Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Dia Masih Ada


__ADS_3

Kata kangmas masih ada waktu buat ngejar subuh, maksudnya dia mau sholat bentar mumpung langit belum begitu terang. Dam kebetulan juga kita pas banget nglewatin mushola.


Kalau aku udah lemes banget, aku cuma nungguin di dalam mobil. Masih untung nih mobil bensinnya masih dalam taraf aman. Karena lumayan masih banyak.


Bayangin aja kita ninggalin rumah gitu aja. Kita lari-larian dan ujung-ujungnya dikejar setan. Bikin capek lahir batin, apalagi tadi senger cerita dari si ibuk penjaga warung. Tambah nggak karuan pikiranku sekarang.


"Kasih tanda ke Mami dong, Dek. Kalau kamu masih ada sama kita sampai sekarang," ucapku dengan pikiran kalut.


Dan waktu aku lagi nunggu kayak gini ada telepon dari adek sepupu.


"Ya Tuhan, kenapa baru sekarang jawab telfonku?" ucap adek sepupu khawatir.


"Nggak ada sinyal,"


"Bagaimana keadaan kamu sekarang? hem? Ridho sama kamu kan?" tanya pak Karan.


"Iya lah sama aku. Aku baik-baik aja. Kamu gimana?"


"Aku nggak apa-apa, aku masih di rumah kamu. Semuanya selesai ketika ada suara adzan subuh,"


"Kok samaan?"


"Maksudnya?" tanya pak Karan.


Akhirnya aku cerita apa yang aku alami secara singkat.


"Astaga. Sekarang lebih berhati-hatilah. Karena kita tidak tau apa yang sedang direncanakan orang itu,"


"Orang? siapa?"


"Kata pak Ridzwan, kemungkinan makhluk ghoib yang menyerang kalian itu ya kiriman dari orang, bisa karena dendam atau mungkin tumbal untuk pesugihan, atau untuk hal yang lain lagi," ucap pak Karan.


"Tapi kayaknya aku nggak punya musuh," aku mencoba mengingat-ingat.


"Yakin?"


"Nggak begitu yakin sih, tapi buat sekarang nama yang kepikiran di otakku ya cuma Karla, nggak ada yang lain," kataku.


"Tapi kita tidak bisa menuduh orang sembarangan," pak Karan ngingetin.


"Kamu nggak usah khawatir soal rumah. Aku sudah menyuruh orang untuk membereskannya dan menjaganya selama kalian pergi," ucap pak Karan.


"Makasih, dan nggak oerlu mencemaskan aku. Selama aku bersama Ridho aku yakin aku bakal baik-baik aja," ucapku.


"Ya udah, aku tutup dulu. Kami akan melanjutkan perjalanan," kataku yang menutup telfon secara sepihak karena aku melihat kangmas udah keluar dari musha dan lagi jalan tuh nyamperin mobil.


Aku kira dia bakal buka pintuobil yang bagian depan. Ternyata nggak. Dia malah buka pintu mobil yang di tengah, nggak tau dia nyari apaan.


Dia tutup pintu mibil lagi dan sekarang ngecek bagasi.

__ADS_1


"Nyari apaan sih?" gumamku.


Dan dia tutup lagi bagasi dengan membawa jeans dan kemeja di tangannya.


"Aku ganti baju dulu," ucap Ridho.


"Emang utu punya siapa?" tanyaku


"Punya yang punya nih mobil lah. Bodo amat, yang penting sekarang aku ada baju dulu, anggap aja pinjem..." kata Ridho.


Dan tanpa tau malu, Ridho masuk dan ganti baju gitu aja di dalem mobil. Dia nggak takut ada yang ngintipin apa gimana si? Astagaa.


"Kenapa ganti disini?"


"Darurat! lagian dari luar juga nggak keliatan," jawab Ridho yang sekarang udah rapi.


"Gimana, masih sakit nggak?" Ridho mencium perutku.


Aku cuma gelengin kepala.


"Kita cari rumah bidan Nela, ya?" dia mengelus kepalaku.


"Tapi nanti bayarnya?"


"Pakai uang yang ada, insya Allah cukup," ucap kangmas.


Ya udah, aku mencoba nurut sama imam dunia akheratku kangmas Ridho. Lagipula ini juga demi anak kita.


Rumahnya sederhana, nanya juga rumah di desa. Tapi bersih dan asri banget.


"Kita turun," ucap Ridho yang matiin mesin dan keluar. Dia jalan muterin mobil, buat bukain aku pintu.


"Hati-hati. Kamu kuat jalan nggak, Sayang? atau aku gendong lagi?" tanya Ridho.


"Apa kata orang kalau liat. Malu lah, aku masih bisa jalan kok," ucapku lemes.


Ridho memapah aku jalan. Kita berhenti di depan pintu yang kemudian di ketuk sama kangmas.


Tok?!


Tok?!


Tok?!


Ada keterangan tulisan 'Ada bidan' yang ditempel di tembok di samping pintu.


Dan beberapa menit kemudian ada seorang perempuan yang usianya sekitar 40 tahunan membuka pintu.


"Assalamualaikum, maaf. Apa benar ini rumahnya bu bidan Nela?"

__ADS_1


"Ya saya sendiri, ada apa, Mas?" tanya wanita yang ada di hadapan kami.


"Istri saya mau periksa kandungannya. Kebetulan dia merasakan sakit di perutnya," ucap Ridho.


"Oh ya silakan, silakan masuk..." bidan Nela yang berhijab itu memberi kami akses untuk masuk ke dalam ruang prakteknya.


Lagi lagi aku fokus ke kakinya, okelah napak lantai. Berarti aman.


"Silakan berbaring dulu, ya Mbak..." kata bu bidan yang gantian memapah aku buat tiduran di tempat tidur khusus yang digunakan untuk periksa pasien.


Bu bidan mengambil sarung tangan dan mulai memeriksa keadaan perutku, dia menekan-nekan di beberapa bagian.


"Apa rasanya sakit?"


"Ya,"


Lalu dia mengoleskan gel di perutku dan mulai memeriksa dengan sebuah alat yang mengeluarkan suara-suara berisik.


Aku cuma berdoa, anakku masih ada di dalam. Masih hidup dan nggak dicolong makhluk ghoib yang ada di rumah sakit.


"Detak jantungnya normal," ucap bu bidan.


"Detak jantung? berarti anak saya hidup?" tanyaku.


"Iya, Mbak. Detak jantungnya normal. Sekarang kita periksa letak janinnya ya?"


"Saya mau diapain?" tanyaku panik.


"Saya cuma mau palpasi saja kok, mbak nggak perlu takut," ucap bu Nela


"Tenang, Yank. Nggak bakalan diapa-apain kok," Ridho yang semula duduk di kurai di meja konsultasi, kini menghampiriku.


Dia menekan di bagian bawah perut, "Jangan terlalu lelah ya, Mbak. Posisi bayinya sudah masuk ke panggul. Kurangi aktivitas yang berat," ucap bu bidan.


"Apa itu artinya saya bisa melahirkan dalam waktu dekat?" tanyaku.


"Betul. Setiap kelahiran bisa berbeda-beda. Namun jika bayi lahir sebelum 37 minggu bisa dibilang kelahiran bayi itu prematur. Jadi lebih baik anda menjaga kesehatan dan banyak istirahat," ucap bu Nela.


"Sudah selesai pemeriksaannya, setelah ini saya akan berikan vitamin dan obat," ucap bu Nela yang membantuku untuk bangun dari posisi ku yang sedang rebahan.


Langit udah terang benerang walaupun suasananya masih dingin, saat aku dan Ridho keluar dari ruang praktek bidan Nela. Kami pulang dengan membawa obat.


Alhamdulillahnya, dia nggak matok harga yang mahal untuk pemeriksaan tadi. Aku masih pegang duit walaupun nggak seberapa. Sekian lama kehidupanku tercukupi, baru kali ini ngerasain kere lagi.


Pas aku lagi dipapah kangmas di teras rumahnya bu Nela, tiba-tiba ada nenek-nenek yang muncul dari arah depan. Dia jalan agak bungkuk dan masuk ke pelataran rumah bu bidan.


"Kalian siapa?" ucap si nenek dengan rambut putih yang digelung memakai kebaya kutu baru dan jarik.


"Saya pasiennya bu Nela, Nek..." ucapku hati-hati.

__ADS_1


Dia menatapku dengan tajam, lebih tepatnya melihat ke arah perutku. Aku yang menyadari itu sedikit cemas, takut si nenek mau berbuat yabg macam-macam.


__ADS_2