
"Vaaaaa ... kok pintunya nggak ditutup?" ucap ayangku.
Mampuuuuuuuusss. Denger suara Ridho yang menggema, aing langsung panik. Persis kayak bini yang ketauan selekong. Pengennya ngumpetin pak Karan di bawah meja aja bawaannya, tapi itu nggak mungkin kan buldozerrrrrr.
"Aduh gimana ini?" aku bangkit dari kursi.
Mantan bos neken bahuku supaya aku duduk lagi, "Mau kemana kamu? duduk dan lanjutkan makan!"
Boro-boro aing bisa makan, yang ada ini napas jadi ngap-ngapan. Kenapa harus begini coba, ah cewek cantik emang suka diperebutkan.
Greeep!
Dia nutup pintu, "Reva Reva, lain kali tuh pintu ditutup. Ini kucing dan segala macam binatang bisa aja masuk ke dalem kalau pintunya melompong kayak begini!" gumam Ridho
Jantungku semakin jedor-jedor kayak tanjidor. Duh kepriben kiye, son!
Kulit kepalaku mendadak gatel, pengen aku garukin. Dan nggak sengaja di pojokan deket yang biasa buat cuci-cuci baju, si gadis penunggu mamerin senyum sinisnya.
"Seneng kan lu, liat aing menderita?" dasar setan laknat, aku ngeliatnya dengan tatapan garang.
"Makan!" adek sepupu deketin satu box makanan.
Tapi aku nggak akan bisa duduk tenang sementara yayang lagi jalan kemari, aku sontak berdiri dan pura-pura masang wajah cerah ceria seolah nggak terjadi apa-apa.
"Va aku bawa maka-nan..." ucap kangmas yang pasti terkejut dengan kehadiran mantan bos kita.
"Oh, lagi ada tamu dadakan?" lanjut Ridho yang cuek aja jalan nyamperin aku.
Aku kaget dengan sikap Ridho yang cuek kayak gitu, kayak yang bertamu itu bukan pak Karan gitu.
Ayang naruh belanjaannya di meja makan, tepat di samping kantong makanan punya pak Karan, lalu dia mepet ke aku, "Nasi goreng langganan kita,"
Dan...
Cup.
Ayang cium kepala aing, beuh kita udah kayak penganten baruuuu penganten baruuuuu.
__ADS_1
"Mona mana?" tanya Ridho yang udah kayak nanyain anak kita. Kok malah aku jadi melting, harusnya kan aku was-was jedar-jeder gludag-gludug, khawatir gitu kangmas akan murka dengan adanya rivalnya pak Karan yang ngeliatin dia dengan tatapan yang sama sekali nggak mengenakkan.
"Ada di kamar," ucapku agak kikuk.
"Piring yang kita beli udah dicuci belum?" dia ngelus kepalaku.
"Ehm, belum..."
"Eheeeeemmmmmmmm!" pak Karan berdehem, soalnya daritadi kayak dicuekin.
"Oh kita sampe lupa ada pak Karan. Sorry, Pak..." kata Ridho yang pede banget.
Kayaknya dia pengen nunjukin 'ini loh calon istri saya, anda jangan cem- macem, Pak!'
"Bapak kesini naik apa? kok nggak ada mobil Bapak di luar?" tanya Ridho yang narik kursi dan duduk dengan santainya.
"Bukan urusan kamu!" jawab pak Karan.
Sedangkan aku, mending ambil piring dan mangkok yang baru kita beli tadi siang dan cepetan nyuci piring di wastafel, sambil menyaksikan pertunjukkan saling serang menyerang antara Ridho dan pak Karan.
Dan bukan aing, hantu itu masih betah dipojokan. Heran banget deh, kok ya dia nggak pegel gitu dan seneng di tempat yang lembab begitu. Sabodo lah, yang penting dia anteng dan nggak ganggu. Kalau dia di-notice mulu yang ada dia kesenengan karena dianggep ada padahal kan tiada.
Suara pintu dibuka dari arah kamar Mona. Sekarang udah hampir jam 9 malam. Mona dateng dengan muka habis cuci muka, agak segeran soalnya.
"Mbak, laperrr! gimana kalau kitaaa ... pesen makanan," ucapnya, tapi dia langsung mingkem pas ngeliat ada tamu yang duduk di salah satu kursi meja makan.
"Eh, ada..." Mona bingung mau lanjut maju atau balik ke kamarnya.
"Mas beli nasgor, Mon!" kata Ridho.
Mona nunjuk ke kamarnya, "Mas kayaknya hape aku bunyi, mungkin telpon dari Bara..."
Mona balik lagi ke habitatnya, meninggalkan aku yang kini ngelapin piring dan mangkok berserta sendok garpu dengan tisu handuk. Sebenernya kita masih ada peralatan makan waktu sisaan di kontrakan sebelumnya, tapi nggak tau dapat ilham darimana, mendadak dia pengen beli lagi.
Kangmas bantuin aku nyiapin nasgor ke dalam piring, sedangkan mantan bos yang juga adek sepupu aing kayaknya nahan boker, eh nahan emosi gara-gara disuguhi pemandangan romantis ini.
Kayaknya Ridho lagi ganti strategi, dia lebih nunjukin keuwuan kita dan meminimalisir debat kusir dengan pak Karan.
__ADS_1
Sedangkan pak Karan ya tetap pak Karan yang vibes-nya tetep galak dan bossy dimana pun berada. Sorot matanya seakan bilang kalau 'apapun yang kalian lakukan, urang teh sabodoteuing', karena pada akhirnya duit yang bakal menentukan segalanya.
Perut udah laper, aku panggil Mona buat makan bareng. Dan ternyata si matan bos ogah pergi juga, dia malahan ikut makan bareng kita.
"Besok jangan pergi kemana-mana," ucap pak Karan disela makan malam rame-rame kita.
Ridho naikin satu alisnya, tatapannya nggak lepas dari sosok pak bos. Dalam hati mungkin 'punya rencana apa lagi sih ini mantan bos sombong?'
"Jangan pergi?" aku auto nengok ngelirik Ridho, nandain kalau aku nggak tau apa yang pak Karan maksud.
"Bukankah saya sudah bilang kalau ada orang suruhan saya yang akan mengirimkan furniture dan barang lainnya untuk mengisi rumah ini. Supaya kamu betah dan rumah ini tidak mirip bangunan kosong yang terbengkalai," kata pak Karan.
"Saya rasa itu tidak perlu!" serobot Ridho.
"Saya tidak berbicara dengan kamu," kata pak Karan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tapi saya berhak menolak karena rumah ini saya yang menyewa," Ridho nggak kehilabgan jawaban.
"Tapi saya juga bisa membeli rumah ini jika saya mau!" serang pak Karan.
Baru juga ngerasain suasana yang adem ayem, lah ini ada perang lagi yassalaaaaam. Kenapa sih mereka berdua, ada aja yang diributkan. Ya sebenernya nggak jauh beda sih kayak Karla dan aku waktu itu yang memperebutkan ayang Ridho.
Mona yang ngeliat abangnya sebegitu keukeuhnya juga ikutan mijitin kepalanya sendiri.
"Bapak tidak repot-repot membeli barang karena itu bisa saya lakukan untuk Reva. Lagian Bapak tidak tau selera Reva seperti apa," ucap Ridho dan menatap ke arahku.
Dia senyum, "Iya kan, Va?" Ridho menekankan ucapannya barusan.
"Ehm, iya, Dho..." jawabku.
"Bapak nggak perlu repot-repot, nanti juga kami bisa beli sendiri," lanjutku, supaya mantan bos nggak tersingging.
"Saya tidak perlu persetujuanmu. Saya akan melakukan apa yang ingin saya lakukan!" kata Pak Karan.
Dan lagi-lagi ucapan pak Karan ini emang mancing ikandi laut, maksudnya mancing kesabaran abang Ridho tersayang. Mereka nggak sadar aja, kalau mereka berdua jadi bahan tontonan makhluk lain yang kayaknya ngetawain kelakuan dua manusia ini.
Kalau Mona sih milih fokus dengan makanannya, dan ketika Ridho mau nyap-nyap. Aku tutup mulutnya dengan tanganku.
__ADS_1
"Dengerin!" kataku.
...----------------...