
"Lakukan itu untuk anak kita, Sayang..." ucap Ridho membenarkan ucapan pak Karan.
"Minum..." lirih pak Karan. Dia meringis memegangi dadanya.
Aku mengangguk. Seketika bu Ratmi membantuku untuk minum. Rasanya bibirku yang tadi kering sekarang basah lagi.
Beberapa saat setelah pak Sarmin pergi yang katanya mau manggil bu Bidan. Pintu jendela serentak terbuka dengan sendirinya. Termasuk jendela yang ada di kamar ini.
Braaaakkk!!
Braaaakkk!!
Braaaaakk!!
Wuuuzzzz!!
Anginn kencang masuk ke dalam membuat aku yang tadinya berkeringat, kini merasakan dingin yang luar biasa.
"Astaghfirullah, ada apa ini?" ucap bu Ratmi yang bangkit dan menutup pintu.
"Ibu keluar dulu, ibu akan cek pintu dan jendela..." lanjut bu Ratmi sehabis nutup jendela kamar.
"Saya bantu, Bu..." ucap pak Karan yang mengikuti langkah bu Ratmi, jelas dia masih belum pulih.
"Aaaarrghhhh," aku merasakan ada dorongan di perutku. Aku nggak bisa mengatakan apapun selain kata 'sakit'.
"Maaaaass..." air mataku lolos begitu saja.
"Tahan ya. Sabar, Sayang..." Ridho menguaap perutku.
"Istighfar, Reva..." ucap Ridho.
"Saaaakiiittt?!!" aku memekik.
"Iya aku tau sakit,"
"Kamu nggak tau, Mas?!! kamu nggak akan pernah tau sakitnya gimana,"
"Iya iya aku nggak pernah tau. Kalau aku bisa, lebih baik aku yang ngerasain sakitnya, jangan kamu..." ucapnya sambil mengelus perutku yang menegang kembali.
"Ya Allah, sakit banget ya Allah. Aku nggak kuaaaat..."
"Jangan bilang kamu nggak kuat. Jangan, Sayang. Kamu itu wanita yang kuat Reva..." ucap Ridho, tatapannya sendu.
"Kamu boleh jambak aku, boleh pukul aku, boleh tampar aku, bagi rasa sakit itu sama aku, Reva..." lanjut Ridho.
Aku menggeleng, sementara bibirku kering sekeringnya.
Pak Karan datang lagi, dia ngeliatin dari ambang pintu. Aku melihat sesekali dia menyeka pipinya dengan punggung tangannya.
Brraaakkk!!
Braaakkk!!
Braaakkk!!
Jendela yang udah ditutup sekarang terbuka lagi. serentak dengan jendela dan pintu yang lain.
__ADS_1
Wajah pak Karan dan Ridho menjadi serius.
"Kau dengar itu?" ucap pak Karan pada Ridho.
"Ya," mata Ridho waspada, ia bangkit dan mau nutup jendela tapi seketika pak Karan mencegahnya.
"Temani saja Reva!" ucap Pak Karan yang berjalan dengan terseok-seok mencoba menutup jendela. Namun, bukannya nutup pak Karan malah berjalan mundur.
"Kemana pak Sarmin? apa rumah bidan itu sangat jauh dari sini?" tanya pak Karan pada Ridho.
"Aku nggak tau pasti," jawab Ridho, sementara aku lagi meringis kesakitan.
"Aaaaaaaaakkkhhh!" teriak bu Ratmi dari arah ruang tengah.
"Ada apa, Bu?" seru pak Karan yang
Menghampiri bu Ratmi.
"Merekaaa..." ucap bu Ratmi.
Tap?!!
Tap?!!
Tap?!
"Buuu ... Bu..!!" seru pak Sarmin dari arah depan, sepertinya pak Sarmin datang dengan beberapa orang. Aku hanya mendengarkan dari kamar tapi apa saja yang mereka katakan rasanya aku bisa mendengarnya secara jelas.
"Pak ... diluar--" ucap bu Ratmi terpotong.
"Tolong antar bu Bidan ke kamarnya Reva, Bu..." ucap pak Sarmin.
"Mari bu Bidan..." ucap bu Ratmi.
"Silakan bu Bidan..." ucap bu Ratmi.
Dan bu bidan masuk dengan satu lagi wanita agak tua yang mendampingi bu bidan ini.
"Permisi ya, bu Reva. Saya bidan Mila. Saya akan memeriksa kandungan ibu terlebih dahulu ya?" ucap bu bidan dengan nada yang lembut.
Sementara ibu yang satunya keliatan gelisah dan komat kamiiit mulu. Baca-baca doa dia.
"Mbok, tas saya yang satunya ada di ruang tamu. Minta tolong ambilkan," ucap bidan Mila.
Dari muka si mbok tadi, udah pasti nih ada hal-hal yang nggak biasa. Aku udah nggak liat dimana pak Karan.
"Aaarrrghhh, sakiiit, Maaaaasss..." ucapku, mencengkram lengan kangmas.
"Iya, Sayang. Tahan ya ... sabar, Ya?" kangmas ngelus kepalaku. Tangamnya nggak lepas menggenggam tanganku yang udah basah keringat.
Aku kira aku bakal ngelahirin di rumah sakit, dengan rasa sakit seminimal mungkin. Tapi ternyata semua itu diluar ekspektasi. Sekarang aku lahiran cuma ditolong bidan.
Setelah si mbok ini dateng dengan bawa satu tas. Kemudian pintu di tutup juga dengan jendela.
"Sudah keluar darah atau lendir?"
"Nggak tau," aku menggeleng. Yang aku tau cuma rasa sakitbini datang semakin sering dan bertambah sakitnya berkali-kali lipat.
__ADS_1
"Mbak Mila, sepertinya malam ini akan sangat sulit. Apalagi hari ini hari minggu pahing," ucap si Mbok.
"Semoga saja nggak, Mbok. Aku yakin mbak Reva ini akan kuat, sampai anak ini lahir. Aku yakin lahirannya bakal gangsar gampang!" bisik bidan Mila.
Tapi entahlah, selirih apapun si Mbok dan bidan ini ngomong, aku tuh masih bisa denger. Bodo amat mau ini hari minggu atau apa aku nggak peduli. Aku pengen anak ini cepet lahir, karena aku udah nggak kuat nahan sakitnya.
"Aaarrrrghhhhh, huuuwwh huuwhh," aku memekik untuk kesekian kalinya.
"Saya periksa dalam dulu ya, Bu?"
"Apa? periksa apa? mau ngapain?" aku panik.
"Ibu yang tenang, saya mau periksa sudah bukaan berapa," ucap bidan Mila.
"Nggak, nggak mau! aarrrghh, pasti sakit?!!" aku menggeleng dan mengatupkan kakiku rapat-rapat.
"Ibu yang tenang dulu. Ibu tarik nafas pelan dan hembuskan..."
Wuuyzzzzzzhhh
Angin kencang kembali masuk, padahal jendela masih tertutup rapat.
"Aaarrrrghhhhh," aku memekik lagi.
"Kamu mau ya diperiksa. Aku yakin nggak sakit, cuma dilihat aja. Nurut ya, Sayang?" ucap Ridho.
Aku nangis, menggeleng, "Nanti sakit..."
"Kalau sakit kamu bisa jambak aku, cubit aku, tampar aku, ya? sekarang biar bu bidan periksa anak kita dulu. Kamu pengen cepet ketemu sama dia, kan?" ucap Ridho bikin hati adem.
Aku akhirnya mengangguk, dan waktu bu bidan ngelakuin apa itu periksa dalem. Buseeet rasanya sakit banget. Gebleg banget aku percaya dengan omongan Ridho yang katanya cuma diliat aja, dan nggak sakit.
Dan..
Plooook!!
Aku gaplok tuh muka Ridho. Tapi dia nggak ngeluh, dia diem aja aku gamparin.
"Sudah bukaan 3," ucap bu bidan.
"Terus berapa lama lagi anak saya bisa lahir, Bu?" tanya kangmas.
"Saya tidak bisa memastikan yang jelas, menunggu sampai pembukaan lengkap..." ucap bu Bidan.
"Usia kandungannya berapa minggu?" tanya bu bidan sama mas Ridho.
"Berapa minggunya? yang jelas sekitar 8 bulanan, Bu..." jawab kangmas.
"Bapak banyak berdoa saja, semoga persalinan istri anda ini diberi kemudahan dan kelancaran," kata bu Mila.
Sementara si Mbok terpeeanjat dan matanya membulat, "Ya Allah, ya Allah ... astaghfurullah..." dia menutup matanya dengan tangan.
"Ada apa, Mbok?" tanya bu Mila. Mbok cuma menunjuk ke arah sudut kamar.
Aku yang melihat wajah si Mbok ketakutan pun melihat ke arah yang dia tunjuk. Dan bukan hanya aku, tapi seluruh orang yang ada di kamar ini kaget dengan kehadiran sosok makhluk ini.
"Maaaasss..." aku genggam tangan kangmas.
__ADS_1