Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jawaban


__ADS_3

"Memangnya dia siapa? siapa pria ini? katakan? apa dia PIL? Pria Idaman Lain?" Ridho nyerocos lebay.


"Diam dulu Fernando?! aku jelasin dulu," ucapku.


"Dia ini salah satu pegusaha besar. Kita pernah kerjasama. Aku keluar dari perusahaan dan aku udah nggak tau lagi kabarnya, karena aku udah menyerahkan tampuk kepemimpinan pada pak Karan. Ya walaupun Arlin masih terus rutin melaporkan perkembangan perusahaan sama aku..


" jelasku.


"Tapi aku nggak nyangka kalau Pak Dera yang melakukan semua ini," kataku lagi.


"Apa kamu bikin kesalahan sampai dia dendam sama kamu, Sayang?" tanya Ridho penasaran.


"Yang ada dia yang menghina aku, Mas. Makanya nggak ada terbayang sedikitpun kalau yang melakukan teror mistis ini adalah Dera Prayoga,"


Aku nanya sama nenek, "Jadi beneran yang mau numbalin bayi kami itu pak Dera? bukan Karla? atau Kanaya mungkin?"


"Kok Kanaya sih?" Ridho natap aku heran.


"Karena semua makhluk itu datang ke rumah kita, si Kanaya duluan yang dateng. Dan barulah semua kekacauan itu terjadi. Aku malah nyangkanya si Karla yang masih dendam sama aku karena pada akhirnya kita berdua nikah dan malahan mau punya anak," ucapku yang kemudian menatap nenek Yuna.


Balik lagi ke pelaku utama ya. Sebenernya batinku bertanya-tanya, kenapa pak Dera yang menjadi dalang dari semua kejadian ini, orang yang nggak pernah aku curigai. Ketemu juga baru sekali. Tapi nggak mungkin juga kalau si nenek mengarang indah tentang pelaku penumbalan ini.


Aku menarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya "Huuufh, tapi bagaimana bisa dia..." gumamanku terhenti.


"Bisa karena ada satu laki-laki yang sangat berpengaruh diantara kalian," ucap nenek Yuna.


"Karan Perkasa," ucap si nenek yang memejamkan matanya, mungkin kali si nenek gempor tangannya kalau harus ngegambar lagi.


"Maksudnya? Karan Perkasa?" gumamku lirih.


"Seorang laki-laki dengan badan yang tegap dan tampan, sudah matang dan juga sudah memiliki calon istri bernama Kanaya, walaupun rencana pernikahan itu dilakukan tak lebih dari sekedar kepentingan bisnis. Dia yang memutuskan semua kerjasama dengan Dera Prayoga," ucap nenek.


"Apa pak Karan tau kalau Dera Prayoga itu yang menghina aku dan yang menjadi alasan utama aku mau mengembalikan perusahaan yang dia kasih. Apa itu yang bikin pak Dera dendam sama aku?" batinku bertanya-tanya.


Dep?!

__ADS_1


Dep?!


Dep?!


Lampu beberapa kali redup kemudian menyala lagi. Aku cemas, jadi aku genggam tangan kangmas.


"Tenang, ada aku..." bisik Ridho.


Nenek Yuna melirik ke kanan dan Ke kiri. Aku cuma berdoa dalam hati supaya nggak ada makhluk ghoib yang aneh-aneh yang ucluk-ucluk dateng ngapelin kita kesini. Ini rumah orang, cuy! Jangan sampe buat gaduh.


"Mereka tidak akan berani masuk kemari," ucap nenek Yuna seakan menjawab kegelisahanku.


"Dera Prayoga itu tidak pernah main-main orangnya. Bahkan sekarang Karan Perkasa itu sedang menjadi target keduanya. Jika dia berhasil melakukan rencananya padamu, maka raja iblis akan memberinya kekayaan yang tidak akan ada habisnya. Karena anak yang kau kandung itu bukan anak biasa. Dia anak yang istimewa..." ucap nenek yang kemudian meninggalkan kami berdua di ruang tamu.


"Tenang ya? aku akanenjaga kamu, dan calon anak kita. Aku nggak akan biarin si Dera itu menyakiti kamu maupun anak kita. Kamu harus percaya," ucap Ridho.


Aku mengangguk, "Iya, Mas..." ucapku.


Memang benar, sikapku yang keras kepala dan kedebag-kedebug ini udah sering bikin aku tersandung masalah. Tapi lagi-lagi, aku selalu mengulanginya. Ya walaupun sikap cerobohku udah sedikit agak mendingan dari sebelumnya.


"Aaakkkkkhhhhh," rasa sakit itu datang secara tiba-tiba.


"Kenapa kamu, Sayang? sakit? iya?" Ridho berusaha mengelus perutku. Hujan diluar semakin deras. Bahkan petirnya ikutan dar der dor, bikin suasana siang ini makin dingin.


"Huufffhh, sakit..." ucapku sambil meringis.


"Rebahan coba, biar perut kamu nggak tegang," ucap Ridho yang angkat aku ke kursi yang panjang. Dia rebahin aku disana, sedangkan dia nya sendiri yang ngedeprok di bawah.


"Ridho..." kali ini aku pengen banget manggil nama Ridho.


"Kenapa?"


"Kamu nggak marah aku cuma manggil nama?" tanyaku.


"Nggak lah, kan namaku emang Ridho. Dan kamu Reva ... dan anak ini ... siapa ya? ntar deh kita pikirin," ucap Ridho sambil terus ngelusin perutku.

__ADS_1


"Apa aku sekeras kepala itu?" aku tiba-tiba kepikiran sama omongannya nenek Yuna.


"Hem, ya lumayan. Tapi wanita keras kepala itu yang malah bikin aku nggak bisa jauh-jauh. Kita deket karena kamu maksa buat balik bareng, numpang di kontrakanku dan banyak hal lain dari sifat keras kepalamu yang bikin kita terus bersama-sama," ucap Ridho.


"Tapi aku takut nanti kamu jenuh dan pergi ninggalin aku, aku yang sering bawa masalah dalam kehidupan kamu, Dho..." ucapku yang kayaknya udah kangen banget ngobrol santuy kayak gini. Nggak peduli dengan anggapan orang, yang bakal menilai aku istri yang nggak tau sopan santun karena manggil suami sendiri pakai nama.


"Jangan pikirin hal-hal yang buruk. Nanti berpengaruh sama kehamilan kamu. Kasian dedek bayi yang ada di dalem. Kalau ibunya banyak pikiran atau sedih, si dedek juga bisa ngerasain..." kata Ridho.


"Aku sih terserah kamu kalau kamu pengen kita pergi dari sini dan pergi ke rumah pak Sarmin ya hayuk. Kita pergi setelah pamit sama bu Nela. Kamu yang ngerasain hamil, kamu yang bisa mengukur kekuatan kamu sendiri, apa kamu bisa melakukan perjalanan jauh atau nggak," lanjut Ridho.


Aku berpikir sejenak.


Jederrrr?!!!


Petir saling bersahut-sahutan seakan ingin menahanku lebih lama. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku nggak mau sifat sembronoku bisa membawa petaka bagi anakku.


Nggak kali ini aku harus berpikir dengan jernih, aku nggak boleh terburu-buru.


"Gimana, Sayang?" pertanyaan Ridho membuyarkan lamunanku.


"Gimana apanya?"


"Kamu mau kita pergi atau?" tanya Ridho.


"Aaawwwkkkh," perutku kembali menegang, kali ini durasinya lebih lama.


Ridho mengusap-usap perutku, buat sekedar ngurangin rasa sakitnya, "Dedek Sayang, jangan tendangin perut Mami terus ya, kasian Maminya kesakutam terus nih..." ucap Ridho yang mencoba berkomunikasi dengan anak kami.


"Aaarrrrrghhhh," aku memekik lagi.


"Kayaknya dengan kondisi kayak gini aku nggak bisa pergi, tapi ... nggak mungkin kita numpang hidup disini juga kan, Mas? yang ada kita ngrepotin orang. Kalau aku udah mendingan, aku rasa kita pergi aja ke rumahnya pak Sarmin. Aku rasa lebih nyaman disana," ucapku pada kangmas.


"Iya, nanti kita ke sana ya? kita tunggu bu Nela pulang baru nanti kita pamit. Syukur-syukur kamu udah nggak sakit lagi," kata Ridho lembut.


Entahlah, apa yang bikin aku pengen ngelanjutin perjalanan kami yang tertunda. Aku pasrahin aja semuanya sama Tuhan, semoga aku, Ridho dan calon anak kami selalu berada dalam lindungan-Nya. Bismillah.

__ADS_1


__ADS_2