Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Berhasil Lolos


__ADS_3

Sampai akhirnya pintu lift pun mulai menutup. Namun, sial ada sebuah tangan pucat dengan cari hitam panjang yang berusaha menggapai dari celah pintu lift.


"Aaakhhhh!" aku berteriak, mundur beberapa langkah


Tangan pucat dengan urat hijau yang menonjol itu terulur mencoba meraih kami. Cairan merah seketika mengalir membasahi tangan itu ketika kedua sisi pintu menutup secara bersamaan.


"Aaarghhhh!" Ridho terus saja memencet tombol tutup pintu. Sedangkan aku merapat di balik punggung Ridho.


"Dhooo..." suaraku bergetar


"Iya aku tau, aaargh!" Ridho memencet tombol sambil bergumam tidak jelas.


Tangan terulur semakin panjang.


"Awaaas, Dhooo!" aku berteriak saat jari-jari hitam itu berusaha menarik lengan Ridho.


"Aaaaakkkh!" Ridho menarik lengannya dengan sekuat tenaga. Entahlah apa yang keluar dia ucapkan, hingga suara ghoib itu memekik kesakitan.


"Hhhaaaaargghhhhhhrrhhhhh," satu jeritan dari makhluk itu. Sebelum akhirnya pintu lift tertutup rapat.


Tangan yang terjepit itu mendadak lenyap, berbarengan dengan kotak besi yang bergerak membawa kita ke bawah.


Sementara Ridho mundur beberapa langkah membuatku kembali menempel pada dinding yang sangat dingin. Ridho berbalik, menatapku.


"Dhoooo, aku takuuut, huhuhuhu!" tangisku pecah. Masih terbayang bagaimana makhluk dengan mulut yang lebar itu menampakkan dirinya tepat didepan muka ku.


Tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya, tangannya mengusap kepalaku, "Ssshhh, maaf. Maafin aku. Sshhhhh, udah udah, sebentar lagi kita akan keluar dari sini. Aku nggak akan biarin mereka menyetuhmu. Percaya sama aku, ya?"


Darimana munculnya kalimat yang Ridho ucapkan tadi? Entahlah.


Yang jelas saat ini aku merasa sangat lemas. Bahkan aku sudah tak sanggup menopang berat tubuhku. Beruntung Ridho yang menyadari itu langsung mengangkatku, disaat pintu besi itu terbuka di lantai lobby rumah sakit.


Tubuhku yang dibuat melayang, membuat tanganku refleks melingkar di lehernya. Dan aku tau, apa yang dilakukan Ridho ini membuat beberapa pasang mata tertuju pada kami. Dan aku nggak peduli sama sekali.


.


.


.


Dan saat ini kami berada di sebuah taksi online. Beberapa kali pak bos nelfon, tapi aku biarin aja. Aku malah menyandarkan kepalaku sambil melihat ke luar jendela.

__ADS_1


Seketika aku ingat akan cincin itu, "Dho? cincin itu ada dimana?" aku menoleh pada Ridho.


Dia menepuk jeans-nya, "Disini," tangan kanannya menunjuk saku bagian depan.


"Kita ke kosan kamu, ya?" sambung Ridho.


Aku yang semula nyender langsung tegakin badan, "Nggak mau, Dho! please..." aku menggeleng dengan tatapan memelas.


Ridho membuang nafas sebelum ngomong, "Nggak mungkin kamu ada di kontrakan aku terus. Yang ada nanti..."


"Please, Dho. Jangan! aku nggak mau di sana sendirian, nggak!" aku langsung memotong ucapan Ridho. Air mataku langsung meleleh.


Ridho mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu dia menatapku.


"Pak, putar arah!" ucap Ridho pada supir taksi. Dan supir taksi pun menurut dengan apa yang dikatakan Ridho.


Terlalu banyak menangis membuat mataku lelah, dan aku memejamkannya sebentar.


"Vaaaa..." suara Ridho memanggilku, "Va, bangun Va..."


Aku mengerjap beberapa kali dan kini mata beningku menangkap sosok Ridho.


"Udah sampai?" aku nanya sambil mencoba tegakin badan.


"Loh? kok kita kesini, Dho?" aku menatap Ridho meminta penjelasan. Kami berdua sekarang berdiri di depan rumahnya pak Karan Perkasa.


"Kita masuk dulu, nanti aku jelasin..."


Ridho meminta izin kang satpam untuk membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi, "Terima kasih, Pak!" ucap pria yang sedang menggenggam tanganku pada seorang pria muda berseragam putih.


Kita berdua memasuki area rumah yang kalau dilihat dari luar terlihat sangat megah, namun siapa sangka kemewahan belum tentu menawarkan kenyamanan dan ketenangan. Beda dengan kontrakannya Ridho yang hanya segitu tapi bikin hati adem.


Ridho menekan tombol yang ada di samping pintu. Dan nggak lama, pintu dibuka dari dalam.


"Selamat siang, saya Ridho dan ini teman saya Reva. Kami ingin bertemu dengan pak Karan..." ucap Ridho pada sosok wanita paruh baya yang aku kenal dengan sebutan mbok Sri.


"Kebetulan tuan sudah menunggu di ruang kerjanya. Mari silakan masuk," kata mbok Sri sopan. Dia memberi akses kami untuk masuk, kemudian ia menutup pintu. Aku hanya tersenyum saat mbok Sri melihat ke arahku.


Kami berdua mengikuti mbok Sri dari belakang. Dengan seenaknya, aku menyelipkan tanganku di sela-sela lengan Ridho. Sedangkan mataku terus tak berani lirak-lirik ke arah lain, takut jika ada sesosok yang tiba-tiba saja ditangkap oleh indera penglihatanku.


Mbok Sri berhenti di depan sebuah ruangan. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum berucap, "Tuan...!"

__ADS_1


"Ya, masuk!"


"Silakan, Mas Mbak..." ucap mbok Sri mempersilakan kami berdua masuk ke dalam ruang kerja pak bos.


Ridho hanya mengangguk sebagai jawabannya pada mbok Sri.


"Nggak usah takut," Ridho menepuk tanganku yang memegang lengan Ridho posesif.


Pria yang beberapa waktu ini sering aku repotin pun membawaku masuk ke dalam ruangan dengan nuansa abu-abu dan cokelat. Suram banget, sumpeh.


Aku melepaskan cengkraman tanganku di lengan Ridho saat mendapat tatapan tajam dari pak Karan.


Sosok pria tinggi tegap itu berdiri dan berjalan sambil menunjuk sebuah sofa, "Silakan duduk,"


"Terima kasih, Pak..." sahut Ridho yang kini berjalan ke arah sofa, aku pun membuntutinya seperti anak yang ngintilin emaknya.


Dan sekarang kami duduk di sofa panjang berwarna cokelat tua, sedangkan pak Karan duduk di kursi single.


"Kenapa kamu main kabur dari rumah sakit? Dila mengatakan dia tidak menemukan kamu di ruangan khusus!" tanya pak Karan.


"Itu, Pak ... emh!" aku sulit banget buat ngejelasin apa yang sebenernya terjadi. Aku nyenggolin tangan Ridho supaya bantuin aku ngejawab pertanyaan pak bos.


Yang disenggol nggak peka atau pura-pura nggak ngeh.


"Ita itu apa?" pak bos nanya pake ngegas.


"Dho...!" aku senggol Ridho dengan badanku.


"Apaan sih, Va?" Ridho malah oasang muka bego, ngeselin banget.


"Cepat jawab, Reva! kenapa kamu tiba-tiba saja kabur dan membuat Dila sibuk mencarimu ke seluruh penjuru di rumah sakit itu?" pak Karan udah gregetan banget liat aku yang belum juga menjawab apa yang ditanyakannya.


"Anu, Pak..."


"Anu? anu-anu apa? ngomong yang jelas, Reva..." pak bos nautin kedua alisnya, heran.


Aku senggol Ridho untuk yang kesekian kalinya, "Bantuin napa, Dho..." aku bisik-bisik tetangga sama Ridho.


"Jangan bisik-bisik. Cepat katakan apa alasan kamu meninggalkan rumah sakit dan membuat orang-orang saya kerepotan mencari kamu!" bentak pak Karan.


"Baiklah, mungkin Reva sulit mengatakan ini. Maka saya akan membantunya menjelaskan keadaan yang sebenarnya," ucap Ridho yang kini mendapat tatapan balik dari pak Karan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2