
Semalem ternyata malem jumat kliwon, pantesan aja tuh setan pada keroyokan pengen nampakin diri. Masih untung di apartemen aku nggak ada gangguan, kalau ada beuuuh aku pasti nggak bisa tidur.
Beteweeh, kesel banget aku tuh. Nungguin tas, hape dan dompet yang nggak kunjung balik sampai jam makan siang.
"Tuh orang niat balikin nggak sih? sebel banget, deh!" ucapku sambil ngeliatin kuku panjang abis di menicure.
Telfon di mejaku berbunyi.
"Maaf, Nona. Ada pak Ridho ingin bertemu..." kata Arlin.
"Panjang umur tuh setan, eh maksudnya ... ck! arghhh, suruh saja dia masuk!" kataku yang udah nggak sabar pengen nyakar muka tuh lakik rese.
Brak!
Aku balikin gagang telpon dengan kekuatan penuh.
Dan beberapa detik kemudian.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masssuuuuuk!" aku dengan suara melengking.
Dan orang yang ditunggu akhirnya nunjukin mukanya juga. Tapi mataku memicing saat dia datang dengan tangan kosong. Aku lantas berdiri dari kursi kebesaranku.
"Mana tasku?" tanyaku tanpa basa-basi ketika tuh manusia udah nutup pintu.
"Memangnya anda menyuruh saya untuk mengantarkan tas anda sampai ke ruangan ini, Nona?" tanya Ridho yang mendekatiku.
"Lalu untuk apa kamu datang kemari jika tidak membawa apa yang aku minta, hem?" aku judesin sekalian.
"Untuk mengajak anda makan siang, atau?" dia menaik turunkan alisnya.
"Ck! jangan bercanda, cepet balikin tasku!" kataku dengan mencengkram kuat jas yang dia pakai.
"Jangan seperti ini, Nona! shhh, tidak enak jika nanti ada yang melihat," kata Ridho berasa korban pemaksaan.
"Sshhh, nggak usah main-main! mana tasku?" aku lepasin dengan setengah mendorong badan Ridho yang makin kaya papan penggilesan, keras.
__ADS_1
"Ini badan apa tembok berlin susah banget di dorongnya!" umpatku dalam hati.
"Sabar, tasnya ada di mobil. Saya akan memberikannya dengan satu syarat, kita makan siang bersama," ucap Ridho.
"Hanya makan siang? nggak lebih!" ucap ku menatapnya tajam.
"Ya kalau anda yang menghendaki, apa boleh buat! saya tidak bisa menolaknya," ucap Ridho dengan kata-kata yang aneh.
Mendengar dia dengan bahasa formal seperti ini, berasa bukan Ridho yang aku kenal. Aiiih, apa sih yang aku pikirin. Jelas beda lah. Sekarang kita cuma partner kerja. Dia orang kepercayaan dari Bagas pemilik perusahaan Awan Hitam. Tebakanku ini orang pas lagi nyari nama, pasti langitnya lagi mendung. Atau dia lagi patah hati, gagal move on dari seseorang. Makanya nama perusahaannya itu terkesan ngenes.
Sekarang aku ngikut si kutu kupret ini buat makan siang. Tapi daritadi aku celingukan di mobil, nggak ada tuh tas merah aku.
"Si Bambang nyembunyiin dimana tuh tas?" aku menelisik dalam batin.
"Duduk yang benar, ntar yang ada encoknya kumat!" kata Ridho yang negur aku.
"Ck, aku belum setua itu, heeeyyyyy!" aku kasih tunjuk dia jariku.
Dan Hap!
Lalu ditangkap, dia!
Dia lepasin tanganku dan kembali fokeus nyetir lagi. Nggak lama mobil ini belok ke restoran fast food, aku yakin nih orang sengklek pasti pengen nyekokin makanan junk food dan bikin aing gembrot.
Dia pesen burger dan minuman dua, abis itu udah. Dia bawa lagi nih mobil nggak tau kemana.
"Kalau cuma mau makan junk food kayak gini, ngapain repot-repot aku harus ikut kamu kesini? pesen deliverry kelar, tau nggak?"
"Kalau pesennya nasi padang repot makannya," ucap Ridho santai.
Mungkin dia mulai lupa bahasa formal yang beberapa hari ini selalu dia pakai ketika ngomong sama aku. Tapi dengan ngomong kayak gini, kita kayak bukan robot, kita kayak dua manusia yang hobinya cekcok.
"Kalau kamu udah laper, makan dulu aja!" ucapnya tanpa mengalihkan sedikitpun matanya dari jalanan.
Dengan muka yang kesal, aku gigit nih burger sampai mayonya meleleh ke mulutku.
"Harusnya kamu udah balikin tas aku dong? ini kan aku udah nurutin kamu buat makan siang bareng!" ucapku sambil ngunyah.
"Please jangan sebut tas lagi, kamu udah nyebutin kata itu lebih dari 10 kali hari ini!" kata Ridho ngasal.
"Ya karena itu barang penting buat aku!" aku nggak mau kalah.
__ADS_1
"Aku akan kasih itu, setelah nanti kamu nemenin aku makan..." kata Ridho.
Dan aku baru nyadar kalau mobil ini mengarah ke luar kota. Udah datengnya lebih dari jam 1 siang, ditambah aku yang udah keruyukan sekarang aku harus nahan kesel lagi karena aku nggak dikasih tau kita mau kemana.
Sebete-betenya, ternyata aku udah ngabisin satu burger tanpa sisa dan satu cup minuman bersoda, fix habis ini aku harus bakar lemak. Udah lama aku ninggalin makanan kayak ginian, dan sekarang apa yang aku hindarin udah berpindah ke lambungku yang sekarang udah adem ayem tentrem.
Mataku udah nggak bisa dikondisikan, ngeliat pemandangan yang serba hijau berasa seger banget. Makanan dia masih belum teraentuh, aku yang cuma duduk aja laper. Nahh ini orang daritadi nyetir minum air setetes juga nggak.
Bodo amat sih, mau kehausan atau kelaperan aku juga nggak peduli. Udah gede inih, bisa ngurus diri sendiri.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kita sampai di sebuah cottage
"Kita sudah sampai!" kata Ridho.
"Heyyy, perjanjiannya aku cuma nemenin kamu makan siang. Bukan malah nemenin kamu ke luar kota...?! nggak usah aneh-aneh ya! aku mau pulang sekarang juga!" aku mulai panik.
"Ya kita disini buat makan siang!"
"Makan siang dari mana? ini udah sore, langitnya udah mau gelap!" ucapku nunjuk langit yang menjingga.
"Tapi kan konsepnya tetap makan siang," Ridho nggak mau kalah.
Laki-laki ini keluar dari mobil dan membukakan pintu buat aku.
Kita masuk ke dalam penginapan dengan konsep yang menyatu dengan alam ini, karena jujur aja pemandangannya bagus. Udaranya seger dan rasanya otak ke-refresh banget.
Tapi, ini bukan waktunya healing. Jadi aku harus secepatnya ngusir jiwa-jiwa pengen piknik ini.
"Sini kuncinya!" ucapku menengadahkan tangan.
"Kamar kamu ada di---"
"Bukan kunci ini, tapi kunci mobil! aku nggak suka dikerjain kayak gini, ya! aku mau balik sekarang juga!" kataku tegas.
"Sebentar lagi waktu pergantian malam, jafi sebaiknya kamu masuk ek dalam kamar kamu dan nikmati air panas supaya kamu jangan terlalu tegang. Di kamar kamu sudah aku siapkan baju, kamu bisa pakai itu," Ridho menyerahkan kunci kamar.
"Begoooo! begooo! mau-mau aja dikibulin sama nih orang!" aku jalan dengan labgkah yang sengaja aku hentak-hentakkan. Ridho hanya menoleh sekilas.
Kamar kita bersebelahan, Ridho udah masuk duluan dengan mengucapkan salam, padahal di dalam aku yakin nggak ada siapa-siapa.
Dan pas aku buka pintu kamar, ternyata...
__ADS_1