
"Reva tetap di tempatmu," kata pak bos dengan langkah yang cepat.
Aku berusaha mengejar langkah Pak Karan, tapi secepat kilat pria bossy itu malah menutup pintu, dan aku mendengar suara kunci yang di putar.
"Pak, buka pintunya!" aku mencoba membuka pintu. Tapi percuma aja karena pintu ini udah dikunci dari luar.
"Aiiiiishhh! kenapa dia ngunci aku di kamar ini! aku kan takut..." aku melihat ke sekeliling kamar. Aku mengusap tengkukku yang mulai agak merinding. Aku berjalan ke tengah kamar, duduk di sofa tanpa sandaran yang di letakkan di ujung ranjang dengan kelambu putih yang dililitkan di tiang-tiang ranjang.
"Punten, permisi, kulo nuwun ... saya numpang duduk, ya? kaki saya pegel," aku ngomong sendiri sambil celingak-celinguk dengan wajah yang ketar-ketir.
Aku mengeluarkan hape yang ada di dalam tas. Aku berniat menghubungi Ridho, tapi aku ragu.
"Aku lagi males sama tuh orang! huuufh, lebih baik aku telfon pak Karan aja," dengan lincah tanganku mencari kontak pak Karan.
Sedetik...
Dua detik...
Tiga detik...
Panggilanku nggak dijawab. Aku makin takut dan ngerasa nggak nyaman ada di ruangan ini. Ruangan yang terlalu mevah bagi rakyat jelata seperti aing.
"Ayo dong diangkat!" aku masih terus menghubungi pria itu.
"Aku takut tau, Paaaak..." aku menempelkan hape di telingaku.
"H-halo, pak Karan!" aku langsung nyamber saat tau panggilanku dijawab.
"Saya segera kesana. Maaf, mungkin saya terlambat beberapa menit, terimakasih..." jawab pak bos, nggak nyambung.
"Pak! halo, Pak!"
Dan pak Karan mematikan panggilan teleponku secara sepihak, bagus!
"Nggak mungkin aku turun lewat jendela kan ya? nanti malah disangka maling," aku melihat jendela dengan tirai yang menjuntai berwarna putih. Aku menggaruk rambutku frustasi.
"Satu-satunya harapanku cuma Ridho, tapi kalau dikunci kayak gini, mana mungkin dia bisa bikin aku keluar dari kamar ini kecuali emang pak Karan yang bukain..."
Mataku masih mengawasi setiap sudut ruangan. Auranya aja udah nggak enak.
Terutama saat melihat standing mirror yang sepertinya terbuat dari emas. Aku bisa melihat seluruh badanku secara utuh saat menengok ke arah cermin. Dan sekelebat bayangan seperti melintas dibelakangku.
Jangan ditanya, keringat udah pasti ngucur ngebasahin pelipis dan jidatku ini.
__ADS_1
Rasa takut itu semakin bertambah saat aku menyadari, jika aku berada di kamar orang yang sudah meninggal.
"Pak Karan, buka pintunya, Pak..." ucapku bergetar.
"Paaaak..." mataku melirik ke sana kemari, nafasku mulai nggak beraturan.
"Punten, saya disini karena disuruh pak Karan. Jadi tolong jangan nakut-nakutin saya, pleaseeee..." aku menaruh hape ke dalam tas, aku ngomong seolah ada makhluk lain selain aku disini.
Dan aku merasa ada yang membelai rambutku dari belakang. Dia seperti menyisir rambutku dengan kuku jarinya yang panjang.
"T-tolong! j-jangan ganggu saya..." aku mulai menangis.
"Lalalallalalaalalaaaaaa..." aku mendengar makhluk di belakangku malah bersenandung lirih. Dia masih membelai rambutku, aku bahkan merasakan ujung kukunya menyentuh kulit kepalaku.
Dengan posisi seperti ini aku nggak berani menoleh ke arah cermin. Aku takut melihat sosok mengerikan yang ada di belakang punggungku, yang kini mulai terasa hangat bahkan mulai panas.
"Aaarrgk, Dho..." aku seketika ingat pada Ridho. Argh, seandainya tadi aku mendengarkan kata Ridho, seandainya aku nggak keluar dari kontrakan, pasti aku nggak akan disituasi mencekam kayak gini.
"Lalalalalalalalala..." aku mendengar dia bersenandung lagi, sekarang aku mendengar suara gunting yang sedang di mainkan.
Aku mendadak pucat, badanku seperti terpaku di sofa, susah untuk digerakkan. Mungkin karena aku terlalu tegang atau bagaimana, aku nggak tau.
Aku merasakan, tangan itu mengambil sebagian rambut panjangku dengan satu tangannya sementara gunting yang sedang dibuka dan ditutup sepertinya ada ditangannya yang lain.
"S-saya sudah nyalon, j-jadi jangan gunting rambut saya, saya mohon. Buat manjanginnya lagi susah. Belum lagi perawatannya yang nggak cukup 200 ribu sebulan. Sebentar lagi ada casting iklan shampo anti ketombe, jangan bikin saya bondol! pleaseeee..."
Tapi sepertinya si hantu itu hanya ingin main salon-salonan, karena suara gunting itu mendadak tak terdengar lagi. Sungguh hantu yang sangat pengertian.
"Hhhuuuuufhh..." aku bernafas lega akhirnya rambutku nggak jadi dibondolin.
Tapi mendadak kuku panjang itu menyentuh kulit leherku, "Ahhh .... hhhh..." nafasku memburu.
Nggak ada yang bisa aku lakukan selain memejamkan mata kuat-kuat, aku nggak bisa lari kemanapun saat ini. Aku hanya bisa membungkam mulutku sementara air mata udah ngalir ber ember-ember dari mataku yang aku tutup.
"Jangan menangis," bisiknya ditelingaku.
Gimana nggak nangis, kuyang! diajak main sama hantu mana bisa tenang.
"Please, jangan ganggu aku..." bibirku bergetar saat mengucapkan itu.
"Siapa bilang aku mengganggumu? aku hanya ingin bermain denganmu sebentar, hihikikikikikik..." dia kembali berbisik.
Semakin lama aku merasa kuku itu semakin tajam, aku bahkan merasakan sensasi perih di sekitar leherku yang dilewati kuku panjang itu.
__ADS_1
Tanpa aba-apa dia menancapkan kelima kukunya di kepalaku, "Aaarrrrrgghhhkk!" aku menjerit dan segera berlari ke arah pintu sambil memegangi kepalaku yang berdarah.
"Pak Karan! tolong, Pakkk! paaaaaakkk..." aku menggedor pintu.
Dan seketika ada benda jatuh dari arah ranjang. Sontak aku memutar badanku, dan sekarang dengan jelas aku bisa melihat sosok yang hantu kuku panjang yang sedari tadi menggangguku.
Wuuuuushhhh!
Tiba-tiba saja datang angin kencang dan membuat jendela terbuka seketika, dan tirai pun bergerak-gerak. Aku menutup wajahku yang terkena terpaan angin itu.
"Hihihihikikikikikik..." makhluk itu memekik, rambutnya menjuntai ke depan. Aku bersyukur, minimal aku nggak melihat wajahnya yang sudah pasti menyeramkan.
"Pak Karaaaan! buka pintunya, Paaaaakk!" aku terus berteriak.
"Jangan takut, sssshhh..." suara serak menakutkan menggema di ruangan ini.
"Kemarilah..." makhluk itu merentangkan tangannya dengan kuku hitam yang panjang, ia seperti melambai padaku sebelum mata merah muncul disela rambutnya yang basah dan lepek.
"Nggak! pergiiiiiiii! aku nggak mau!" aku menjerit saat sosok itu mulai mendekat, sementara daun jendela membuka dan menutup sendiri membuat suasana malam ini semakin mencekam.
"Kemarilaaaaah, kami menyukaimu!"
"Tapi aku, nggak! please, biarin aku pergi..." aku menangis sambil terus berusaha menggerakkan handle pintu.
Hantu kuku panjang semakin mendekat, aku pun bergerak menjauh dari pintu, "Tolong tetap ditempatmu, jangan lagi mendekat!"
Aku terus bergerak supaya hantu itu tak bisa menangkapku.
"Hahahahhahahahah, kau begitu menyukaiku, bukan? kau selalu membawaku kemanapun kau pergi. Dan sekarang giliranku membawamu kemanapun aku pergi, hahahhahahah," hantu itu tertawa suaranya melengking membuat telingaku berdengung nggak karuan.
"Aku bilang pergiiiiiii! hhh ... hhh," aku mendekat ke arah jendela, dan mataku melirik ke bawah.
"Hahahhahaha," suara ringikan terdengar dari mulutnya yang tertutup rambut panjang yang menjuntai sampai lantai.
Ctaaaaarrrr!
tiba-tiba saja hantu itu menghilang diiringi suara ledakan kecil dan asap putih. Aku memutar kepalaku mencari keberadaannya.
Dan sesaat kemudian...
...----------------...
(Maaf visual cast dihilangkan karena banyak yang bilang nggak sesuai, 🙏🏻🙏🏻🙏🏻. Thanks)
__ADS_1