
Salah satu hal yang membahagiakan, bisa ketemu sama orang yang bener-bener kita rindukan. Walaupun kita sudah terpisah dalam dua dimensi yang berbeda, tapi itu nggak mengurangi perasaan yang membuncah di dalam sini, rongga hati.
Aku seperti orang yang butuh istirahat yang sangat lama. Rasanya mata pengen terus merem kayak gini.
"Reva ... bangun, Va..." suara pria yang sangat familiar. Tapi siapa?
"Revaaaa, bangun, Va! semua orang menunggu kamu buat bangun. Semua orang kangen dengan keanehan kamu. Ayo, bangun!" ucapnya lagi.
Siapa sih yang ngomong kayak gini sama aku. Rasanya nadanya tuh aneh gitu.
"Kalau aku bisa, aku akan mengunci semua pintu, jendela bahkan nggak ada satu celah pun yang bisa kamu lewati," kata orang itu lagi.
Aku merasakan kehangatan, aku merasa telapak tanganku disentuh.
Tapi lagi-lagi, aku terlalu lelah untuk mencari tau siapa pria yang daritadi ngoceh nggak jelas. Dia tau nggak sih, kalau aku itu masih ngantuk dan pengen tidur.
"Reva, kamu sudah tidur terlalu lama. Bangun, Sayang!" ucapnya lagi.
Kata-kata sayang yang meluncur dari mulutnya begitu asing dan aneh aja gitu. Tapi bodo amatlah, dalam hati aku pengen bilang 'please diem, aku masih pengen tidur!'
Ada yang basah, semacam air yang mengalir di sela-sela jari dan punggung tanganku yang kebetulan sedang orang ini genggam. Wait, dia nggak ngiler kan?
Dengan kekuatan bulan purnama, aku mencoba membuka mata. Karena aku udah gemes, pengen banget nabok mulut tuh orang dan bilang 'ganggu banget, sih?'
"Syukurlah, Revaaaaaa?akhirnya kamu sadar!" pria di depanku ini menitikkan air matanya dan begitu tergesa-gesa memanggil dokter.
"Dokterrrrrrr!!! Dokterrrrr...!" teriaknya.
Dan satu orang pria berjas putih datang setengah berlari dengan diikuti beberapa suster cantik nggak pakai ngesot.
"Permisi, Tuan!" ucap orang yang kini berdiri di sampingku dan mulai ngecekin mata dan yang lainnya.
"Syukurlah, dia sudah kembali!" ucap pria itu menatap orang tampilannya kayak orang yang nggak keurus. Kayaknya alu nggak pernah ngeliat dia dengan penampilan yang kayak gitu.
"Sebaiknya tuan keluar dulu sebentar, karena kami akan mengecek keadaannya lebih detail!" ucap orang berjas putih.
Pria yang ganggu aku tidur itu pun pergi meninggalkan ruangan ini.
.
__ADS_1
.
.
Aku kembali tidur, ya aku ngerasanya kayak gitu pengennya males-malesan dan nggak ada niat sedikit pun buat sekedar melek.
Tapi orang yang ada di dekatku ini berisik banget, dia ngajakin ngobrol mulu. Padahal udah tau kalau aku lagi nggak mau diganggu, tapi nih orang ngoceh mulu kayak burung yang mau ikut kontes berkicau.
Aku buka mata perlahan-lahan, dan meliht satu sosok wajah yang sama seperti beberapa jam atau beberapa saat yang lalu.
Dia tersenyum.
"Sudah cukup kan tidurnya? kamu terlalu lama memejamkan mata, liat matamu itu begitu sembab. Sama sekali tidak menarik!" ucapnya.
Aku ingin berucap, tapi mulutku seperti terkunci. Aku famliar dengan orang ini, tapi siapa ya?
Memikirkannya, kepalaku jadi terasa sakit. Aku cuma bisa meringis mencoba memegang kepalaku yang sepertinya diperban.
"Jangan pikirkan apapun, kamu bisa membuka mata saja itu sudah suatu keajaiban!" katanya lagi.
Aku sebenernya kenapa ya, kenapa ada banyak lebam di tanganku. Baru aja aku mengangkat tanganku yang diinfus, pria ini dengan sigap memegang tanganku.
Aku menurunkan kembali tanganku, kali ini mataku yang menelisik setiap sudut ruangan yang sangat luas ini. Tapi aku ngerasa ada yang kurang, ada hal yang sepertinya hilang.
Satu lintasan memori tiba-tiba datang begitu saja, ketika badanku melayang lalu aku dijatuhkan begitu saja.
"Aaaarrghhh!" kepalaku sakit.
Potongan memori satu persatu seperti kilatan petir yang menyambar sel-sel otakku.
"Aaaaarrghh!" aku memegangi kedua kepalaku.
"Kamu kenapa, Reva? apa yang sakit?" tanya pria itu yang baru aku kenali.
Harusnya aku bersama seseorang, bagaimana keadaannya. Apa dia baik-baik saja, atau? ada hal buruk yang terjadi sama dia?
"A-aku..." satu kata sulit sekali aku ucapkan.
"Iya, kenapa? bicara pelan-pelan saja. Kamu tenang dulu, jangan panik!" kata sosok galak yang sering aku jumpai di kantor. Penampilannya sungguh berbeda, aku sampai nggak bisa mengenali.
__ADS_1
"A-ak-ku ... arrrgh," aku pegangi kepalaku yang sakitnya bukan main.
"Kamu yang tenang, jangan panik! pelan-pelan, ucapkan apa yang ingin kamu katakan. Tapi jika itu terlalu sulit, jangan dipaksa..." ucapnya yang kemudian memberikan pelukan hangatnya.
Aku baru ingat kalau seharusnya aku ada di gedung tua bersama dengan Mona. Aku membuka masker oksigen yang menutupi mulutku, "A-k-ku h-arus, ket-temu sam-ma---"
"Sshhhh, jangan dilepas! kamu masih membutuhkan alat ini untuk bernafas!" potong mantan bos.
"Berkat kamu, dia baik-baik saja. Percaya sama saya..." kata pak Karan yang kembali dengan bahasa formalnya.
Dia nyuruh aku buat tiduran dan bersikap tenang. Tapi sejujurnya aku khawatir, keadaan Mona. Dan aku sampai saat ini aku belum ngeliat Ridho sama sekali. Apa dia marah sama aku karena aku udah lalai ngejagain adiknya?
"Ri-dho?" aku tatap pak Karan.
"Dia ... dia akan kesini, nanti..." jawabnya.
"Saya sengaja tidak memberitahu tante Ivanna, karena dia pasti akan khawatir dan cemas dengan keadaan kamu," ucap pak Karan
Aku mengangguk pelan, ya lebih baik mama nggak tau. Karena hal ini bakal bikin dia cemas mikirin aku.
"Kamu istirahat, supaya bisa cepat pulih..."
Dia ngelus punggung tanganku, dan tersenyum tipis.
"Jangan coba-coba menantang bahaya lagi, kamu bukan wanita super. Beruntung kamu masih hidup!" pak Karan memperingatkan.
Astaga, aku lagi sakit aja masih dimarahin. Kalau gitu mending aku merem. Jadi nggak denger suara sumbang adek sepupu.
"Hey, saya tau kamu hanya pura-pura tidur!" kata pak Karan.
Aku menahan bibirku supaya nggak tersenyum mendengar dia misuh-misuh.
"Hah, baiklah! tidur yang nyenyak. Panggil saja jika kamu butuh bantuan, aku ada di sofa sebelah sana..." ucapnya lagi.
Tapi aku masih aja merem dan ketika dia bangkit dari kursinya, aku membuka sedikit mataku dan segera aku tutup ketika dia sudah berbalik.
Tidak banyak yang aku bisa ingat soal kejadian waktu itu, tapi yang jelas aku dan Mona itu dijebak sama Bara dan Vena. Aku cuma bisa menghela nafas, pengen banget rasanya ketemu sama Ridho.
"Apa dia semarah itu? sampai nggak mau dateng nengokin aku? daritadi yang nemenin aku cuma pak Karan, atau Ridho lagi sibuk ngurusin Mona?" batinku bertanya-tanya.
__ADS_1