
Aku biasain pulang kantor sebelum maghrib. Aku nggak mau keluyuran kemana-mana, kerjaan selesai langsung balik ke apartemen.
Di dalam mobil yang sunyi ini, cuma lagu
-lagu jadul yang nemenin aku nyetir. Langit mendung, dan hujan turun deres banget.
"Aih, kenapa tiba-tiba ujan sih?"
Aku nyalain wiper tapi saking derasnya, sampai jalanan kayaknya nggak begitu keliatan.
Tang ting tung...
Tang ting tung...
Hapeku bunyi, ada telepon masuk.
"Halo, ya?" aku lihat namanya sekilas saat aku swipe layar.
"Kamu dimana? masih di kantor?" ucap pria itu.
"Aku? lagi di jalan..."
"Hujan deras, harusnya kamu tunggu saya..." kata orang yang beneran suka ngatur-ngatur.
Aku menepi dulu. Karena aku nggak fokus kalau nerima telfon sambil nyetir walaupun mobilnya matic yang cuma gas rem ngeng doang.
"Kan naik mobil aku nggak akan basah," kataku.
"Ya sudah, langsung pulang dan jangan mampir kemana-mana," kata adek sepupu yang over protective banget.
Semenjak kejadian nyawaku hampir melayang, pak Karan sedikit berubah. Kadar jutek, dinginnya mulai berkurang kecuali kebiasaan suka merintah, kalau itu udah jadi tabiat. Nggak bisa diotak-atik lagi.
Sekarang aku yang sedang menepi, menikmati hujan sebentar. Dan ternyata, tetesan air mengalir bukan hanya dari langit, tapi dari kedua mataku juga.
"Aiiihh, kenapa mendadak marshmelow kayak gini sih!" aku menyeka air mata yang udah terlanjur meluncur bebas.
Hujannya makin lama makin deres di sertai angin dan petir.
"Harus cepetan pindah, takut ada pohon tumbang!" aku mulai menjalankan lagi kendaraan roda empat hasil dari kerja kerasku selama ini.
Sebenernya aku tinggal nunjuk aja mobil yang berjejer di garasi mobil adek sepupu, tapi aku nggak mau serakah. Masa iya apa-apa serba dikasih?
Jadilah aku beli mobil second, eh eh eh yang penting kan kondisinya masih bagus. Lumayan duitnya buat ngasih mama biar bisa hang out sama temen-temen arisannya.
Ya maklum, perusahaan kan belum gede aku juga sadar diri lah ya, gaya hidup harus dikondisikan. Tapi aku enjoy aja, dengan hidupku yang sekarang. Walaupun aku tau nih ada penumpang gelap yang duduk di belakang. Tapi biarin aja lah ya, pura-pura kita nggak liat.
Mata kedutan juga lagi, ih bikin nggak fokeus nyetir deh. Katanya sih kalau mata kedutan bakal mau dapet rejeki. ya mudah-mudahan aja, tau-tau ada duit jatuh dari langit gitu ya.
__ADS_1
Aiiih, sekarang udah ujan, macet, plus ditemenin makhluk yang tidak diinginkan keberadaannya ini bikin aku ngerasa agak dongkol.
Aku liat di kaca, nih syaithonirrojim masih aja duduk anteng. Dia kayaknya lagi galau juga sama kayak aku.
Dan langit udah gelap, "Kan, udah nglewatin maghrib! nyebelin!" aku ngomel dalam hati yang terdalam.
Lagi enak-enak nyetir, lah ini mobil kok tau-tau ndat ndet.
"Kenapa lagi, woyyyy?" aku refleks komen.
Greeeegggg!
Mobilku tiba-tiba mati gitu aja, "Ini nih pasti gara-gara ada yang main numpang di belakang!" aku nuduh setan yang di jok belakang yang bikin mobilku mogok di jalanan.
Aku cuma duduk di belakang stir sambil mikir apa yang harus aku lakuin. Hujan deres, mau ambil payung ada di saku jok kursi yang aku duduki. Dan itu berarti aku harus noleh ke belakang.
"Bodo amatlah!" aku ngejulurin badan ke arah belakang, sambil tangan ngerogoh saku jok.
Mataku menangkap sosok wanita yang duduk dengan santainya di mobilku, berasa kita ini supir dia.
"Tahan, tahan jangan emosiii..." aku nyoba menyabari diri.
Setelah payung ada di tangan, aku mulai menekan tombol buat ngebuka kap mobil.
Klekkk!
Aku buka kap mobil dengan susah payah.
Dan sreeeeeettt, cyiiiit. Ada satu mobil yang berhenti tepat di depan mobilku.
Sibuk ngeliatin mesin yang aku nggak ngerti harus digimanain, aku nggak begitu memperdulikan siapa orang yang sepertinya berjalan mendekat ke arahku.
"Kenapa mobilnya? mogok?" ranya seorang pria yang berdiri tepat di belakangku.
DEG!
Aku yang ditanya malah diem, sementara mataku melirik ke kanan dan kekiri.
"Apa ada masalah dengan mesinnya? biar aku lihat..." ucap pria itu.
Dan aku meninggikan payungku, berbalik ngeliat orang yang kini berdiri tepat dibelakangku. Memastikan siapa orang yang ngomong sama aku saat ini.
Aku merasa seperti dipermainkan takdir, satu sosok yang sudah hilang sekian lama, sekarang ada di depan mata.
"Reva?" panggilnya.
Aku hanya diam, memandangnya dengan beribu pertanyaan.
__ADS_1
"Va..." panggilnya lagi. Panggilan yang udah lama banget nggak aku denger.
"Ridho?" aku hanya bergumam dalam hati.
Tapi batinku saat ini belum siap. Aku segera memutus sambungan pandangan kami. Rasanya jantungku berdebar nggak karuan, aku nggak tau apa yang aku rasain sekarang. Yang jelas aku pengen menghilang secepatnya.
Aku balik badan, mau nutup kap mobil yang terbuka. Tapi tanganku dicegah olehnya.
"Masuklah, biar aku ngecek mesinnya," ucapnya yang membiarkan badannya basah kuyup.
Tanpa ada satu patah kata pun aku masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang sulit diartikan.
Aku ngelirik ke kaca spion, hantu itu nggak tau ngilang kemana. Jok dibelakang kosong.
"Dasar nggak tau diri, makasih kek apa gimana..." aku mengomel saat aku ditinggal gitu aja sama hantu nebeng.
Dan seseorang mengetuk kaca mobilku, aku pun menurunkan kaca jendela perlahan, dan terpampang jelas wajahnya yang basah terkena air hujan.
"Coba nyalakan mesinnya..." suruhnya.
Aku pun mencoba buat ngelakuin apa yang dia minta dengan raut wajah yang datar terkesan dingin.
Ngengnggggg!
Mesinku nyala lagi, dia nutup kap mobil dan berdiri di samping mobilku. Aku menurunkan kaca mobil lagi, "Terima kasih," kataku.
"Aku nggak nyangka kita bisa---" ucapnya, tapi aku dengan cepat menutup kembali kaca jendela tanpa mau mendengar apa yang mau dia ucapkan.
Dughhh!
Dughhh!
Dughhh!
Dia mencoba mengetuk kaca mobilku, meminta aku buat berhenti. Tapi rasa sakit hati bikin aku nggak mau ngeliat dia buat saat ini.
Aku memacu kendaran meninggalkan Ridho ditengah hujan yang mengguyur tubuhnya.
Setelah 20 menit aku sampai di apartmen. Aku segera naik ke unitku dan membukanya.
Aku tutup pintu dan mencopot sepatu, lalu bergerak menuju kamar tidur. Aku ngelempar tasku asal, yang aku butuhkan saat ini kucuran air hangat. Supaya sel-sel otakku ini bisa berpikir dengan jernih.
"Kenapa sekarang?" ucapku saat aku ngerasain air hangat membasahi rambut dan wajahku. Bayangan sosok Ridho mendadak muncul, aku pun segera menyudahi acara mandi ini. Dan memilih mengeringkan badan lalu mengenakan pakaian yang nyaman dipake buat tidur.
Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan mengeringkan rambut yang basah dengan hairdryer.
Tapi hape yang ada di tasku berdering. Aku mencoba mengabaikannya, tapi itu benda canggih nggak mau berhenti berbunyi.
__ADS_1
"Aihhh, siapa sih yang nelfon?" ucapku yang meletakkan mesin pengering rambut dan bergerak menuju tas yang tergeletak di lantai.