
Aku menutup mata dengan kedua telapak tangan, takut.
"Heh, kamu kenapa Reva?" tanya pak bos heran. Aku mengintip dari sela jari yang terbuka dan sosok itu ternyata udah menghilang.
"Gadis yang ada di dalam mimpi, tadi aku lihat ada di belakang punggung pak Karan," ucapku dalam hati.
Aku pun melihat ke sekeliling, setelah dirasa aman aku langsung pindah mepet disamping pak Karan.
"Astaga, kamu ini kenapa, Reva?"
"Tidak ada apa-apa, Pak..." ucapku takut sambil narik pak bos buat duduk beralaskan daun, kita nyender di batang pohon yang gede ditemani api unggun yang menolong kita dari kedinginan.
"Pak?" aku panggil pak bos.
"Laper..." aku memegang perutku yang kruyukan.
"Sama," jawab pak bos.
"Apa tidak ada lagi makanan di tas mu itu?" pak bos nunjuk tasku yang masih nyelempang di bahu dan aku taruh diatas paha.
Aku membuka tas, dan sekilas aku melihat hape. Baterai tinggal 30% dan belum ada tanda-tanda sinyal yang nyangkut.
"Huufh, aku matiin dulu aja lah, minimal supaya bisa menghemat daya," lirihku sambil memencet tombol power beberapa detik. Aku simpan kembali benda canggih itu dan beralih mengorek tas, mengambil dua bungkus snack.
"Sisa dua buat kita makan besok," aku nyodorin satu bungkus snack cokelat buat pak bos. Kita masing-masing makan satu.
Sesekali pak Karan menambahkan ranting atau kayu agar api tetap menyala, sementara semakin malam hawa dingin semakin membuat pori-pori kulitku mengecil.
Aku takut sosok gadis itu muncul lagi, jadi aku lingkerin tanganku di lengan pak Karan.
"Astaga, bagaimana saya bisa makan dengan tenang kalau kamu pegangin terus seperti ini?" ucap pak Karan yang baru menikmati dua gigitan snack di tangannya.
"Makan tinggal makan aja sih, Pak. Emh, saya kedinginan soalnya, saya takut hipotermi..." kataku beralasan.
Dia menghabiskan makanannya dan kemudian melepas tanganku secara tiba-tiba.
Aku yang mengira akan ditinggal, mendadak mepetin badan ke pak bos.
"Astaga, saya mau lepas jas jadi susah kalau kamu menempel terus seperti ini!"
"Jangan dilepas, disini banyak nyamuk, Pak. Lagian dingin banget kayak gini, nanti Bapak malah bisa..."
Belum selesai aku ngomong, pak bos udah lepasin jasnya dan nutupin badan kita berdua.
__ADS_1
"Diamlah, jangan fokus pada rasa dinginnya..." ucap pak bos.
Aku mendadak nggak bisa berkata-kata, bodohnya aku yang sempat lari sendirian di tengah hutan kayak gini. Nggak bisa kebayang kalau pak bos nggak nyari aku, mungkin aku bisa membeku disini sendirian.
"Pak? saya semakin pesimis..."
"Besok kita akan cari jalan lagi, jangan pikirkan apapun saat ini..." jawab pak bos enteng.
Astaga, gimana bisa dia bilang jangan pikirkan apapun sementara nasibku udah diujung tanduk.
Kita berdua diam di bawah selimut malam. Sesekali aku menghembuskan nafas, melepaskan rasa lelah yang mendera saat ini.
"Kamu pasti rindu dengan keluarga..." ucap pak bos dengan suara pelan.
"Pasti, Pak. Memangnya Bapak tidak merindukan keluarga?" aku nanya balik.
Pak bos ngebenerin posisi jas kita, supaya nggak melorot, "Tidak ada yang bisa dirindukan..."
"Pak Karan gimana, sih? minimal ada ayah atau nenek pak Karan yang bisa Bapak rindukan, kan..." kataku. Aku jadi ingat sosok nenek pak Karan yang galaknya minta ampun, aku bergidig ngeri.
"Kamu kenapa?" tanya pak bos yang mungkin menyadari pergerakanku.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Emh, kalau mama saya tau saya ngilang dan nyasar seperti ini, dia pasti heboh nyariin saya, Pak..."
"Emang dia nggak pernah ngerasain gimana rasanya punya keluarga?" gumamku dalam hati.
Dia mengeluarkan kain dari sakunya, dia melihat lagi simbol yang ada di dalam lingkaran full moon.
Aku mengambil kain itu dan melihatnya dengan seksama.
"Pak ... saya kok seperti nggak asing dengan simbol-simbol ini ya," aku menunjuk sebuah tulisan dengan huruf tertentu yang ditulis mengelilingi lingkaran bagian dalam.
"Coba saya lihat," pak bos mengambil lagi kain itu.
"Tidak begitu jelas. Besok kita akan mencari tau lagi..." pak bos mengantongi lagi kain itu.
"Pak, saya baru ingat kalau sekop atau spade itu melambangkan kegelapan yang ada di dalam diri manusia atau bisa juga melambangkan kematian,"
"Sok tau kamu..."
"Saya ingat karena salah satu teman saya ahli dalam permainan kartu, dia suka banget sama kartu, terutama kartu debit dan kredit," ucapku meyakinkan pak bos.
Ya, aku baru ingat dulu salah satu temenku namanya Roni, dia pernah ngejelasin satu persatu makna dari gambar yang ada di playing cards sewaktu dia pamerin trik sulapnya sama aku. Aku sama Roni lumayan deket, kita temen waktu kuliah sempet mau pacaran tapi nggak jadi karena udah nyaman jadi temen. Dari sekian kartu yang pernah dia jelasin, aku cuma ingat si sekop ini.
__ADS_1
"Jadi mungkin cincin batu merah milik ibu saya itu cincin terkutuk yang melambangkan kematian?" tanya pak Karan.
"Bisa jadi, Pak. Karena cincin ini ternyata bertuah..." aku menepuk tas, dimana cincin itu tersimpan.
"Sekop tadi jumlahnya ada 8, kayaknya kutukan itu nggak akan pernah ada ujungnya, Pak ... seperti garis di angka delapan yang tidak terputus," ucapku sok tewe, sok tau maksudnya.
"Tumben encer!" pak bos menunjuk pelipisku.
"Otak saya sebenernya encer, Pak. Bapak saja yang tidak tahu dan tempe..." ucapku menatap pak bos.
"Jadi, kutukan itu akan berlanjut?" tanya pak bos.
"Mungkin," aku menjatuhkan kepalaku di bahu pak Karan, mataku udah nggak kuat pengen merem.
Tanganku masih melingkar di lengan pak Karan. Selain aku takut kalau-kalau ada jurig nongol, aku juga takut kalau misalnya dia tiba-tiba pergi dan ninggalin aku.
"Teteh, abdi didieu..." suara lirih menyapa telingaku, aku yang kaget membuka mata. Aku terkejut sosok gadis kecil itu sudah ada di hadapanku.
"Teh, jangan takut. Abdi teh tidak jahat..." kata si bocah dengan suara khas orang sunda.
"Heh, sana pergi! pergiiii..." aku menjerit.
"Teh, ulah kitu. Abdi teh disini mau membantu Teteh..." kata bocah itu sendu.
"Nggak, nggak mungkin. Mana ada hantu mau ngebantu manusia?" ucapku dengan mata yang mencari keberadaan pak Karan.
"Terserah teteh mau percaya atau tidak. Yang jelas, waktu teteh di dalam hutan ini tidak banyak, sebelum kekuatan jahat akan menahan teteh di tempat ini selamanya..." ucap si bocah.
"Kamu ... jangan-jangan kamu hantu yang ada di kamar kosanku? kamu yang ketok-ketok pintu malam-malam, iya kan?" aku menuduh.
"Iya teh. Saya cuma ingin memberintahu kalau Teteh sudah menyimpan benda keramat. Benda yang sangat berbahaya percaya, Teh. Kembalikan cincin itu pada tempatnya, baru Teteh akan terlepasndari semua kesialan ini..."
"Tapi bagaimana aku bisa mengembalikannya?"
Si bocah itu memperlihatkan telapak tangannya memperlihatkan sebuah rangkaian huruf, "Epistrofi stin archiki thesi, kembalikan ke tempat semula. Prin tin panselino, sebelum bulan purnama..." ucap bocah itu sebelum menghilang.
"Hey, jangan pergiiiiii!" teriakku.
Dan seseorang menggoyangkan bahuku, "Revaaa, Revaaa sadar!" ucap seorang pria.
...----------------...
__ADS_1