Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Dunia Persilatan


__ADS_3

Aku manggut-manggut aja. Tapi ada satu hal yang masih bikin aku penasaran kenapa dia bisa dapet restu dari mama. Karena kalau dari cerita adekku kan, mama kesel banget sama Ridho.


"Makanya tadi aku perginya lama. Aku ngurusin yang besok mau ijab ulang,"


"Gimana-gimana?" aku benerin posisi duduk.


"Aku ketemu sama Dilan. Ngecek keadaannya, dan training dia buat ijab besok pagi..." ucap Ridho.


"Oohh, pantesan. Bilangnya sebentar, ternyata pulangnya ngelebihin waktu yang dijanjikan..." kataku.


"Iya maaf! itu juga dadakan, Sayang. Kasian kalau besok gagal maning gagal maning," ucap Ridho.


"Kebiasaan suka nggak ngabarin, aku kan khawatir!"


"Duh senengnya dikhawatirin sama istri!" seloroh Ridho.


"Tapi ngeseliiin, disini aku tuh mikirnyabkamu kenapa-kenapa di jalan! tau, nggak? ternyata malah ketemu sama Dilan!" aku cubit perutnya.


"Va, jangan disini cubit-cubitannya. Nanti jiwa jomblo mereka semua pada meronta! kasian..." Ridho nunjuk kang decor yang lagi sibuk sama kerjaannya.


"Iishhh, apaan coba...?" ucapku yang merasakan sesuatu yang panas di pipi.


Ridho senyum.


Nggak tau lah kayaknya kadar kegantengannya bertambah sekian ratus persen di mataku. Apalagi matanya yang bikin hatiku langsung jedar-jeder kayak ada bledegnya gitu disini.


"Hem, kenapa bisa dapet restu dari Mama?"


"Kenapa ya?" Ridho ngelipet tangannya di depan dada.


"Ck, pake mikir segala! kenapa mama bisa ngerestuin kita?" aku goyangin bahunya.


"Ya karena aku usaha buat ngeyakin mama kamu, Reva..."


"Iya tapi kapan?" aku maksa.


"Ya yang waktu aku pertama kali dateng kesini. Aku ceritain semuanya. Kejadian waktu kamu terluka, dan kenapa seolah-olah aku oergi. Padahal aku nggak pernah sekalipun ada niatan buat ninggalin putrinya itu. Intinya aku nunjukin kalau aku serius sama kamu, Va. Dan mama kamu telfon pakde kamu. Beliau bilang, kalau emang bener aku serius, aku harus bisa mengurus pernikahan kita dalam waktu satu hari. Karena kalau nggak aku bisa nikah sama kamunya 2 tahun mendatang. Kan kelamaan, Va! jadi ya udah aku sanggupin aja! Dan pas kebetulan, Ravel juga harus majuin hari pernikahannya karena si Dilan yang salah kasih weton apa-apa gitu, aku juga samar-samar ngedengerinnya..." jelas Ridho.


"Jadi seakan-akan semesta memang merestui kita untuk jangan lagi menunda sesuatu yang baik ini," lanjutnya.


"Udara makin dingin, kita masuk, yuk?" ucap Ridho sambil naik turunin alisnya. Aku yang dikode pun pura-pura bureng. Ah, aku nggak tau.

__ADS_1


Ridho ngajak aku buat masuk ke dalam rumah, ninggalin para pekerja yang masih aja sibuk mondar-mandir ngehias taman.


Tapi lagi-lagi, aku sekelebat melihat ada perempuan yang muncul dari dalam kolam renang, "Astaghfirllah!" ucapku dalam hati dan mengalihkan pandangan.


"Nggak, nggak. Aku nggak boleh terpancing. Biarin aja mereka berbuat sesuka hati asalkan nggak ngeganggu aku dan keluargaku disini," batinku.


Sebenernya aku ada feeling nggak enak soal wanita tadi. Kalau iya, dia emang makhluk penghuni di rumah in, pasti udah ada dari dulu. Bukannya baru nongol sekarang kerika adekku mau nikah.


"Kamu ngeliat sesuatu?" tanya Ridho saat kita menaiki satu persatu anak tangga.


"Kamu tau?"


Ridho tersenyum tipis, "Aku ngeliat dia di rumah ini sejak kemarin malam. Malam sebelum ijab. Lebih baik kita bicara di dalem," kata Ridho.


Ridho buka pintu kamar, dan segera menutupnya.


"Tadi aku juga tau kalau dia sempet nongol disini juga, kan? sepertinya ada yang ingin dia sampaikan. Tapi itu nggak penting. Inget Reva, jangan sekalipun membuka kesempatan buat mereka berinteraksi dengan kamu. Kau nggak mau kejadian yang waktu itu terulang lagi, saat kamu menolong Rania..." ucap Ridho panjang lebar.


"Iya aku juga mikir kayak gitu. Cuma aku takut kalau dia akan melakukan sesuatu di rumah ini, apalagi besok mau ada acaranya Ravel," aku mulai khawatir.


"Nggak. Dia nggak akan berbuat macam-macam. Sebentar lagi Isya, sevaiknya kita sholat berjamaah..." kata Ridho.


Mungkin salah satu enaknya menikah kayak gini ya, ada yang ngebimbing dan ngelindungin. Ngadepin masalah nggk sendirian lagi. Kelar sholat, perasaaan udah lebih agak tenang. Walaupun aku masih lumayan kepikiran kenapa, wanita itu memakai kebaya yang persis dengan yang dipakai Ravel saat ijab.


Ridho yang udah ganti piyama panjang, nepuk kasur di sampingnya, "Sini, Va..."


Aku dengan susah payah nelen salivaku sendiri, aku bingung.


"Udah sini..." Ridho nepok lagi kasur yang ada di samping kanannya.


Sedangkan aku dengan langkah ragu perlahan mendekat. Dia narik aku buat ikut gabung masuk dalam satu selimut.


Dia meluk aku dari samping, kepalaku aku senderin di dadanya yang bisa aku dengerin irama jantungnya yang jedag-jedug. Mungkin dia juga gugup sama kayak aku sekarang.


"Tenang aja, aku nggak akan---" ucap Ridho menggantung. Aku mendongak, ngeliat mukanya.


"Kalau kamu belum siap," ucap Ridho yang kemudian mengecup keningku dan menciumi seluruh wajahku.


Apa yang dia lakukan terlalu lembut dan nggak terburu-buru. Cuma kok nggak sinkron ucapannya tadi dengan apa yang dilakukannya sekarang. Hatiku belum siap, tapi kenapa bahasa tubuhku berkata lain.


Akhirnya pertarungan antara dua perguruan persilatan pun terjadi. Ular naga merah dan naga putih saling matok mematok, nggak tau siapa yang menang.

__ADS_1


.


.


Paginya seperti biasa pintu diketok udah kayak hansip yang lagi siskamling. Dag dog dag dog nggak ngerti banget aku masih capek ngeronda.


"Revaaa bangun! mbak salonnya udah nungguiiin!" ucap mama.


"Yaaaa..." aku jawab dengan suaranyang serak-serak becek.


"Siapa, Sayang?" suara Ridho.


Aku yang masih kiyip-kiyip setengah sadar pun akhirnya melek dan...


"Kok, kamu ada disini? kita ... kamu? nga-ngapain?" tanyaku panik.


"Hah?" Ridho pun garuk garuk rambutnya yang udah kayak habis kena angin ribut.


"Ini kan kamarku, cepetan pergi kamu, Dho! sebelum mama masuk kesini. Sana cepetan! pergiii, Dhoooo!" kataku yang tambah panik ngeliat keadaan sekitar. Aku gaplokin badannya Ridho.


"Hadeuh, amnesia nih mesti!" Ridho ngetokin ujung telunjuknya ke jidatku.


"Nggak bakalan masuk orang pintunya dikunci. Lagian kenapa aku harus pergi kayak maling? orang kita kan udah nikah, udah sah jadi suami istri kemaren kalau kamu lupa..." jelas Ridho.


"Hah?"


"Hah hah hoh?" Ridho niruin aku yang masih loading.


"Udaahh saaaah, Revaaa. Udah saaah!" ucap Ridho gemes. Ingatanku yang tadi sempet ndat ndet akhirnya udah balik lagi lancar.


"Oh iya yah? udah nikah ya..." aku nyengir.


"Pagi-pagi bukannya dapet jeruk sunkiss, eh malah digaplokin. Nasib, nasib jadi suami baru dua hari..." kata Ridho.


"Heheh, maaf. Maaf suamiku..."


"Ogah!" ucap Ridho ngambek, tapi mulut dimonyong-monyongin kayak ikan cucut.


"Nggak! aku mau mandi!" aku kruwes congornya sebelum melesat ke kamar mandi.


"Aapa yang kamu lakukan itu jahaaat, Revaaaa!" seru Ridho.

__ADS_1


__ADS_2