ADS_1


"Kan dari awal saya juga nanya. Beneran mau ke alamat itu? saya cuma nganterin, dan ini udah nyampe. Saya cuma supir, Mbak! masih butuh kerjaan buat kasih makan anak istri di rumah, ngapain saya nyari masalah dengan nyasarin mbak-mbak ini!" kata si supir taksi.


"Coba check dulu, Mon!" aku nyuruh Mona buat ngeliat di hapenya.


"Bener, Mbak! ini tempatnya..."


"Anda sudah sampai di lokasi tujuan. Lokasi yang anda tuju berada di sebelah kanan," ucap sistem penunjuk jalan yang dipakai sejuta umat.


"Tuh kan, saya nggak bohong!" kata si supir taksi yang nyamber aja.


"Gimana, Mon?" aku ngeliat Mona yang kayaknya juga bingung.


"Kamu yakin Bara ngasih alamatnya yang ini? kok aneh ya," ucapku.


"Gimana, Mbak?" tanya si supir taksi minta kepastian.


"Ya udah, coba aja. Kuta turun, Mbak. Mungkin Bara nunggunya di sekitar sini," kata Mona.


"Tapi--" aku ngeliat sekitar kayaknya nggak ada warung atau semacamnya.


"Bayar dulu aja sih, Mbak! nanti kita telpon Bara kalau udah di luar," usul Mona.


Kutu kupret emang ini bocil satu, dia yang mau ketemuan kita yang disuruh ongkosin. Astaga, sabar sabar. Nggak apa-apa deh, demi bisa baik di depan calon ibu mertua, jalan apapun akan aku tempuh walaupun badan capek dan harus keluar duit juga aku jabanin deh. Awas aja kalau Mona sampai ingkar janji, aku iket dia di pohon toge.


"Ini ongkosnya, makasih ya Pak?" aku doforin beberapa lembar uang.


"Nggak apa-apa, anggap aja tips buat Bapak yang tadi mau kebut-kebutan di jalan!" kataku.


"Terima kasih banyak, Mbak. Hati-hati..." ucap si supir ketika aku dan Mona buka pintu dan keluar dari taksi.


Perjalanan yang ditempuh cukup jauh, jadi biaya yang dikeluarin juga nggak sedikit, tapi aku nggak tega kalau nggak dikasih lebih. Itung-itung sedekah aja lah.


Dan di depan kita terpampang nyata sebuah bangunan tua yang tidak terawat.


"Mon! cepet telpon Bara!" kataku yang feeling mulai nggak enak.


"Bentar, Mbak! ini juga lagi ditelpon!" kata Mona.


"Halo, Bar?" sapa Mona ketika panggilannya tersambung, aku cuma agak nyuri denger dikit-dikit.


"Aku udah nyampe, kamu dimana sih, Bar? kayaknya kamu salah share-loc deh, soalnya aku nyampenya di bangunan kosong gitu! nyeremin tau, nggak?" Mona nyerocos tanpa jeda.


Aku cuma gelengin kepala, gimana Bara mau ngejawab kalau dianya aja nanyanya nggak putus-putus .


"Halooooo, Bar? Baraaaaa...?!" Mona sedikit jauhin hape dari telinganya buat liat sinyal, lalu dia tempelin lagi itu benda gepeng di telinga satunya.


"Hahahhahahaaha, ternyata kamu udah sampai ya, Mon! sini masuk..." kata seseorang dengan nada manja. Kebetulan tadi Mona nggak sengaja mencet mode speaker, makanya aku bisa denger tuh suara.


"Siapa, Mon?" aku nanya lirih. Mona gelenngin kepalanya.

__ADS_1


"Nggak mungkin salah sambung kan?" tanyaku lagi.


"Sorry, ini siapa, ya? kok hape Bara ada sama kamu?" tanya Mona dengan dua alis yang saling bertaut.


"Hahahahaha, kemarilah kalau kamu ingin tau yang sebenarnya," wanita itu tertawa.


Mona langsung mematikan sambungan telepon itu.


"Mon, feeling Mbak ada yang nggak beres! mending kita pergi dari sini," kataku.


"Tapi Bara..."


"Tadi yang ngomong bukan Bara, kan? nggak mungkin Bara bisa ganti suara jadi cewek," ucapku.


Drrrrtttt!


Hape Mona bergoyang dengdot, sebelum Mona ngejawab omongan aku tadi.


"Halo...?" ucap Mona.


"Mon..." suara Bara terdengar.


Tapi cuma satu kata itu aja, lalu tuuut tuuuutt sambungan telepon itu terputus.


"Baraaaa...?!!!" seru Mona.


"Aaarghhh, sial!" Mona mengumpat saat sebelum dia bicara panggilan telepon itu sudah berakhir.


"Apa mungkin terjadi sesuatu sama Bara, Mbak?" Mona natap aku dengan wajah cemas.


"Mbak nggak tau, Mon! tapi lebih baik kita hubungi mas kamu dulu!" kataku.


Aku ngeluarin hape, tapi dicegah sama Mona, "Jangan, Mbak! mas Ridho pasti marah kalau tai aku keluar dari rumah! mending kita cari tau sendiri aja, Mbak!"


"Mas kamu bakal tambah marah kalau terjafi sesuatu sama kamu, Mon?!"


"Kita liat dulu ke dalem, Mbak! Kalau seandainya terjadi hal buruk dengan Bara, kita baru ngasih tau mas Ridho buat kesini?!!" kata Mona.


Ngadi-ngadi banget ini si Mona. Dia nggak sadar bisa aja bahaya menanti dia di dalam sana. Pokonya aku harus bujuk Mona supaya mau balik lagi ke rumah pak Karan.


"Mon, terlalu bahaya buat masuk ke dalam sana!" ucapku seraya nunjuk bangunan tua itu.


"Kalau Mbak Reva takut. Biar aku aja yang masuk, Mbak tunggu aja disini!" tanpa aba-aba Mona langsung lari ke arah bangunan tua itu.


"Mon, Monaaaaaa!" aku teriak sekuat tenaga.


"Ck, elaaah keras kepala banget si Mona! main kabur aja nih bocahhhh, astagaaaaaa!" aku bergumam.


Mau nggak mau aku harus kejar Mona ke dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2