
Dan sesaat kemudian...
Aku ditarik kebelakang hingga setengah dari tubuhku berada di luar jendela dan siap terjun ke bawah, "Aaarghhhhhkkk," aku merasa ada yang mencengkram leherku yang terluka, tapi kosong. Aku nggak bisa menyentuh tangan yang jelas-jelas membuat pasokan oksigen ku berkurang.
"Aaargkkkk! aaaaaaaaargh, aku nggak bisa nap-passss beg-ghoooooo!" cengkraman itu semakin kuat, aku berusaha berpegangan pada pembatas jendela. Menahan tubuhku agar nggak sampai terlempar.
Tanganku yang lain masih berusaha melepaskan sesuatu yang membuat aku sangat sulit untuk bernafas. Sedangkan badanku semakin terdorong ke belakang.
Dan semakin aku berusaha semakin kuat cengkraman itu, bahkan sepertinya ada cairan yang keluar bersumber dari luka gores di leherku, "Aaarrhk, Ri-dho..."
"Suwer ewer ewer, aku belum siap metong. Apalagi dibawa paksa sama jin dan sebangsanya. Please, tanganku udah nggak kuaaaaat, siapapun tolong aku!" aku berteriak dalam hati. Karena saat ini tak ada yang bisa keluar dari pita suaraku.
Aku melepaskan satu tanganku dari leher dan melihat sebuah cairan lengket berwarna hitam memenuhi telapak tangan bahkan sela-sela jariku, "Cairan apa ini?" aku semakin panik saat merasakan cairan lengket itu keluar semakin banyak, dan kemampuan bernafasku pun semakin buruk.
Perlahan, yang tak terlihat kini menampakkan dirinya di depan mata. Wajahnya tertutupi rambutnya yang hitam legam basah dan berbau busuk.
Kini ia mengangkat tangannya ke atas, kukunya yang hitam kini bertambah panjang dan tajam.
"Aaaarrghhjjkkk!" aku berusaha memberontak, namun semakin aku bergerak tubuh atasku semakin melayang tersentuh angin. Dan hanya butuh satu kali dorongan mungkin bisa bikin aku nyungsruk ke bawah.
Aku menggeleng, air mataku mengalir sementara otot wajahku semakin menegang dan memucat. Pembatas diantara dua jendela itu masih aku pegang, namun sepertinya tenagaku semakin berkurang.
Apakah takdirku hanya sampai disini? Entahlah, mulutku masih mengaga berharap secuil udara masih bisa masuk dan membuatku bertahan.
"Aaaaaarggh," aku tak bisa menjerit, dan rasanya leherku sudah hampir mati rasa. Aku masih memegang leherku sendiri dengan satu tangan.
Makhluk menyeramkan dengan rambut panjang ini sudah siap untuk menusukkan kukunya yang mengerikan itu.
"Bersiaplah ke neraka bersamaku," seketika dia berteriak dengan suara seraknya, "Hrrrrrrrghhhh,"
Aku pasrah dan menikmati detik-detik terakhirku di dunia, terima kasih tuhan.
Dan...
Brak!
Pintu terbuka lebar.
"Revaaaaaaaa!" teriak pak Karan.
"Aku akan mendapatkanmu lain waktu!" ucap makhluk itu yang mendadak terlihat transparan sebelum akhirnya menghilang.
"Uuhuuuukkkk! hhhh ... hhhh," aku terbatuk saat cekikkan itu terlepas di leherku.
Badanku yang sudah melengkung ke belakang keluar jendela pun ditarik pak Karan.
__ADS_1
"Hey! apa kau sudah gila! hei, sadarlah!" pak Karan malah membentak dan menamparku dua kali.
Plak
Plak
"Aaaaawhhh!" aku memegang pipiku yang panas.
Jujur aja aku nggak ngerti, aku hampir aja koit tapi malah digampar bolak-balik.
"Kalau kamu mau melakukan itu jangan di rumahku!" dia segera menjauhkan aku dari jendela dan membawaku ke tempat tidur berukuran queen size.
"Hhhh ... sa-yah, nggakh ngertih Bapak ngomong apah!" otakku mendadak blank. Seperti komputer yang sedang nge-hank.
"Apa kamu nggak tau jika kamu melompat dari atas sana kemungkinan kecil kamu akan selamat! dan ... argh, kenapa kamu cekik leher kamu sendiri, otak kamu dimana, Reva! kamu tau kamu bisa mati!" ucap pak Karan frustasi.
"Ce-kikh leher sendiri? Bapakh pi-kir saya sudah bosan hiduph? cicilan saya masih banyak, Pak..."
"Lalu apa? kenapa kamu ... astaga," dia menangkup kedua pipiku yang merah karena habis digampar. Dia menarikku ke dalam pelukannya.
Hangat...
Dia mengusap pungungku beberapa kali, "Jangan lakukan hal bodoh," kata pak Karan dengan nada yang kaku.
Aku belum bisa mencerna apa yang dia katakan, tapi yang jelas aku bersyukur masih bisa selamat. Lumayan lama dia memelukku seperti ini. Sampai aku bisa menormalkan kembali nafasku yang ngap-ngapan.
Aku menyentuh leherku yang sempat mengeluarkan cairan hitam pekat. Tapi nggak ada, leherku kering. Hanya ada goresan sedikit.
"Ada apa?"
Aku melihat tanganku, "Bersih?"
Aku langsung bangkit dan lari ke cermin. Aku pun meraba leherku, tapi nggak ada luka yang lebar atau semacamnya. Dan lagi-lagi nggak ada cairan apapun yang sempat aku lihat saat aku dicengkram makhluk itu. Yang aku lihat hanya ada goresan yang rasanya perih saat disentuh.
"Nggak mungkin! aku jelas-jelas melihatnya mengalir ke tanganku," aku ngomong sendiri, sampai aku nggak sadar kalau pak Karan udah ada di belakangku.
Dia membalik badanku, "Ada apa?"
Akhirnya aku menceritakan apa saja yang aku alami di kamar ini, tanpa terkecuali.
"Aku nggak menyentuh apapun, aku hanya duduk disana..." aku menunjuk sebuah sofa yang ada di ujung ranjang.
"Maaf, seharusnya aku tidak menguncimu disini. Ruangan ini kedap suara, suaramu tak akan bisa didengar oleh siapapun," pak Karan memegang kedua lenganku.
"Lalu, bagaimana..." aku menatap pak Karan dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Setelah mobil Oma pergi, satpam melapor padaku. Dia bilang kalau dia melihat seseorang yang ingin melompat dari jendela kamar ibuku. Maka dari itu, aku segera berlari dan membuka pintu ini. Aku tidak menyangka kalau makhluk sialan itu yang membuatmu hampir menemui ajal," jelas pak Karan.
"Coba aku lihat, mendongaklah..." pak Karan mengangkat dagu ku dan melihat ke arah leherku.
"Hanya luka kecil," lanjutnya. Dan ia menurunkan dagu ku kembali dengan jarinya.
"Sebenarnya apa yang ingin Bapak tunjukan sehingga saya harus datang ke kamar ini?" tanyaku.
"Kemarilah," dia menarikku untuk mengikutinya ke arah salah satu dinding yang di tempel lukisan ibunya.
Pak Karan lalu menurunkan lukisan itu, "Jangan diam saja cepat bantu aku!"
"I-iya, Pak!"
Dan setelah lukisan itu diturunkan, ternyata disana ada sebuah kotak besi rahasia yang bisa dibuka dengan kata sandi. Pak Karan mebekan beberapa digit angka.
Dan..
Klik!
Kotak besi pun terbuka.
Dia mengambil satu kain yang berwarna coklat muda yang dilipat. Pak bos mengantongi kain tadi di sakunya. Dia kembali menutup kotak besi itu.
"Bantu aku menaikkannya lagi," pak bos mulai mengangkat lukisan yang selain ukurannya yang sangat besar, lukisan ini juga lumayan berat.
"Hhhuufh," pak bos menghela nafas saat berhasil memasang kembali lukisan itu kembali ke tempat semula. Pak Karan mengeluarkan kain dari saku nya.
Namun, seketika aku merasa ada seseorang berdiri di luar kamar ini. Seseorang yang mungkin yang ingin mendengarkan percakapan kami dari balik pintu yang terbuka.
"Ada apa, Va?" pak Karan menyentuh bahu ku.
"Emh, apa tidak sebaiknya kita tutup dulu pintunya, Pak?" aku menunjuk pintu yang terbuka lebar.
"Kalau begitu tutup saja" pak Karan menunjuk pintu dengan dagunya.
Aku pun berjalan menuju pintu. Langkahku semakin dekat dan dengan cepat aku keluar kamar untuk menangkap si penguping tadi.
Tapi ternyata sama sekali nggak ada orang, "Apa tadi aku salah liat, ya? mataku udah siwer ternyata! dasar bego!" aku mengucek mataku dan mencoba melihat dengan benar, tapi emang nggak ada orang.
Aku langsung masuk dan nutup pintu daripada aku ditarik setan lagi.
"Ada siapa, Va?" tanya pak Karan, aku menggeleng.
"Tidak ada,"
__ADS_1
...----------------...