
Mona belum juga sadar, mungkin karena efek obat juga makanya dia bisa tidur dengan nyenyak. Bara udah pulang ke kosannya setelah makan malam bareng kami di ruang rawat Mona.
"Udah malem, kamu tidur..." ucap Ridho yang bangkit dari sofa panjang dan nyuruh aku buat rebahan.
"Kamu mau kemana?" aku menatap Ridho.
"Nggak kemana-mana, aku cuma mau keluar bentar cari kopi!"
"Itu tinggal seduh, ngapain keluar? aku bikinin kalau perlu..." ucapku.
"Cuma bentaran, ntar aku balik lagi kok. Aku mau ketemu Fikri di kantin,"
"Tapi---"
"Bentaran aja!" ucap Ridho, dia sempat mencium kepalaku sebelum dia hilang dibalik pintu.
Aku tau sebenernya dia lagi pengen menenangkan diri. Tapi aku juga nggak mau ditinggal sendirian kayak begini di jam mendekati tengah malam
"Emmmh!" Mona bersuara.
Aku yang mendengar Mona bergumam pun segera mendekat.
"Kamu udah sadar, Mon?"
"Haus..." ucap Mona lirih.
"Haus ya, bentar. Aku ambilkan air!" ucapku dan segera membuka botol dan nyemplungin sedotan putih ke dalamnya. Mona membasahi kerongkongannya dengan beberapa teguk air.
Setelah itu dia terpejam lagi, "Ya elah, Mon! molor lagi..." ucapku yang segera menutup bekas botol minum Mona.
Aku balik lagi duduk di sofa. Ridho bilangnya sebentar nyatanya dia belum balik-balik juga tepat jam 12 malam.
"Betewe ini malam jumat kan ya?" aku ngomong lirih.
Astaga, kenapa juga aku mesti nyadar kalau malam ini malam jumat. Yang artinya malam dimana para hantu biasa berkeliaran buat me time atau healing, seenggaknya biar nggak jenuh ngumpet mulu.
"Ridho nggak balik-balik!" aku mulai gelisah.
Emang di kontrakan yang baru aku sebenernya mulai cuek dengan hadirnya Gadis, hantu penunggu rumah. Tapi kalau di tempat baru kayak gini hawanya beda, para makhluknya pun beda tingkat keganasannya. Jadi wajar aku agak jiper ya kalau tiba-tiba ada yang nampakin wujudnya.
Udara jelas makin dingin, Mona kayaknya tidur anteng nggak ada gangguan. Sedangkan aku daritadi ngeliatin hape, udah 1 jam Ridho pergi dan juga belum balik kesini.
__ADS_1
"Tega banget itu mas pacar! masa iya ngobrol sama Fikri lama banget? emang si Fikri nggak ada niatan buat balik ke habitat aslinya?" aku ngedumel.
Ya minimal dengan aku ngomong sendiri, itu bisa membuat rasa khawatir dan cemas sedikit berkurang.
Aku mau telfon, tapi sinyal hapenya mendadak zonk. Mau rebahan nggak nyaman ,mau duduk juga nggak enak. Selama Ridho belum balik aku nggak bakalan tenang.
Dan disaat yang kayak begini kok ya bisa kebelet pipis segala, bener-bener bikin kesel.
"Daripada ditahan dan yang ada ngompol, bismillah aja di kamar mandi nggak ada apa-apa..." ucapku meyakinkan diri.
Aku pergi ke toilet dengan perasaan yang campur aduk. Gimana sih, kalau ngelakuin sesuatu tapi terpkasa. Sekalian aja ganti baju biar lebih nyaman. Untung aku masih bisa nyelipin satu pakaian buat aku. Kalau Ridho mah cuma bawa diri sama dompet doang pas kesini.
Ceklek.
Dan aku melihat samar satu bayangan sedang berdiri di samping Mona, "Dhoooo? kamu dah balik?"
Aku panggil Ridho dan nyamperin. Dan pas dideketin ternyata Mona sendirian lagi tidur.
"Perasaan kayak ada orang disini..." aku bergumam sendiri.
Aku naikin lagi selimut buat nutupin badan Mona, sambil mata ngeliat kesana kemari.
"Mungkin aku kecapean makanya kadang mata suka salah liat..."
Pas aku mau nyamanin diri di sofa, tiba-tiba aja ada suara anak kecil yang lari-lari ketawa di lorong depan kamar ini, dia kayaknya nggak sendirian karena aku denger suara orang wanita dewasa yag mungkin emaknya tuh bocah.
"Berkunjung kok jam 12 malem, sih? peraturan rumah sakitnya nggak bener ini!"
"Hahahahhaha..." suara anak kecil itu masih aja kedengeran bahkan suaranya makin jelas.
"Emaknya kok ya negur tuh bocil biar nggak cekikikan malem-malem! ganggu pasien yang lagi istirahat kalau kayak gini tuh!" aku ngedumel sambil tidurin badan di sofa empuk.
Dan yang lewat sekarang kayak rombongan, was wes wos mereka kayak lagi ngobrol dan sesekali diiringi tawa, "Koplak banget sumpeh. Nggak bisa dibiarin!"
Aku buka pintu dan keluar buat negur tuh orang-orang yang kataku masuk udah lewat dari jam kunjung pasien.
"Tolong jangan beri ... sik..." kepalaku nongol keluar tapi nggak ada siapa-siapa.
Aku garuk-garuk kepala yang nggak gatel, tapi aku liat tadi ada bocil yang sempet lari dan ngilang di belokan lorong.
Lagi fokus ngeliat ke satu arah, tiba-tiba pundakku di sentuh.
__ADS_1
Aku sontak noleh, "Kamu lama banget sih, Dhooo...?"
Tapi lagi-lagi nggak ada orang. Aku yang ngerasa hawa udah nggak enak langsung masuk, "Huuuuuuffhh..."
"Aaakkkkk, kkkkk, kkkk" aku denger Mona kayak kesulitan napas. Sontak aku buka tirai dan ngeliat mata Mona udah melotot dan tangannya kayak pegang lehernya sendiri.
"Mon, sadar, Mon! jangan lakuin ini, Mon! kamu bisa kehabisan napas!" aku coba lepasin tangan Mona yang mencengkram kuat di bagian lehernya.
Brakk!
Tapi dengan sekali tepis, tangan Mona yang lebih kecil dari aku itu bisa bikin aku tersungkur ke lantai.
"Moooon, Monaaaaaa! sadar, Mooon!" aku teriak sambil mencoba ngelepasin tangan Mona.
"Tolooooooong!" aku yang udah panik cuma bisa teriak.
Aku melihat bell untuk emergency call, dengan cepat aku pencetin terus sampai beberapa perawat akhirnya datang.
"Mbak tolong adik saya!" aku menunjuk Mona.
Para perawat pun dengan sigap mencoba memegangi Mona da ada salah satu yang memanggil dokter. Aku yang ngeliat Mona dalam keadaan kayak gini begitu shock.
Datangnya seorang dokter laki-laki dokter berbarengan dengan Ridho yang bingung karena ruangan adiknya dipenuhi banyak orang.
"Mona kenapa, Va?" tanya Ridho. Sedangkan aku cuma bisa gelengin kepala nggak tau harus jawab apa.
Ridho yang khawatir langsung mendekat untuk ngecek keadaan Mona, "Dokter adik saya kenapa, Dok?"
Dan beberapa detik kemudian, Mona yang tadinya berontak mendadak tenang kembali setelah mendapatkan satu suntikan di selang infusnya.
"Dok adik saya kenapa?" Ridho mengulangi pertanyaannya.
Dokter menyuruh para perawat untuk keluar dulu sebelum ia menjelaskan pada Ridho.
"Kemungkinan adik anda mengalami tekanan mental atau depresi, dia mencoba menyerang dan menyakiti dirinya sendiri. Tapi tenang saja, saya sudah beri dia obat penenang, jadi malam ini dia akan tidur lebih pulas dari biasanya..." jelas dokter.
"Depresi?" Ridho mengernyitkan dahinya, dia menengok ke arahku sedangkan aku menggeleng.
"Baik, kalau begitu saya permisi..." ucap dokter laki-laki itu.
"Terima kasih, Dok!" ucap Ridho.
__ADS_1
Dan ngeliat penampilanku yang lumayan berantakan bikin Ridho mendekat, "Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Dho..."