Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Aku Nggak Mau Kehilangan Kamu


__ADS_3

Nggak ada akhlak emang si Rania. Bisa-bisanya dia nyuruh aku buang keris di lautan. Yang bikin aku hampir kehilangan nyawa untuk kesekian kalinya. Aku dan Ridho udah kayak kayu yang ngapung di air, mana aing kagak bisa renang. Rasa parnonya kan berkali-kali lipat daripada Ridho yang badannya licin kayak ikan. Sat set sat set dalam air.


Disini, aku dirawat berdua satu ruangan sama Ridho. Nggak tau siapa yang minta, tapi mendingan aja lah daripada sendirian juga horor banget. Kali aja tuh dukunnya si Cherryl ngamook perkara peletnya gatot alias gagal total terus ngirimin makhluk-makhluk nggak jelas kemari.


Tok!


Tok!


Tok!


"Revaaaaa?" pak Karan dateng dengan wajah yang cemas.


"Astaga, apa yang terjadi?" lanjutnya. yang membawa satu buket bunga mawar merah.


"Aku nggak apa-apa, cuma nyemplung di laut!" jawabku.


Sreeeeekkk!


Ridho buka tirai nomor satu, eh.


Ridho buka Rirai, dia natap pak Karan nggak suka apalagi liat tangan adek sepupuku yang nangkring di kepala aing yang lagi pusing.


"Kamu?" pak Karan mengernyit.


"Sudah aku duga, pasti dia celaka ada sangkut pautnya dengan kamu!" tuduh pak Karan.


"Eh eh, bukaaan! bukan karena Ridho! tapi aku sendiri..." ucapku nyerobot ucapak adek sepupu.


"Kalau nggak ada Ridho mungkin aku udah mati tenggelam,"


"Bukannya dia yang--"


"Bukan..." aku geleng kepala.


"Ridho udah bener ngingetin aku, tapi akunya aja yang badung dan ngeyelan..." ucapku, akhirnya aku ceritain tuh kenapa aku bisa sampai nyungsruk di lautan dan ngerasain ganasnya ombak.


"Astagaaaa! dasar wanita cerobooh!" pak Karan ngedorong jidatku dengan telunjuknya. Dan sesuai prediksi, Ridho panas dibuatnya. Aku bisa ngeliat itu dari sorot matanya kalau dia nggak suka aku deket sama pak Karan.


"Sebelum berlayar, apa kamu tidak melihat perkiraan cuaca terlebih dahulu?"


"Nggak! aku buru-buru mau buang keris itu. Eh taunya, keris dibuang nyawa hampir melayang..." selorohku.


"Lain kali jangan bertindak sembrono! masih untung kamu bisa selamat, bagaimana kalau tidak?"


"Ya gentayangan, dan aku bakal gentayangin kalian berdua yang sukanya ribut terus kalau ketemu..." aku melirik ke arah Ridho dan pak Karan secara bergantian.


Ridho diem aja denger aku ngelucu, bad mood parah dia. Sedangkan pak Karan cuma bisa ketawa tipis, lumayan banyak kemajuan nih orang. Udah nggak angker lagi mukanya.

__ADS_1


Ini udah malem, pak Karan ijin pulang. Sebenernya dia sempat mempertanyakan kenapa aku bisa satu ruanga begini sama Ridho. Akhirnya Ridho dipindah ke kamar sebelah. Padahal mah kita nggak bakal aneh-aneh ya, tapi tetep aja katanya nggak boleh. Ya udah demi keamanan bersama, aku iyain aja.


"Padahal kan banyak yang pengen aku lurusin, tapi berhubung kepisah ya udah apa boleh buat.


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang datang lagi dan kali ini Barraq.


"Hai," ucapnya ketika melihat aku lagi setengah rebahan.


"Kamu kesini?" aku nyoba buat duduk tapi Barraq mencegah.


"Udah santai aja, tiduran aja. Keadaan kamu belum pulih sepenuhnya," kata Barraq.


"Kok tau sih aku dirawat disini?"


"Apa sih yang aku nggak tau. Lagian berita tentang kapal yang tenggelam, tmyang hampir menewaskan sekian banyak awak kapal dan juga orang yang menyewanya udah menuhin berita di tivi nasional dan juga media online hari ini. Begitu berita itu nyampe di telingaku, aku mastiin kebenarannya. Dan ternyata kamu penyewa kapal itu..." ucap Barraq.


"Kamu bikin aku khawatir, Rev!" lanjut laki-laki itu.


"Oh,"


"Nggak tau ya, ada hubungannya apa nggak. Yang jelas sesaat setelah aku buang tuh keris, lautan yang tenang mendadak jadi ganas. Kayak mau bikin aku ikutan tenggelam bareng keris yang aku buang itu, tapi syukurlah aku masih bisa selamat..."


"Maaf ya, Rev. Harusnya aku yang buang benda itu bukan kamu..." kata Barraq menyesal.


"Nggak usah ngerasa nggak enak. Lagian aku yang janji sama Rania, dan jangan ngerasa bersalah kayak gitu..." ucapku dengan senyuman tipis.


"Tapi tetep aja, Rev..."


"Udahlah, yang penting aku bisa napas sampai sekarang..." ucapku.


"Oh ya, ini bunga buat kamu. Semoga kamu cepat sembuh, wahai tetangga..." kata Barraq yang ngasih aku mawar putih. Dan sekilas dia ngeliat ada buket mawar merah di sampingku.


"Wah, ada yang duluan ngasih bunga..." lanjutnya.


"Ya maklum lagi banyak yang jenguk, lain kali bawanya bunga deposito biar main blowing..." selorohku.


"Boleh, boleh..." sahut Barraq.


Selepas Barraq pergi, aku termenung sendirian di kamar.


"Bosen juga kayak gini. Aku liat keadaan Ridho, udah tidur belum ya dia?"

__ADS_1


Udah lumayan malem sih, tapi kan kamar Ridho cuma di sebelah, jadi nggak masalah kalau aku nengokin dia sebentar.


Aku turun dari ranjang, dan keluar dari kamar dengan ngedorong tiang infusku sendiri.


Suasana rumah sakit sepi banget. Ya iyalah, ini hampir tengah malam. Dan buru-buru aku masuk ke ruang perawatan Ridho. San ternyata nih orang udah siap pakai jas hitamnya.


"Ridho? kamu mau kemana?" aku samperin Ridho yang lagi pasang dasi.


"Ada tugas penting,"


"Tugas penting? tapi kamu kan lagi sakit, kamu--"


"Aku nggak kenapa-napa," ucap Ridho.


"Terus kamu mau ninggalin aku sendirian di rumah sakit ini? iya? ya udah tinggalin aja, biar aku digondol setan sekalian!" aku kesel sama Ridho.


Ridho liatin aku, dia buang nafas sebelum ngomong, "Nggak gitu, aku cuma..."


"Cuma apa? mengabaikan kesehatan kamu demi kerjaan? kamu itu habis kena musibah, nggak mungkin pak Bagas tega kasih kamu kerjaan ditengah kondisi kamu yang kayak gini," aku nyerocos.


"Aku juga mau pulang kalau gitu, nggak betah juga di rumah sakit. Dipasangi kayak ginian juga..."


Aku mau lepasin infus di tangan tapi dicegah sama Ridho, "Jangan dilepas!"


"Iya, iya aku nggak pergi...." ucap Ridho yang pegang kedua bahuku.


"Sekarang balik lagi ke ruangan kamu ya? kamu juga kan harus banyak istirahat," kata Ridho yang ngajak aku ke ruang perawatanku lagi. Aku cuma ngangguk, manut.


"Sekarang kamu tidur, udah malem..." kata Ridho.


"Dho..." aku panggil laki-laki yang wajahnya sebenernya masih pucet.


"Ya...?"


"Makasih ya," ucapku.


"Buat?"


"Aku nggak tau kalau aku sendirian yang naik kapal itu---"


"Sshhh, udah. Nggak usah dibahas. Yang penting sekarang kamu selamat. Kita nggak tau kapan terjadinya sebuah musibah, kita cuma bisa berhati-hati, dan alhamdulillahnya Allah masih kasih kita kesempatan buat hidup sampai saat ini..." kata Ridho.


"Dan aku baru sadar kalau aku..." ucapku ragu.


"Kalau apa?"


"Kalau aku nggak mau kehilangan kamu, Dho..." ucapku dengan menatap kedua mata Ridho.

__ADS_1


__ADS_2