
"Maaf, pak haji. Ada hal yang ingin saya tanyakan..." ucapku.
"Silakan, Nak..." tanya pak Sarmin.
"Begini pak haji ... saya itu kan sering diganggu makhluk halus. Kayaknya dimana pun saya berada, ada aja kejadian mistis yang saya alami. Dan itu dimulai ketika saya memiliki sebuah cincin terkutuk..." ucapku.
"Ehm ... lalu, cincin itu sudah kembali ke asalnya. Tapi sejak saat itu, saya masih sering mendapat gangguan..." lanjutku.
Pak Sarmin manggut-manggut mendengar penjelasanku.
"Karena pada saat itu mata batinmu sudah terbuka. Dan sekarang kamu sangat peka terhadap kehadiran mereka-mereka yang seharusnya tidak nampak..." jawab pak Sarmin.
"Maka dari itu, Pak ... apa ada cara lain untuk menghilangkan kemampuan ini? karena jujur saja ini sangat menyulitkan hidup saya, pak haji..." ucapku sedangkan yang lain cuma nyimak ajah.
Pak Sarmin memejamkan matanya seraya menarik nafas, "Mata batin bukan seperti portal yang bisa dibuka dan ditutup begitu saja. Mungkin tidak bisa dihilangkan hanya mengurangi kepekaannya saja. Mungkin dari yang bisa melihat secara sempurna menjadi samar-samar..." ucap pak Sarmin.
Astogeeeeee, ini semua gara-gara cincin laknat itu. Aku sontak melihat ke arah adek sepupu dengan tatapan tidak mengenakkan. Dia pun menatap balik aku dengan alis tebalnya yang saling bertaut.
"Apa itu sangat mengganggu kamu?" tanya pak Karan.
"Sangat, Pak!" jawabku dengan penuh penekanan.
"Begini saja, Nak Reva. Bapak bantu untuk mengurangi kepekaan batin nak Reva dalam melihat makhluk halus. Setidaknya itu yang bisa dilakukan..." ucap pak Sarmin.
"Baiklah, pak haji..." aku mengangguk tanda setuju.
Dan di sore itu juga, aku dibantu pak Sarmin untuk menutup separuh mata batin yang sudah kadung terbuka. Sebenernya prinsipku, mereka mau ada mau nggak yang penting nggak mengganggu aktivitasku. Jangan tau-tau aku digondol kemana gitu terus jadi ilang dan akhirnya jadi sumber masalah bagi orang lain.
Ridho sih menghormati keputusanku ini yang udah capek ngeliat penampakan makhluk tak kasat mata. Setelah itu aku dituntun untuk melafalkan doa oleh pak Sarmin, dan prosesi ini pun selesai dalam waktu kurang dari satu jam.
"Jangan tinggalkan ibadah, karena itu yang bisa membentengi diri kita dari hal-hal yang tidak masuk akal..." ucap pak Sarmin.
"Terima kasih wejangannya pak haji..." ucap Ridho.
__ADS_1
"Oh ya, Pak! ini sekedar ucapan terima kasih dari saya, karena sudah menemukan saudara sepupu saya yang sangat merepotkan ini..." pak Karan menyodorkan ampop coklat berbentuk persegi panjang yang isinya pasti duit gepokan.
"Tidak perlu seperti ini, Nak. Saya menolong ikhlas, jadi simpan saja uang ini untuk yang lebih penting..." ucap pak Sarmin.
Aku dan Ridho pun kedip-kedip melihat pak Karan yang seakan ingin memberikan imbalan atas apa yang sudah dilakukan pak Sarmin.
"Mohon diterima karena saya juga ikhlas. Bagaimana pun kami sudah banyak merepotkan. Anggap saja ini syukuran atas selamatnya anak menyebalkan ini," ucap pak Karan yang menepuk pundakku. Dan segera ditepis oleh mas pacar.
"Adeuh mau mulai lagi mereka berdua..." batinku.
Pak Karan keukeuh tidak mau uang itu dikembalikan, akhirnya mau tidak mau pak Sarmin menerimanya.
"Meskipun saya sangat tidak mengharapkan ini, tapi saya ucapkan terima kasih..." kata pak Sarmin.
Bukan cuma pak Sarmin yang dikasih, tapi mas Rahman, Danang dan juga Juned pun ikut kebagian amplop yang berisikan uang. Pak Karan juga menitipkan untuk mbak Luri.
Itu adek sepupu duitnya udah overload apa gimana ya, tapi ya udah lah bukan urusan aku. Kan aku nggak nyuruh ataupun minta.
Setelah kita berpamitan akhirnya sore ini kita bisa pulang dengan membawa mbak Sena. Aku duduk disampingnya.
"Untuk sementara waktu biar mbak Sena tinggal sama kamu dulu. Nanti kita hubungi keluarganya supaya jemput di kontrakan," ucap Ridho.
"Iya Dho ... lagian nggak tega juga ninggalin dia sendirian..." ucapku. Mbak Sena yang kondisinya masih lemah, tertidur pulas tanpa dosa di dalam mobil. Aku pun belum banyak bicara dengan dia, aku takut salah nanya. Kan kata Ridho mulutku remnya blong.
"Kamu tidur aja, kalau udah nyampe ntar aku tinggalin, eh bangunin..." ucap Ridho.
Enak aja tinggalin. Gayanya doang sok begitu giliran aing ilang juga dia kalang kabut.
"Traumahhh!" kataku
"Trauma nggak pake 'h'..." Ridho protes dengan jawabanku.
"Lagian ada aku, tenang aja. Aku bakal jagain kamu..."
__ADS_1
"Halah, malam itu juga kamu bilangnya begitu. Tenang aja, ada aku ... aku bakal jagain kok! tapi semua itu hanyalah dusta buldoserrr! Dasar kang gombal gambel, pemberi harapan palsu!" aku mencibir ucapan Ridho.
"Ya aku akui itu aku yang teledor. Kenapa bisa sampai terkecoh, tapi ternyata kan kesialan malam itu membawa keuntungan. Kamu bisa ketemu sama mbak Sena. Mungkin jalannya emang harus begitu, Va..." kata Ridho.
"Aku ilang sebenernya kamu sedih atau nggak sih?"
aku mulai curiga air mata yang Ridho keluarin iti cuma air mata buaya.
"Ya sedih, khawatir, narah, kecewa campur aduk kayak karedok jadi satu, Va! TBL TBL TBL gitu, Va ... Takut banget Loh! masa kamu nggak bisa ngerasain hati aku yang tersayat-sayat ini sih, Va?" Ridho mulai lebay.
Asli itu mungkin supir pak Karan bisa gumoh dadakan dan pusing berkelanjutan dengerin dua orang yang berdebat nggak ada ujungnya.
Ridho nengok ke kursi belakang.
"Hati aku uda dicolong semua sama kamu tau, Va!" ucapnya nggak tau malu.
"Ridhooooo, malu tau sama mas yang nyetir!" aku lirik ke arah supir yang daritadi diem bae tapi aku yakin tertekan lahir batin.
"Abangnya juga paham rasanya orang lagi kasmaran, Va!" kata Ridho terang-terangan.
"Iya kan, Bang?" dia liat ke arah supirnya pak Karan yang masih muda.
"Eh, iya Mas. Santai aja ... lanjutin aja, itung-itung saya ngilmu," ucap si supir yang belum tau siapa namanya apalagi wetonnya.
"Ngilmu tentang perlope-lopean ya, Bang! tenang saya banyak triknya, ntar saya kasih tau! gini-gini saya itu banyak yang naksir, terutama yang lagi duduk di kursi belakang yang bibirnya minta dikaretin!" ucap Ridho kumat lagi slengeannya.
Males nanggepin ocehannya Ridho yang nggak ada jaminan mutunya, mending aing mainan hape.
Baru juga dibuka tau-tau hapenya ngedrop.
"Astaga, hape koit disaat yang nggak tepat! huh, nyebelin!" aku masukin tuh benda canggih ke dalam saku celana.
Nggak ada kegiatan lagi selain liat pemandangan di luar lewat jendela mobil sambil nyenderin kepala yang sebenernya udah kliyengan perkara kecapean.
__ADS_1
...----------------...