Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Apa Yang Ingin Dia Tunjukkan?


__ADS_3

"Mas udah makan?" aku denger Mona nanyain Ridho sewaktu aku mau jalan ke kamar.


"Udah, Mon! makanya mas bungkusin juga buat kamu," kata Ridho.


Aku buka pintu kamar dan segera menutupnya, "Huufhh, pasti abis makan sama si karet. Perasaan dulu mereka nggak deket, terus kenapa sekarang jadi akrab gitu? boncengan, makan bareng. Ck, malesin banget!" aku buka lilitan handuk di rambutku yang setengah kering.


"Kalau satu divisi oke lah mereka deket wajar lah ini satunya divisi keuangan satunya divisi marketing. Bisa banget si Karla masarin hatinya ke Ridho. Arghhh, lagian kenapa juga aku harus mikirin dua orang itu! buang-buang waktu," mulutku seakan nggak mau berhenti ngomel.


"Lagi males-malesnya kayak gini nomor pak bos nelpon inyong bae! ya ampuuuun," aku mengusak-usek rambutku sendiri saking jengkelnya ditambah keadaan hatiku yang seperti balon hijau, doooor!


"Saya tuh lagi males sama yang galak-galak! anda mengerti dong, Pak!" aku bentak hape yang tak bersalah. Tenang, belum aku swipe kok layarnya. Paling nggak ngeluarin unek-unek dulu sebelum kena semprot omongan pak bos yang suka nylekit.


"Halo, Pak..." aku ngucap dengan suara senormal mungkin.


"Reva, keluar. Saya tunggu di depan," pak Karan nyuruh.


"Keluar kemana, Pak?" aku mendadak bego, mungkin karena abis makan cabe 10 biji tadi.


"Keluar dari rumah kontrakan Ridho, saya ada perlu. Cepat saya tunggu dalam waktu 5 menit dari sekarang," perintah pak Karan dan panggilan pun diputus secara sepihak sama pak Karan.


"5 menit? gila emang itu orang! udah diluar jam kerja masih aja nyuruh-nyuruh! dasar orang kaya nggak punya aturan! muka ganteng dompet tebel tapi kalau udah nyuruh nggak bisa denger kata nanti. Pantes aja masih sendiri!" aku ngomel sambil pakai jeans kesayangan, aku asal samber aja kardigan dan tas.


Aku buka pintu dan pas banget ada Mona di depan kamar.


"Astaghfirllah Mbak Reva bikin Mona hampir jantungan tau, nggak?" Mona keliatan banget mukanya kaget gitu. Sedangkan aku melihat gebetan si karet nasi warteg ada di belakang Mona. Mungkin dia tadi mau lewat ke ruang tamu, berhubung ada bidadari nongol, dia mendadak ngerem kaki.


"Sorry ya, Mon. Nggak sengaja," aku nyengir ke Mona ya, bukan ke kangmasnya.


"Mbak Reva mau kemana? udah malem, loh!" kata Mona.

__ADS_1


"Ada tugas negara. Oh ya, kalau mau tidur kunci aja pintunya. Aku bawa kunci cadangan, kok. Bye, Mona!" aku langsung minggir dan keluar dari kamar dengan langkah yang super cepat.


Aku denger Mona masuk kamar, sementara Ridho secepat kilat mengejarku dan nahan pintu depan supaya nggak bisa aku buka.


"Mau kemana? nggak liat ini udah malem? banyak setan yang gentayangan, lagian besok kita mau perjalanan jauh," kata Ridho.


"Minggir, deh! iya aku tau kok besok mau pergi. Jadi biarin aku pergi supaya pulang nggak kemaleman," aku nyingkirin tangan Ridho. Dan kini yang ditahan bukan pintu, tapi bahu ku.


"Iya, tapi sama siapa?" tanya Ridho maksa.


"Pak Karan Perkasa, udah jelas? udah ya, nanti aku disemprot kalau bikin dia kelamaan nunggu," aku maksa buka pintu. Sedangkan Ridho ngebiarin gitu aja.


Aku setengah berlari menuju mobil sport milik pak bos.


"5 menit 10 detik. Kamu terlambat!" pak bos langsung tancap gas.


"Kamu lagi sakit kayaknya, ya? apa mungkin karena kebentur mobil saya yang itu kamu jadi begini? ah, mungkin saya nanti datangkan dokter jiwa supaya bisa memeriksa kamu, Reva. Tenang saja saya akan bertanggung jawab penuh, bagaimanapun melihat setan setiap hari pasti tidak mudah dan menjadi beban tersendiri," pak bos melihatku dengan iba.


"Astaga, ini bos galak mikirnya aku udah setres dan harus segera diperiksa oleh ahlinya? emang bener-bener lakik nggak ada yang beres ini, nggak Ridho nggak pak Karan semuanya bikin darah cepet mendidih. Lagian akubtuh nggak kebentur mobil dia tapi sengaja dibenturin kepalanya sama dia, sing sabar Reva..." aku ngomong sendiri di dalam hati.


"Kita mau kemana, Pak? gini-gini saya anak baik-baik loh, Pak..." aku khawatir dia mau bawa aku ke tempat jedag jedug aselole.


"Saya akan menunjukkan sesuatu di rumah saya,"


Aku bertanya-tanya dalam benakku, sebenarnya apa yang ingin pak bos tunjukkan. Apa nggak bisa gitu dia ngasih lewat telfon atau apa gitu, ngapain harus ke rumahnya segala.


Dan untuk menjawab rasa penasaranku, mau nggak mau aku harus ikut dia ke rumahnya. Dan bangunan megah tapi auranya nakutin itu pun berada di depan mata. Dia mengajak aku ke lantai dua. Aku melihat ada anak laki-laki yang berlarian di bawah, tapi aku berusaha nggak peduliin gerak-gerik bocah itu. Aku fokus pada setiap anak tangga yang aku pijak.


Pak Karan, berhenti di depan sebuah kamar, entah milik siapa. Aku sampai disini nggak ngerti dia mau ngapain, karena sepanjang perjalanan dia nggak banyak ngomong. Aku mulai cemas, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

__ADS_1


"Ini kamar ibuku," kata pak Karan dengan tatapan yang sendu. Lalu ia membuka kamar yang sangat mewah itu.


Perlahan pak Karan masuk ke dalam, sedangkan aku masih berdiri di depan pintu.


"Jangan hanya berdiri disitu, masuklah..." perintah pak Karan. Aku dengan takut-takut berjalan memasuki sebuah kamar yang dilapisi karpet.


Aku berjalan ke dalam kamar dengan gaya elegant dan sudah pasti barang-barang disini sangat mahal. Aku hanya berdiri di samping pak Karan tanpa berniat menyentuh barang apapun yang ada di kamar ini.


Pria yang terkenal galak itu memandang ke arah lukisan seorang wanita yang sangat cantik.


"Dia ibuku," kata pak Karan. Aku bingung mau jawab apa, kasih salam juga nggak mungkin karena itu lukisan.


"Sangat mirip dengan anda, Pak..." hanya itu yang bisa aku katakan pada pak Karan.


"Jelas, semua orang akan berkata seperti itu. Tapi mereka semua tidak tahu jika aku..." ucapan pak Karan terpotong karena ada suara ketukan pintu. Kami berdua pun menoleh ke arah yang sama.


"Maaf, Tuan. Nyonya besar datang berkunjung..." kata mbok Sri.


"Oma? ada apa oma datang malam-malam begini?" tanya pak Karan nggak tau dia nanya sama siapa.


"Saya tidak tahu, Tuan..."


"Baiklah, katakan kalau saya akan menemuinya," kata pak Karan. Mendengar kata oma saja udah ngebuat aku ketar-ketir. Belum siap mental dengerin kata-katanya yang pedes seperti cabe bubuk level 20.


"Kamu tunggu saja disini, saya akan segera kembali," kata pak Karan.


"Apa dia bilang? nunggu disini sendirian? nggak mauuuuuu!" teriakku dalam hati.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2