Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Menjemput Kesialan


__ADS_3

"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku memastikan kamu nggak kenapa-napa!" ucap pak Karan.


"Nyatanya Ridho tidak bisa melakukan apa-apa bukan? itu baru teror kecil seperti itu, kalau menyangkut nyawa bagaimana? apa kamu masih mau tinggal disana? aku membiarkanmu supaya kamu sadar, apapun bisa terjadi tanpa kamu prediksi!" pak Karan daritadi nyerocos mulu.


"Lalu kalau bukan anda siapa lagi?"


"Mungkin kamu atau Ridho memiliki musuh lain. Cari taulah sendiri!" kata pak Karan.


Suwer ini orang bikin emosi banget dengan jawaban yang keluar dari mulutnya. Sebenernya dia niat nolongin apa nggak sih. Kalau nggak niat ngapain juga pakai acara ngirim orang buat ngawasin, bikin darting aja nih orang.


"Istirahatlah, terlalu banyak bicara akan membuat tubuhmu lebih lama pulihnya!" perintah adek sepupu galak.


Ini penghinaan, dia kira aku manusia lemah seperti itu. Lagian kalau dipikir-pikir, aku nggak akan pulih kalau yang disampingku itu pak Karan yang sukanya marah-marah mulu.


Mantan bosku itu pindah ke sofa, dia selonjorin kakinya yang panjang itu sambil memainkan ponsel di tangannya.


Bodo amat dia mau ngapain juga, yang jelas aku masih penasaran siapa yang berani neror aku dan Mona sampai kayak gini banget.


"Bohong banget Ridho! katanya dia mau keaini, nyatanya sampai sekarang dia nongol pun nggak..." aku menggerutu dalam hati.


Gimana kalau aku pura-pura tidur supaya pak Karan bete, terus dia pergi terus aku bisa menyelinap keluar. Emang Reva otaknya selalu encer, kecuali pas di dalem lift tadi. Sambungan otak mendadak ngadat.


Aku tidur menyamping, aku liat hapeku lagi di isi daya lewat power bank. Mungkin pak Karan yang ngelakuin itu, lumayan pengertian juga jadi kau bisa kabur bawa hape dan ngehubungin Ridho.


"Rasanya 1 jam nungguin ayang berasa satu taun..." ucapku dalam hati.


"Kenapa maslaahnya masih disini-disini aja, kapan ketemu calon mertua. Aku sampai lupa kalau aku belum ngasihin hasil medical check up ke perusahaan. Kalau kayak gini alamat ditolak, gini amat nasibkuuuuu..." lagi-lagi aku menggerutu cuma dalam hati.


"Dia udah tidur atau masih mainan hape?" pikiranku bertanya-tanya.


"Bego, harusnya aku tidur madep dia, jadi aku bisa ngelirik tuh orang udh ke alam mimpi atau masih melek. Lah kalau miring munggungin tuh manusia galak kan ya susah ngeceknya! begooo begoo!" batinku meronta.


Akhirnya karena nunggu terlalu lama, bukan pak Karan yang ketiduran tapi aku. Karena aku ngerasa kalau mataku baru saja terpejam.dan mau dibuka rasanya lengket banget, ketahan rasa ngantuk.

__ADS_1


"Hoaaammmph!" aku buka mata perlahan-lahan.


"Ya pun kenapa aku yang malah ketiduran?"


Aku yang tadinya tidur menyamping sekarang udah berubah posisi jadi telentang. Mataku nggak nangkep sosok manusia satu pun di ruangan ini. Berarti bos galak udah pulang atau pergi entah kemana. Aku lihat udah jam 11 malam, berarti cukup.lama aku tertidur di ruangan ini.


Dan sekarang aku udah pakai baju pasien, "Aiiih siapa yang gantiin bajuku?" aku memegang baju bagian depan.


"Mungkin perawat? ah masa bodo lah! bukan waktunya buat mikirin itu, yang jelas akuau nyari kangmasku..." aku segera nyamber hape dan sakuin di celana. Sedangkan botol infus aku ambil dan aku pegang dengan posisi lebih tinggi dari tanganku yang satunya. Agak ribet sih tapi no worry lah.


Aku buka pintu dan ngintip ada orang apa nggak di sekitar lorong.


"Sepi..." bisikku


Aku berjalan mengendap-endap supaya nggak ketauan sama perawat.


"Kalau aku lewat lift pasti banyak orang yang bisa lihat," ucapku yang menatap tanda tangga darurat.


"Terpaksa lewat situ! nggak ada apa-apa, jangan takut Reva!" aku nyemangatin diri sendiri.


Perlahan tapi nggak pasti, aku turun dari tangga darurat. Ini termasul hal paling nelat yang pernah aku lakuin ya. Keluar hampir tengah malam sendirian, menyusuri ratusan anak tangga yang nggak tau kapan habisnya.


"Semangat Reva buat menjemput kesialan!" ucapku dalam hati.


Aduuh, semoga mata batin nggak usah tiba-tiba ngerasain getaran aneh atau diliatin yang serem-serem karena aku kesini cuma numpang lewat aja. Setiap turun anak tangga aku berdoa supaya nggak ngeliat makhluk ghoib.


Tapi lagi-lagi itu hanyalah sekedar harapan. Karena aku liat diujung bawah sana udah ada yang nungguin. Seseorang berambut panjang yang duduk di salah satu anak tangga. Dia membelakangiku.


"Baru juga dibilangin, eh nongol!" ucapku dalam hati. Aku ngeliat ada satu pintu keluar yang bisa aku raih. Aku nggak mau nerusin perjalanan ke bawah dengan resiko ngeliat tuh makhluk yang lagi semedi sendirian.


Aku berjalan hampir nggak bersuara, dan ketika tinggal satu anak tangga menuju pintu, tiba-tiba makhluk yang berada di anak tangga yang berjarak lumayan dekat denganku tiba-tiba menoleh dengan rambut yang sebagian menutupi wajahnya, aku yang panik langsung buka pintu dan keluar dari area tangga darurat.


"Hah ... hhh ... untungh ajah," aku mengusap keningku yang sedikit.berkeringat.

__ADS_1


"Sukah ngagetinh deh," aku masih ngos-ngosan.


Aku perhatikan ternyata aku udah sampai di lantai ruang perawatan Mona. Tapi ada perawat jaga yang sepertinya mau lewat. Aku yang panik langsung buka salah satu ruang rawat entah punya siapa, buat ngumpet sebentar.


"Siapa kamu?" tanya seorang wanita muda yang sepertinya sedang disuapi oleh pacarnya atau suaminya.


"M-maaf, ah. Saya kira ini ruangan teman saya yang kebetulan dirawat disini, permisi..." ucapku gugup.


Pasangan itu menatapku dengan kening yang berkerut, mungkin karena aku bilang salah masuk tapi aku sendiri nggak keluar-keluar.


"Silakan keluar," ucap si pria yang memandangku dengan tatapan aneh.


"Oh iya, maaf. Emh, permisi..." aku keluar dari ruangan itu dan bergerak ke ruang perawatan Mona.


Perlahan aku buka pintu, takut Ridho atau pun Bara yang mungkin udah tidur jadi terganggu.


Bggak ada bunyi yang ditimbulkan, hanya saja aku mendengar suara aneh dari dalam ruangan ini.


"Aaakkkkkkhhhh, perggiii!" suara Mona seperti tercekat.


"Akkhhhhh, pperggiiii!" Mona bicara dengan susah payah.


Ranjangnya dikelilingi tirai berawarma coklat muda. Aku ngeliat sekeliling nggak ada Ridho ataupun Bara, "Kemana mereka?"


"Hahahahhahaah..." suara wanita tertawa puas.


"Pperrgii," ucap Mona.


Aku yang melihat ada yang tidak beres, segera membuka tirai.


Sreeeeeeeeekk!!!!


"Siapa kamu?" mataku membulat saat melihat satu sosok yang ada dihadapanku.

__ADS_1


"Hihihihi," suara meringik begitu jelas.


----------------


__ADS_2