Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ulah Hariwang


__ADS_3

"Dhoooooooo...? Ridhooooo..." aku panggil Ridho, sesuatu yang hangat menjalar ke badanku.


"Jangan pergi ya, Dho? pokoknya kamu disini aja, nggak usah sama Karla. Aku pengen pulangnya sama kamu, pak Karan tuh galaknya minta ampun..."


Dan rasanya kehangatan sehangat minyak telon bayi itu mendadak lenyap.


"Dho? Ridho? kamu dimana, Dho?" aku panik saat yang aku peluk itu hanya angin kosong.


Mataku mencarinya kemana-mana, tapi nggak ada. Hanya ada aku di dalam mobil ini.


"Teteh, abdi didieu..." suara anak perempuan. Aku melirik ke sana kemari, nggak ada orang.


"Teteh, abdi didieu..." anak perempuan itu mengulang ucapannya lagi.


"Heh, suara siapa itu?"


"Ridhoooo? jangan tinggalin aku disini, Dho?" aku memanggil Ridho.


"Teteh, abdi didieu ... ulah hariwang..." bocil tadi ngomong lagi.


"Hariwang hariwang aku nggak ngerti


apa yang kamu omongin! sana pergiiiii...!" aku ngebentak tuh bocah.


"Teteh, jangan takut..." akhirnya tuh bocah ngomong pakai bahasa yang aku ngerti.


Tiba-tiba saja aku melihat anak perempuan yang nempok di kaca jendela mobil depan, "Astagfirllah, heh! pergi sana!"


"Teteh jangan takut," katanya lagi.


"Ya jelas aing takut lah. Orang kamu tau-tau nongol dan nemplok di jendela! dah sana jangan ganggu aku!" aku ngeri liat tuh bocah ada di depan mata. Bocah yang sepertinya nggak asing, raut mukanya mendadak sendu.


Langit masih gelap, aku harus keluar dari mobil. Lagian kenapa Ridho dan pak Karan nggak ada. Bocah tadi mendadak ngilang. Dan sekarang pindah ke jendela di samping tempat dudukku.


"Teteh, jangan bergerak..."


Padahal kan dia ada di luar dan mobil ini ketutup rapet, tapi kok suaranya jelas banget kedengeran di kupingku ini.


Langit yang semula gelap kini perlahan mulai terang, mungkin sekarang sudah pagi. Tapi ada yang aneh, aku ngerasa mobil ini agak sedikit berbeda.


"Teteh diem aja di dalem, jangan keluar..." kata bocah perempuan tadi ngasih tau sebel dia menghilang seperti kabut.


"Hah," aku celingukan nyari tuh bocil, takut kalau mendadak dia nongol di dalam mobilnya si bos.


"Kayaknya dia udah pergi, kayaknya udah nggak ada. Aku harus pergi dari sini," aku mencoba membuka pintu.


"Aaakkkkjhhhh! Ridhooo..." aku gemeteran saat aku buka pintu mobil ternyata mobil ini sedang berada di tepi jurang. Angin langsung menerpa wajahku yang lagi panik setengah centong.


Bruuuukkk!


Pintu mobil aku tutup lagi, tanganku langsung dingin.

__ADS_1


"Aku harus gimana...? aku takut," kedua tanganku saling meremas.


"Ya Allah, aku belum tobat. Aku nggak mau wassalam duluan, aku belum belajar ngaji, belum sholat yang rajin, dan aku belum kawin..." air mataku merembes, aku seketika teringat mama dan Ravel.


Aku masih pengen ketemu mama, aku belum kasih cucu yang banyak buat mama dan kasih keponakan buat adikku yang hobi belanja itu.


"Mah, Reva takut, Mah..." tangisku pecah, aku nggak boleh banyak bergerak, bisa-bisa mobil ini terjun bebas ke dasar jurang kenistaan yang terdalam.


Aku tutup mukaku, aku nangis sampe sesenggukkan, hidung udah kembang kempis juga.


Aku elap tuh air mata, "Nggak, aku harus berusaha keluar dari sini, aku nggak boleh langsung nyerah, aku harus usaha dulu..."


Entah kekuatan pikiran darimana asalnya, aku punya sedikit harapan bisa keluar dari mobil ini.


Sreeettt.


Bbruugg.


Mobil menukik saat aku bergerak ke kursi belakang.


"Hhh ... hhh, aku pasti selamat. Ya aku pasti bisa keluar," aku meyakinkan diriku sendiri.


Aku nggak tau posisi mobil ini kayak gimana, yang jelas, aku pengen selamat. Tapi saat ini aku nggak bisa mikir sama sekali.


Oke, kayaknya ini mobil masih ditahan pohon atau semacamnya, sekarang aku harus bergerak lagi ke belakang.


"Fiuuuhhhh, kamu bisa Reva. Kamu pasti bisa," baru juga aku gerak dikit, nih mobil juga ikutan gerak.


Bruuuuuk.


Tanganku udah gemeteran saat aku akan melompat ke belakang, "Mah, maafin Reva ya mah. Reva banyak salah banyak dosa sama mamah. Reva belum bisa bahagiain mama, masih suka ngerepotin masih suka ngebantah..."


Aku jadi inget semua dosa-dosa aku sama mama, kalau sama papa nggak. Dia yang punya dosa sama aku, terutama sama mama.


Aku memejamkan mata sejenak, sebelum aku bergerak lagi, "Huuuuh, aku pasti bisa keluar. Aku udah selamat beberapa kali dari maut, begitu pun kali ini, aku yakin pasti bisa keluar dengan selamat..."


Aku buka mata dan bergerak ke belakang.


Brrrrrruuuughhhh!


Mobil anjlok ke bawah.


Aku coba buka pintu bagasi, "Aaaaaarrrrhhhh! susaaaah!" aku nggak bisa buka nih pintu.


"Siapapun tolong akuuuu, huhuhuhuhu..." aku gedor-gedor kaca mobil sambil nangis.


"Aku harus pecahin nih kaca jendela," aku mencoba mencari apapun yang aku pakai untuk memecahkan kaca mobil.


Tapi sial.


Sreeeeeeeeettttttt.

__ADS_1


Mobil terjun bebas, membawaku ke dasar jurang.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaakh," aku menjerit tanganku terulur ke depan, sedangkan badanku terdorong ke belakang.


"Aaaaaaaakkhhh!" aku menjerit lagi.


Dan...


Plaak!


Plaak!


Aku merasa ada teplakan di pipi kanan dan kiriku.


"Aaaawhhh," aku mengaduh.


"Revaaaa! heyyyy! Revaaaaaaa..." seorang laki-laki memanggil namaku.


"Hey, tukang ngelindur! cepat bangun!" lanjutnya.


Perlahan aku membuka mata dan melihat sepasang mata elang berada tepat di hadapanku, "Pak Karan?" aku terkejut.


"Jadi, semua itu hanya mimpi?" batinku bertanya-tanya.


Aku menatap matanya dalam, aku memegang pipiku yang panas habis diteplakin sama pak Karan tanpa melepaskan tatapanku pada sepasang mata yang tajam milik pak bos titisan dari beruang kutub utara.


Dia menyingkirkan tanganku dari pipi gemoyku, dia mengelusnya dengan ibu jarinya. Dan sesaat aku merasakan sisi lain dari seorang Karan Perkasa. Ternyata dia mempunyai sisi lembut yang tersembunyi.


"Sssssst..." dia menaruh jari telunjuknya di depan bibirku, menyuruhku untuk diam.


"Jangan bicara," ucap pak Karan. Aku bisa merasakan hembusan nafas pak bos, dia mendekatkan wajahnya. Nanun tanpa diduga tangannya kini menarik badanku ke depan, dan dia menaruh kepalanya di perpotongan leherku.


Dia memelukku dengan lembut, merasakan kalau pak bos ini sebenarnya membutuhkan kehangatan dari seseorang. Maksudnya kehangatan yang berbentuk cinta dan perhatian, gitu loh.


"Pak..." aku mengelus punggungnya.


"Biar saja seperti ini dulu, tolong..." kata pak Karan dengan suara sedikit serak.


"Apa dia juga teringat dengan ibunya sama seperti aku yang ingat dengan mama? dia yang kuat kenapa mendadak melow begini?" batinku bertanya-tanya.


"Padahal aku kira tadi bakal di tiam-tium loh, ternyata cuma di peyuk. Astaga, Reva jaga pikiranmu," aku ketawa konyol, bisa-bisanya aku berpikiran seperti itu disaat seperti ini, haduuuh koplak.


Pak Karan masih memelukku bahkan semakin erat, "Pak, saya nggak bisa napasss ini loh! Bapak nggak niat bikin saya cengap-cengap, kan?"


"Maaf," kata pak Karan yang melonggarkan pelukannya. Dia menyeka air di sudut matanya.


"Wait? pak bos habis mewek?" gumamku dalam hati.


Pak bos kembali ke tempat duduknya tanpa ngomong sepatah kata pun, dan sekarang kita diem-dieman.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2