
Duh berasa penganten baru kalau kayak gini mah, digendong di depan aing jadi malu.
Rasa sakit cekit-cekit perih berasa ilang saat dengerin detak jatungnya kangmas yang bledar-bledor.
"Tolong, Sus!" ucap Ridho.
Duh Ridho ngomong tolongnya kenapa lembut begitu, itu perawat bisa kesengsem sama kamu.
"Taruh disini saja, Mas!"
"Aduuuhhh, aku mau melahirrkaaaan!" ucapku sok drama.
"Melahirkan bayi semut? perut rata begini, kok!" ucap Ridho yang ngetukin jarinya di perutku.
"Maaf ya, Sus! ini orang agak mensle dikit kalau tengah malem begini, pengenbya disayang-sayang mulu!" ucap Ridho nggak tau malu. Si perawat cuma gelengin kepala, mungkin awalnya dia kesengsem sama sikap cool dan lembut Ridho. Pas tau ternyata sengklek juga otaknya, si mbak kayaknya balik kanan, nggak jadi suka.
"Jangan bikin heboh deh, Va! ini udah jam 2 pagi tau, nggak?" ucap Ridho.
"Mumpung nggak ada pasien lagi, Dho! kan mereka jadi ada kerjaan nolongin aku," ucapku.
Selang beberapa menit ada dokter yang datang memeriksa, "Apa ada luka lain selain ini?" tanya dokter pria. Ridho masih mendampingi calon istrinya yang cantik jelita.
"Kayaknya cuma yang di tangan sama yang diperut tadi kena tendang," kataku sambil pegang perutku dari luar baju.
"Kena tendang?" Dokter yang memang tampan itu memandang Ridho dengan tatapan aneh.
"Eeh, dokter mau ngapain?" tanya Ridho yang ngeliat sang dokter ganteng mau ngecek keadaan perutku.
"Mengecek apa ada luka memar atau semacamnya,"
"Perawat wanita saja kalau begitu yang ngecekin!" protes ayang posesif.
"Huuufh, ya sudah. Saya kasih obat anti nyeri saja, lukanya nanti dibalut supaya tidak terkena air atau debu," kata si Dokter.
__ADS_1
"Loh kok cuma dikasih anti nyeri? kan belum diperiksa, kali aja ada luka serius di perutnya!" kata Ridho.
"Astaghfirllahal'adziiiiiiiiiiiim!" pak dokter kayaknya pengen resign aja udah kalau semua pasiennya modelan kayak Ridho.
"Loh pak dokter malah sibuk nyebut. Ini calon istri saya cepat ditangani! kasian itu tangannya luka, kalau infeksi gimana? apa pak dokter mau tanggung jawab?" Ridho gelengin kepalanya nggam habis pikir dengan dokter ganteng yang sekarang ngelus dadanya sendiri. Mungkin ngumpulin kesabaran biar nggak jedotin kepalanya di tembok.
"Sebentar ya, ini juga saya mau panggil perawat buat ngebalut luka tangan calon istri anda!"
"Loh kok perawat? emangnya dokter nggak bisa?"
"Bisaaa, kalau anda nggak ngomong terus," kata dokter yang kesabarannya kian menipis.
"Ck, Ridhoooo...! jangan rese napa!" aku berdecak kesal ngeliat polahnya kangmas.
Tapi kangmas cuek aja, dia nggak ngerasa salah udah bikin pak dokter ganteng yang kulitnya putih itu mendadak merah, karena nahan marah. Gimana pun ini udah dini hari, mereka yang jaga disini pasti udah nahan ngantuk dan capek karena tenaganya diforsir di jam-jam orang pada tidur.
Akhirnya yang ngerjain balut luka dokter sama perawatnya. Mbak perawat juga ngecek perutku yang tadi ketendang sama Aris. Vangke emang itu cowok, beraninya dia main kekerasan sama perempuan.
Selesai ditangani, Ridho boleh masuk lagi nemenin aku. Dengan kedua punggung tangan yang luka, bikin aku udah nggak mau diinfus-infus lagi.
"Nggak ada tempat, Sayang!"
"Ya kamu tidur di bawah, kalau aku di sofa," usulku.
"Kamu nggak bakal nyaman walaupun tidur di sofa. Terus si Bara mau dikemanain? nggak mungkin aku nyuruh dia pulang sekarang, ini hampir jam 3 pagi loh!" kata Ridho.
"Ya iya deh, aku balik ke alamku, puas?" aku merengut.
"Sabar ya? ntar aku tengokin deh..." kata kangmas, aku masih rebahan di brankar IGD.
"Waktu itu juga bilangnya mau nyamperin, tapi apa? semua itu hanyalah tipu daya bulgoooozoo!!!" ucapku sinis.
"Maaf, bukannya aku nggak mau nengok atau jadi kang pemberi harapan palsu, tapi ada hal yang lebih penting dari itu..."
__ADS_1
"Oooooh, jadi menurut kamu aku nggak penting, gitu? iya?" suaraku naik satu oktaf.
"Astagaaa, itu mulut apa toa sih? kenceng amat ngomongnya?!" Ridho nyubit bibirku pakai tangannya.
"Kamu penting yapi keselamatan Mona juga penting, Va! aku nggak ke ruang rawat kamu karena Mona makin lama makin histeris, dan aku telpon pak Sarmin buat nyari tau Mona itu sebenernya kenapa, terus ya aku disuruh ke bawah buat sholat sedangkan pak Sarmin ngirimin doa dari jarak jauh..."
"Ternyata emang bener, apa yang terjadi sama Mona itu sesuatu yang di luar nalar. Dia diganggu sama makhluk ghoib kiriman dari orang..." ucap kangmas.
Nggak nyangka ada orang yang tega berbuat seperti itu karena sebuah rasa tidak suka atau rasa dendam. Aku emang egois ya, disaat seperti ini aku malah mikirin diri sendiri.
Nggak mau ninggalin Mona berduaan terlalu lama dengan Bara, Ridho nganterin aku balik lagi ke kamar rawatku. Disana masih ada adek sepupu.
"Kamu baik-baik disini, aku liat keadaan Mona dulu..." ucap Ridho yang nganterin aku sampai aku rebahan di tempat tidur pasien. Aku cuma ngangguk, walaupun dalam hati pengennya ditungguin sama ayang, tapi balik lagi aku nggak boleh egois.
"Saya titip Reva dulu, Pak!" ucap Ridho yang menekan rasa gengsinya.
"Hem!" sahut pak Karan.
"Aku balik dulu, Va..." kata Ridho yang kemudian berjalan dan menghilang ketika pintu kamar kembali tertutup.
"Tidurlah, ini hampir subuh!" ucap pak Karan yang juga merebahkan dirinya di sofa.
Tumben-tumbenan nih orang nggak ngajak debat dulu. Biasanya kan dia nyerocos mulu dan bikin emosi aing jadi naik.
Tapi karena udah capek dengan kejadian yang aku alami seharian ini, nggak butuh waktu lama aku pun memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhku yang udah diajak kedebag-kedebug dari pagi sampai pagi lagi.
Baru juga mau ngeliyep, eh aku denger pak Karan bangun dari sofa. Aku yang tadinyaau merem mendadak ngebuka mata dikit, ngintip apa yang bakal dia lakuin.
"Ngapain tuh orang? nyuruh aku tidur tapi nyatanya dia sendiri malah masih terjaga!" ucapku dalam hati.
Ternyata adek sepupu ngebuka tirai jendela, dia liat ke langit. Nggak tau apa yang lagi dia pikirin, sosok tegap itu berdiri cukup lama hanya untuk memandangi langit yang saat itu nggak bertabur bintang, sepi kayak hidupnya.
Tiba-tiba dia puter badannya, aku auto merem. Pura-pura udah tidur pules. Sebenernya aku juga ngerasa nggak enak dan malu karena udah salah nuduh pak Karan, aku bakal minta maaf tapi bukan sekarang. Karena aku udah mulai ngantuk dan lelah.
__ADS_1
Hanya perasaanku atau bagaimana, tapi sekarang aku ngerasa dia lagi jalan ke arah ranjangku. Aku senatural mungkin merem, supaya dia nggak curiga kalau aku sebenernya masih belum tidur.
"Jangan terlalu banyak berpikir, tidurlah! istirahatkan tubuhmu!" ucapnya sambil ngelus pucuk kepalaku.