Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Capek Diusilin Mulu


__ADS_3

Paginya aku bangun dengan keadaan yang kurang fresh. Sementara Ridho udah nge-chat mulu daritadi nyuruh aku siap-siap jam 8. Biar kita bisa breakfast together.


"Muka begini, harus tancap lebih extra!" aku poles sana sini biar menonjolkan kecantikan aing yang tiada duanya.


"Mau kemana, Mbak?" tanya Mona saat aku keluar kamar.


"Ada panggilan kerja," kataku percaya diri.


"Wah selamat,"


"Ehem, maksudnya panggilan buat test," ralatku lirih.


"Mas kamu udah dateng?"


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikummm," ucap seseorang yang mirip Ridho.


"Wih, panjang umur!" ucap Mona ynag ngibrit duluan ke depan. Dia bukain pintu buat masnya. Sedangkan aku nyangking sepatu buat aku pakai di depan.


"Waalaikumsalam, Mas..." ucap Mona.


Tumben nih bocah cerah ceria. Pasti ada udang dibalik bakwan nih. Biar aku nggak ngaduin kejadian semalem ke abangnya.


"Ada apa, Dho?" tanyaku. Soalnya si Ridho malah terpaku di depan jendela.


"Nggak apa-apa," ucapnya, tapi aku yakin dia itu lagi ada apa-apa. Kita kenal udah lumayan lama. Aku tau kalau raut mukanya yang kayak lagi mikirin sesuatu.


"Kamu yakin mau pakai itu?" tanya Ridho ngeliat penampilanku hari ini.


"Bagus, kan?" aku muter di depan kangmas. Sedangkan Mona mah liatin doang nggak komen.


"Baguslah!" ucapku maksa sambil naro sepatu di teras.


"Maksudnya, kita naik motor loh, Va! bukan mau naik mobil..." Ridho nunjuk motornya dengan dagu.


"Pakai legging aja, Mbak! ntar nyampe sana tinggal lepas, beres kan?" usul Mona. Tokcer juga nih otak calon adik ipar.


"Good idea!" aku menjentikkan jariku.


"Kamu tunggu bentar ya, Dho! aku pakai legging dulu!" aku cangkolin tasku di tangan Ridho aebelum ngibrit ke kamar.


Sampai di dalem kamar, aku mulai obrak abrik nih tas.


"Mana legging, ya?" aku mulai pikun. Nyari nggak ketemu-ketemu.


"Di koper yang kuning!" ucap seorang gadis.


"Oh iya, aku kan naro disana!" ucapku girang, tapi setelah beberapa saat aku baru sadar. Itu bukan suara Mona. Aku puter kepala liat ke belakang. Nggak ada siapa-siapa.

__ADS_1


Takut Ridho ngomel-ngomel, aku tutup koper dan pakai tuh legging supaya bisa cepetan keluar buat nemuin calon imam dunia akherat aing.


"Aku udah siap!" ucapku bersemangat.


"Aku duluan ya, Mon!" ucapku sambil pakai sepatu hak tinggi.


"Pelan-pelan ntar kesleo!" tegur Ridho.


"Tenang aku udah ahli!" ucapku setelah kedua sepatu udah terpakai dengan sangat sempurna.


"Mas pergi, Mon!" ucap Ridho sebelum tancap gas nganterin aku.


Aku ambil tas yang dipegang Ridho dan mulai naik ke atas motor. Selama di perjalanan Ridho nggak banyak cingcong.


Penampilannya persis kayak orang mau kerja. Apa mungkin supaya Mona nggak curiga kalau dia itu udah resign dan hari ini cuma mau nganterin aku buat test?


Ah, sabodo teuing. Yang penting hari ini aku udah prepare semuanya. Dan aku yakin hari ini bakal jadi awal yang baik buat aku.


Ridho berhentiin motornya di kedai yang ngejual bubur ayam. Ya emang jam segini paling enak ngisi perut sama yang anget-anget.


"Bubur komplit bang dua porsi!" seru Ridho sama abang penjual bubur.


"Minumnya apa, Mas?"


"Teh panas aja dua," kata Ridho.


"Oke, Mas ditunggu!"


Sambil nunggu pesanan dateng, Ridho nyemilin sate telor puyuh.


"Iya, Sayang!" jawab Ridho.


Duh pagi-pagi udah dipanggil sayang, jantung adek langsung joget dangdutan di dalem sini, Bang. Aselole, ahe!


"Ini buburnya, Mas!" ucap orang yang nganterin pesenan kita berdua lengkap dengan minumnya.


Bubur yang masih panas, mulai kita lahap dikit demi sedikit.


"Kamu yang semangat, yah!" ucap Ridho disela makannya.


"Pasti!" ucapku excited.


"Oh ya, Dho. Semalem ada yang gangguin lagi!" aku cerita dikit-dikit.


"Berarti energi dia kuat banget, Va! aku kira dia bakal diem setelah bikin kalian ketakutan waktu itu. Ternyata dia masuh bikin ulah ya?"


"Hu'um! aku sampai nggak bisa tidur tau, nggak?" ucapku.


"Sabar ya. Nanti kita doain tuh rumah biar pada dipindahin ke tempat lain..." kata Ridho.


Masih ada waktu buat kita ngabisin nih bubur dengan tenang. Pokoknya perut wajib diisi biae nggak oleng.


Setelah bayar, kita berdua lanjutin perjalanan buat ke tempat yang menjadi tujuan utama. Nyampe di parkiran khusus tamu, aku turun dari motor dan lepasin tuh helm bulet.

__ADS_1


"Nyari toilet dulu kali ya, Dho..." ucapku sambil celingukan.


"Kita nyari di dalem," ucap Ridho yang sisiran dengan jarinya buat benerin rambut.


"Yuk!" lanjut Ridho yang dengan langkah percaya dirinya gandeng aku masuk ke dalem.


Sampai lobby kita ke toilet dulu. Ini loh buat ngelepasin legging. Nggak mungkin kan aku lepasin di parkiran tadi. Walaupun sepi juga tapi nggak etis lah, lagian berabe kalau ada cctv-nya juga.


"Masuk gih, aku tunggu disini!" kata Ridho saat kita udah nyampe di toilet.


"Tungguin, ya..." ucapku.


"Iya..."


Perlakuan Ridho yang sengklek ini bikin siapapun ceweknya pasti meleleh parah. Biasanya kan ada aja yang suka ngomel kalau diminta nunggu.


Aku masuk buat sat set sat set lepasin legging. Setelah beres, aku celana yang super elastis berwarna hitam itu ke dalam tas.


"Benerin lenongan dulu!" gumamku.


Keluar dari bilik kamar mandi aku pergi ke wastafel.


"Please ya yang ada disini, kita damai-damai aja. Kalau kalian ada jangan nampakin diri ya, aku mau usaha buat benerin lenongan inih!" ucapku dalam hati sambil ngeluarin lipstik.


Tiba-tiba aja ada salah satu bilik kamar mandi yang terbuka dengan sendirinya.


"Bodo amatlah!" gumamku.


Aku benerin muka sekuasanya, udah cantik dari lahir mah kan beda. Make up cuma buat pemanis aja.


"Selesai!" ucapku setelah selesai.


Pas aku benerin blazer dan blouse eh si kran ngebuka sendiri.


Sooooooorrrrr!!!


Air keluar kayak ada orang yang cuci tangan.


"Air lagi mahal jangan boros!" aku tutup kran dan ngeloyor pergi.


Selama ini mereka udah menguasai rasa takutku. Aku mungkin di posisi udah capek diganggu mulu. Ini masalahnya aku mau usaha biar bisa kerja lagi, masih aja diusilin. Kan mereka kebangetan.


Tau banget aku, auraku emang terlalu kuat bahkan sampai melintasi dunia ghoib. Tapi jangan setiap saat dong, udah kaya iklan obat ketek aja 'setia setiap saat'.


Braaaakk!


Ada satu pintu bilik yang kayaknya dibanting.


"Baper dia!" ucapku dalam hati.


"Udah selesai?" tanya Ridho yang ngeliat penampilanku dari bawah ke atas.


"Udah dong!" jawabku.

__ADS_1


"Kirain kamu masuk ke toilet lagi tadi," ucap Ridho yang pasti denger suara pintu yang ditutup secara kasar tadi, sementara bisa nyengir sambil mata ngode Ridho kalau itu perbuatan makhluk lain.


...----------------...


__ADS_2