
Ridho terdiam sebelum menjawab, "Nenek Darmi!" ucap Ridho.
"Nenek Darmi? neneknya Karla?" mataku membulat saat mendengar satu nama yang diucapkan Ridho barusan.
"Iya, neneknya Karla..."
"Kok bisa? maksudku, kenapa?" aku menuntut jawaban Ridho.
Rasanya aneh, kan kita nggak jadi minta bantuan dia. Apa karena Ridho nggak mau menyetujui perjanjian dengan nenek Darmi akhirnya nenek Darmi marah dan berusaha mengirim aku ke dunia para dedemit?
"Tenang dulu, Va. Dengerin dulu, ya?" Ridho berusaha supaya aku nggak darting.
"Tapi kenapa, Dho? apa karena Karla? dia sakit hati cucunya nggak kamu terima cintanya?"
"Kok dia mainnya mistis-mistisan begitu sih?" lanjutku.
"Diem dulu, Va. Gimana aku mau ngomong kalau kamu daritadi ngoceh mulu, hem? gantian napa ngomongnya? walaupun sebenernya aku kangen kamu yang cerewet kayak gini, tapi kamu coba diem dulu bentar deh, biar aku jelasin pelan-pelan..." ucap Ridho.
Dia ngelus kepalaku sesaat, lalu menggenggam kembali tanganku yang seakan nggak mau dilepas.
"Jadi paginya itu kan kamu hilang, itu juga karena mbak Luri yang bilang ke aku. Katanya dia liat kamu pergi tengah malem, tapi nggak balik-balik lagi. Dia pikir kamu keluar nemuin aku, tapi sampai pagi ternyata kamu nggak keliatan batang hidungnya..." kangmas mulai cerita.
"Jadi---"
"Ssssuuuut! diem dulu," ucap Ridho yang menekan bibir dan ujung hidungku dengan jari telunjuknya.
"Dengerin aku dulu, ntar abis aku selese cerita kamu boleh nanggepin..." ucap kangmas.
Aku manggut-manggut, dan dia pun nyingkirin telunjuknya tadi.
"Lanjut, ya? jadi pagi itu kita semua riweuh nyariin kamu. Kamu bikin kita panik, karena satu orang dicari aja belum ketemu ini ditambah harus nyariin kamu juga yang ikut-ikutan ngilang. Aku dan bmmantan bos kita itu beserta para pengawalnya blusukan ke hutan buat nyariin kamu. Sedangkan mas Rahman nungguin disini sama mbak Luri, kali aja kamu cuma nyasar, kemudian balik lagi... "
Aku masih diem, memperhatikan bibir kangmas yang dengan lincahnya bergerak-gerak kalau lagi ngoceh kayak gini.
__ADS_1
"Nelusuri hutan ini ternyata nggak semudah yang kita bayangkan. Tapi anehnya ada burung-burung yang seakan ngodein temennya buat menuju satu arah tertentu. Disitu aku penasaran, akhirnya aku ikutin kemana burung-burung itu bergerak. Dan ternyata kamu lagi dikerubungi sekumpulan burung-burung gagak. Mereka cuma diem kayak patung, nggak gigit kamu nggak, aku juga heran kenapa sampai bisa begitu. Tapi syukurlah mereka nggak nyakitin kamu, Va..." ucap Ridho.
"Tapi aku bersyukur bisa nemuin kamu, meskipun ternyata aku harus shock lagi karena cuma raga kamu yang bisa ditemukan, sedangkan jiwamu sedang berkelana ke dimensi lain," lanjut Ridho.
Sorot matanya nggak bisa bohong kalau dia sangat takut kehilangan aku. Ayey!
"Terus?" ucapku, karena Ridho tiba-tiba aja diem dan natap aku dengan intens.
"Aku bawa kamu ke tenda, dan beruntung pagi itu pak Sarmin dan dua orang lainnya udah balik ke sini. Dia bilang, kamu lagi ngelayab ke dunia ghoib..."
Jadi kata kangmas Ridho, setelah pak Sarmin tau nih aku lagi digondol demit, dia langsung menggelar acara doa bersama. Dia sempet melihat dengan mata batinnya kalau aku bertemu orang yang sedang akh cari, tapi kondisinya sungguh memprihatinkan. Dia berada di titik dimana dia hanya bisa menggunakan sisa-sisa tenaganya yang ada.
Kata Ridho juga, pak Sarmin sempat khawatir karena dia kesulitan buat berkomunikasi denganku. Cuma yang masih mengganjal dipikiranku saat ini, kenapa nenek Darmi bisa setega itu sama aku. Kenapa dia berbuat demikian. Kalau kayak gini kan aku berpikiran negatif sama nenek Darmi.
Mungkin cahaya yang aku lihat itu merypakan bentuk lafalan doa-doa yang dipanjatkan oleh pak Sarmin dan juga orang-orang yang ada disini. Tapi balik lagi, kalau aku bisa kembali kenapa mbak Sena nggak bisa ngikut juga.
"Sebenernya nenek Darmi itu mau ngebantu kamu, Va..." ucap Ridho.
"Bantu ngilangin aku dari dunia maksudnya? supaya cucu kesayangannya akhirnya bisa sama kamu, gitu kan Dho?"
"Lah iya kan? emang aku salah punya pikiran kayak gitu?"
"Ya nggak salah, cuma kamu terlalu jujur buat ngutarain semua yang ada disini..." Ridho ngetuk pelan jidatku.
"Kadang nggak semua orang bisa menerima itu..." lanjutnya.
Ridho nggak ngasih kesempatan aku buat ngomong.
"Kata pak Sarmin, nenek Darmi memang yang sengaja narik kamu dengan sosok yang mirip aku, buat nemuin kamu dengan mbak Sena. Itu juga atas permintaan bu Wati, dia memohon-mohon supaya bisa bantu kamu. Tapi..."
"Tapi apa?" aku mengernyit penasaran, aku masih di posisiku yang rebahan sedangkan Ridho duduk sambil mencoba menarik napas sejenak.
"Tapi dia mendadak inget cucunya. Dia mengirimmu kesana tapi dia nggak mau narik kamu lagi..." kata Ridho.
__ADS_1
"Tuh kan apa aku bilang?"
"Walaupun memang seperti itu kamu jangan menyimpan dendam sama nek Darmi. Yang penting sekarang kamu udah bisa kembali lagi dengan selamat..." ucap Ridho.
"Nggak baik menyimpan rasa benci atau dendam. Ikhlaskan saja apa yang udah terjadi, anggap aja kemarin kamu lagi wisata ghoib. Iya kan?" lanjutnya.
Sembarangan aja nih si ayang kalau ngomong. Ceweknya hampir aja dicelakai nenek galak masih aja dia ngebelain si nenek dengan bilang aku nggak boleh benci. Benci sih nggak begitu cuma kesel aja. Udah dikirim ke negeri para jurig dan demit, eh mbak Sena juga nggak bisa ikutan aku balik.
Aku jadi inget sesuatu yang dititipin mbak Sena waktu disana.
"Gelang?" seketika aku teringat gelang yang diberikan mbak Sena.
"Gelang, Dhoo...!" aku mencari-cari di kedua tanganku tapi nggak ada.
"Gelang? gelang apa? aku nggak ngerti, Va..."
"Gelangnya mbak Sena. Dia titipin gelang itu sama aku buat dikasihkan ke ibunya! mana, Dho? kok nggak ada?" aku bangun dan mencari di sekutar kasur angin yang aku tidurin.
"Tenang dulu, Va! ntar kita cari bareng-bareng, ya?" kata Ridho yang kayak ngemong banget kali ini.
"Mungkin keselip dimana gitu. Nanti aku tanyain sama Luri,"
"Luri?" aku memicing.
"Maksudku mbak Luri Va mbak Luri..." ralat Ridho.
Dengan cuma nyebut nama aja kayak udah akbrab banget sama mbak Luri dan aku nggak suka. Aku baru aja sadar dari tidur panjang loh, dia udah bikin emosi.
"Udah selesai bicaranya?" tanya pak Karan yang main masuk aja ke dalam tenda.
"Belum!" jawab Ridho sarkas.
"Tapi Reva butuh makan dan minum! bisa pingsan lagi dia!" kata pak bos yang repot-repot bawa teh panas dan bubur instant yang udah mateng.
__ADS_1
...----------------...