
Aku menutup pintu rapat sebelum aku nemuin pak bos lagi.
"Pak apa nggak sebaiknya kita keluar dari kamar ini, Pak?" ucapku ragu.
Pak Karan berdecak, "Ck, tadi kamu minta pintu ditutup, dan sekarang minta keluar dari sini, jangan labil kamu Reva!"
"Ya Allah, itu dulu emaknya si bos ngidam apa, ya? punya anak kayak gini amat. Bapak pikir Bapak nggak labil? tadi aja bilangnya aku, sekarang balik lagi ke saya. Sama-sama labil tolong jangan saling ngatain," aku ngedumel dalam hati, sambil mulut aku pleyat pleyotin.
"Kenapa bibir kamu seperti itu? kamu ada penyakit bawaan?" pak bos ngomongnya nggak ada saringannya sumpeh. Tadi aja peluk-peluk, sekarang malah marah-marah lagi. Emang susah ya bun kalau jadi bujang diumur sekian taun.
Daripada ngejawab pertanyaan pak bos tadi mending aku awasin nih kamar pakai dua mata yang dari tadi lirak-lirik ke segala arah. Serem banget, kuyang! Apalagi aku ngerasa lukisan ini kayak natap gitu ke aku. Aku yang kegeeran apa emang lukisan ini berasa kayak real banget? Tau, akh!
"Apa kamu setakut itu?" tanya pak bos.
"Saya hampir dibawa ke alam lain loh, Pak..." aku menolak lupa dengan kejadian tadi, hampir aja aku jadi atlet paralayang yang terbang tanpa parasut.
"Ya sudah, kita pergi ke ruang kerja saya, daripada kamu mengompol disini gara-gara ketakutan," kata pak bos, aku hanya bisa mendesis kesal.
"Sana kamu tutup dulu jendelanya," pak bos nunjuk jendela segede gaban pakai dagunya.
"Tapi Bapak jangan ninggalin saya apa lagi ngunci saya lagi disini, ya?"
"Astaga, iya iya. Tadi saya kunciin kamu disini supaya tidak ketahuan oma, dan supaya kamu tidak kabur juga. Mana saya tau kalau akhirnya kamu malah diganggu, karena selama saya masuk ke dalam kamar ini tidak ada sesuatu yang aneh kecuali kamu. Cepat kunci atau kamu saya tinggalkan sendirian disini!" pak bos ngecepres lancar banget kayak jalan tol.
Daripada aku ditinggal, lebih baik aku menuruti perintahnya, mencoba menutup jendela yang ternyata sangat berat dan besar. Aku sampai nggak percaya, kalau jendela ini tadi bisa kebuka sendiri, loh. Uwoooow, emejing!
"Duuuuh, susah banget dah ngenyawelnya!" aku menggerutu saat tanganku sangat sulit meraih jendela yang masih terbuka.
"Bisa cepat sedikit, Reva!"
"Sabar dulu, Pak! ini saya juga berusaha secepat mungkin," jawabku.
Brukk!
__ADS_1
Kedua Jendela pun akhirnya bisa aku tutup. Aku cepet-cepet nyamperin si bos. Dan kita keluar dari kamar ini.
Pak bos jalan di depan sedangkan aku ngintilin dia dari belakang. Mataku masih mengawasi barangkali ada hantu anak-anak yang sempat aku liat keliaran nggak jauh dari tangga.
"Jangan cepet-cepet, Pak!"
"Kamu saja yang lambat," pak bos nggak ada bedanya sama si oma yang nyelekit kalau nyemburin kata-kata.
"Kalau bapak marah-marah terus mending saya pulang, Pak. Lagian kalau terlalu lama di rumah ini nyawa saya malah terancam!" aku yang udah di tangga terakhir langsung turun dan berjalan menuju ruang tamu.
Pak Karan narik tanganku, "Saya minta maaf. Sekarang, ikut saya ke ruang kerja. Saya ingin teror ini cepat selesai dan kamu juga pasti menginginkan hal itu, kan?"
"Ck, ya sudah..." aku melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku.
Kita berdua berjalan ke ruang kerja pak bos yang kelam banget suasananya. Kayaknya pak bos ini benar-benar orangnya misterius dan introvert. Ini ruangan nggak ada ceria-cerianya sama sekali gitu, loh.
"Duduk!" pak bos nyuruh aku duduk. Jadi sekarang diriku dan dirinya duduk di sofa yang sama, udah kayak penganten buluuuk. Sabar ya bun, ini ujian. Astaghfirllah!
"Apa itu, Pak?" aku mengernyit saat pak Karan menjembreng sebuah kain cokelat di atas meja kaca.
"Saya juga tidak tahu," jawab pak Karan datar.
"Lalu untuk apa dibawa kemari?"
"Ya untuk dicari tahu, Reeevaaaa!" tuh kan mulai emosi si bapak. Tegangan tinggi nih orang.
"Ya udah sih, Pak. Saya kan hanya nanya,"
Aku udah males banget sebenernya, mana udah malem lagi. Mikir gimana caranya pulang aja udah pusing. Aku bisa jamin pak bos mana mau nganterin aing lagi, paling banter juga nyuruh supir. Itu juga kalau hatinya lagi baik.
Oke deh, aku ganti pertanyaannya, kali aja nggak bikin dia merong-merong lagi.
"Ehem ... lalu, bagaimana anda bisa menemukan kotak tersembunyi dibalik lukisan itu, Pak?" tanyaku tiba-tiba.
__ADS_1
"Saya menemukannya saat tidak sengaja ingin membenarkan posisi lukisan ibuku yang saya rasa kurang simetris," pak Karan yang semula fokus pada sesuatu yang tergeletak di meja, kini menoleh padaku.
"Lalu..."
"Saya menurunkan lukisan itu. Karena saya melihat ada sebuah goresan di bagian atas figuranya. Kamu tahu? lukisan itu sangat berarti buat saya. Dan saya tidak ingin lukisan itu menjadi rusak atau cacat..." jelas pak bos.
"Dan anda menemukan kotak besi itu saat anda menurunkannya?" aku mengingat sebuah lukisan wanita dengan hidung kecil yang mancung dan rambut ikal berwarna cokelat kemerahan yang ternyata menutupi sebuah brankas.
"Ya, kamu benar. Dan ternyata kata sandinya sangat mudah. Tanggal lahir ayahku, jika brankas ini milik ibuku tentu dia sangat ceroboh karena ini sangat mudah ditebak," kata pak Karan menggelengkan kepalanya sambil meletakkan kain di salah satu tangannya yang terbuka.
"Atau bisa jadi orang yang tidak Bapak ketahui memang sengaja melakukan itu agar anda atau mungkin orang yang ditargetkannya bisa menebak dan mengambil benda itu dengan mudah," aku nyeletuk sok tempe.
"Maksudnya seseorang itu saya?" lanjut pak Karan sambil menunjuk dirinya.
"Ya, mungkin bisa jadi bukan anda tapi bisa juga ayah atau saudara kandung anda, Pak. Kita tidak pernah tau apa ibu anda yang melakukan ini semua dan memang merencanakan ini sebagai wasiat terakhir atau apapun itu. Lagi pula anda bilang ibu anda sudah meninggal 5 tahun yang lalu, tapi bagaimana bisa cincin itu berada ditempat yang tidak aman, tapi tidak hilang? tidak munafik, Pak. Cincin itu sangat indah, terlebih lagi batu merah itu sangat langka. Saya yakin siapapun ingin memilikinya terlepas dari apa yang akan kita lihat setelah memakai cincin itu," aku mengungkapkan analisisku, sedangkan pak Karan menatapku tanpa berkedip, mungkin dia terpesona dengan otakku yang cespleng ini.
"Orang bodoh saja tidak mungkin menaruh barang sepenting itu di sembarang tempat. Apalagi jika cincin itu memang sangat berharga. Rasanya tidak mungkin jika ibu anda akan meletakkannya di laci nakas begitu saja, sedangkan kain ini malah tersimpan di dalam brankas," lanjutku.
Sedangkan pak bos masih memperhatikan benda yang ada di tangannya, sebuah kain yang berukuran tidak terlalu besar yang digambar dan ditulis dengan sebuah tinta warna hitam yang sekarang sudah mulai pudar.
Namun tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
"Kita lanjutkan nanti," pak Karan langsung memasukkan kain itu ke dalam sakunya.
"Permisi, Tuan. Ada seseorang yang mencari Mbak Reva..." ucap mbok Sri.
"Siapa?"
"Pak Ridho..." jawab mbok Sri.
"Ridho?" gumamku, dan aku langsung ditatap pak bos.
...----------------...
__ADS_1