
Ridho menatap aku dengan bingung.
"Kenapa? apa aku salah ngomong, ya?" tanyaku sama kutu kupret yang satu ini.
"Nggak, nggak! aku cuma nggak nyangka aja kamu bakal ... bakal ngomong kayak gitu," ucap Ridho.
"Aku malah seneng dengernya," lanjut Ridho.
Aku tersenyum tipis, "Saat itu aku cuma mikir kalau kapan pun maut bisa menjemput salah satu diantara kita. Aku atau kamu. Atau bahkan kita berdua..." kataku.
"Jangan bilang kayak gitu,"
"Dari kisah Rania, aku banyak belajar kalau bisa aja aku nggak punya banyak kesempatan. Bisa aja aku nggak punya banyak waktu, dan aku nggak mau gentayangan perkara perasaan yang belum kelar..." ucapku nggak jelas.
"Maksudnya?" Ridho bingung. Jangankan Ridho, netijen juga pasti bingung ini Reva ngebachod apaan.
"Maksudnya, aku udah maafin kamu dan menyudahi semua kesalahpahaman ini..." ucapku dengan memandang wajahnya.
"Karena sebenernya ... yang mau nikah itu Ravel bukan aku," lanjutku.
"Aku nggak tau kamu dapat info kalau aku yang mau nikah itu darimana yang jelas, berita iru nggak benar. Karena sampai saat ini aku nggak ada hubungan sama siapapun..." aku ngomong dengan susah payah.
"Ravel?" Ridho geleng-geleng kepala.
"Nggak, nggak mungkin lah, dia masih bocah masa iya mau nikah? jangan becanda kamu, Va!" Ridho malah ketawa.
"Dih, nggak percaya. lha wong, aku ngomong beneran kok, si Ravel yang mau nikah bukan aku..."
"Ya gimana aku mau percaya, orang adek kamu itu yang jelas-jelas bilang kalau kamu yang mau nikah. Aku nggak begitu percaya, tapi setelah aku telfon mama kamu dan beliau ngeiyain berita itu, aku kan jadi ketar-ketir. Takut banget kamu diserobot orang!"
"Ravel? Mama?" sekarang giliran aku yang melongo, ndowoh dan ngah ngoh.
"Iya beneran. Ngapain aku bohong, kalau perlu kita telfon adek kamu sekarang juga..."
"Nggak nggak, jangan!" aku nyegah Ridho buat ngerogoh sakunya.
"Aku taunya Ravel yang mau nikah, tapi kamu dapet kabar kalau aku yang nikah dari si Ravel juga. Aku mencium bau-bau perjengkolan eh persekongkolan ini Dho. Antara Ravel, mama dan si Dilan..."
"Dilan?" Ridho mengernyit.
"Cowok yang di restoran, yang kamu sangka calon suamiku. Dia itu calon suaminya si Ravel, ah tau lah mereka beneran pacaran atau nggak aku jadi ragu..."
"Jadi, dia bukan pacar kamu?"
"Bukan..."
__ADS_1
"Alhamdulillaaaaaah ya Allaaaaaaaaaah!" Ridho auto teriak dan meluk aku secara tiba-tiba.
"Bodo amat mereka beneran pacaran atau nggak, beneran mau nikah atau nggak! aku nggak peduli!" ucap Ridho yang bikin aku sesek napas, perkara dipeluk kekencengan.
"Dhoo, Dhoo sadar?!! aku mau metong iniiiih!" aku tepokin punggung dia.
Ridho lepasin pelukannya, "Sorry, sorry, Va. Aku reflek karena terlalu seneng, makanya--"
"Astaga, aku hampir kehabisan napas, hh ..hhh..." aku motong ucapan Ridho.
Pipiku diunyel-unyel sama Ridho, "Jadi bener kan kamu nggak jadi nikah? bener kan, Va?"
"Iya nggak jadi, ya Allah. Ini kuping udah konslet apa gimana sih? calon aja belum punya, gimana mau nikah?" ucapku.
"Ini, Va. Ini calonnya udah ready, kapan mau nikah hayuk! sekarang juga bisa," Ridho nepuk dadanya.
"Kalau sekarang nikah disaksikan para kunti dan demit gitu ya?" sindirku.
"Ya nggak lah! emangnya pernikahan kita pernikahan ghoib?"
"Lagian seyakin itu nikah sama aku?" aku pandang kedua mata Ridho.
"Ya gimana lagi, ini hati isinya kamu semua. Mau coba diliat?" Ridho auto buka kancing.
"Heh, ngapain?"
"Dih sarap?!!" aku deg-deg ser.
"Ya kan biar kamu percaya,"
"Halah gombel," ucapku.
"Sebenernya agak aneh juga kalau kamu katanya mau nikah sama cowok yang namanya Dilan. Secara yang deket sama kamu kan bos sombong itu, tapi kok Ravel bilangnya kalau kamu mau nikah sama oranglain dan udah keukeuh mau nikah dalam waktu dekat. Aku kan langsung blingsatan, Va..."
"Bukan kamu aja, aku juga dikerjain. Mama nelpon dan bilang kalau Ravel mau nikah dan mau ngelangkahin aku. Bocah yang masih suka klayaban kayak gitu tiba-tiba siap jadi istri, kakak mana yang nggak kaget coba?" aku menghela napas.
"Tapi, darimana Ravel bisa ketemu sama kamu?"
"Kebetulan, kecengannya pak Bagas masih anak kuliahan, Va. Dan ternyata sekampus sama adek kamu itu. Aku ketemu Ravel juga di kampus, nggak sengaja. Aku ajak dia makan sambil ngobrol-ngobrol,"
"Kata kamu pak Bagas deket sama asistennya, siapa cewek syemok itu? siapa?"
"Rimar?"
"Iya Rimar! nah kata kamu dia deket sama asistennya, terus yang bener yang mana?"
__ADS_1
"Reva, Reva. Jadi perempuan jangan polos-polos amat bisa nggak? jaman sekarang mana ada sih laki-laki yang bisa setia sama satu cewek, kecuali aku?" ucap Ridho.
"Dih, pede!" aku nyeletuk.
"Nggak, sih. Canda! si mahasiswa itu mah kayak mainannya si bos doang. Nggak serius, lagian katanya masih bocah. Ya cuma buat sleep call-an aja..."
"Terus ngapain kamu ketemu sama si cewek itu?" mataku memicing.
"Ngasih hadiah,"
"Dari pak Bagassss...!" lanjutnya cepat.
"Kirain,"
"Ya mungkin si Ravel ngertinya juga aku punya hubungan sama cewek yang sebenernya kecengannya pak Bagas. Makanya dia pas ketemu, dia mengarang bebas tuh bilang sekarang kamu udah move on dari aku, mau nikah dan lain sebagainya," jelas Ridho.
"Mungkin Ravel pengennya aku yang jadi kakak iparnya," lanjut Ridho.
"Kalaunitu aku nggak begitu yakin, sih..." aku nyautin Ridho sambil aku tari dasinya. Otomatis badannya condong ke aku. Mata kami bertemu, dengan jarak kurang dari 3 senti, coba aja ukur pakai penggaris.
"Apapun yang dia katakan, nyatanya bisa membuat kamu keluar dari persembunyianmu selama ini. Dan kayaknya aku nggak perlu marah soal kebohongan Ravel yang satu itu..." ucapku dengan yang mengikis jarak wajah kami.
Ridho membalasnya, dia memperlakukan aku dengan sangat lembut.
Namun, tiba-tiba...
"Permisi, Non-naa..." ucap seorang wanita diiringi suara pintu yang dibuka.
Aku yang mendengar itu langsung mendorong Ridho, sampai dia kejungkal.
"Aaawkkkkh! pelan-pelan napa, Vaaa!" pekik Ridho yang kemudian bangkit, dia mebgusap pinggangnya.
"Sorry," lirihku.
Dan yang masuk tadi perawat dengan memegang cairan botol infus di tangannya.
"Ehm, permisi, Nona. Saya ... ehm, saya mau mengganti botol infus anda!" perawat itu sepertinya salah tingkah.
"Eh iya, Sus! ganti aja ... iya..." aku mengigit bibir bawahku, malu.
Perawat itu sepertinya dengan cepat melakukan tugasnya, "Kalau begitu, saya permisi, Nona ... tuan..."
Dan setelah pintu ditutup Ridho mendekat, dengan satu tangan di pinggangnya.
"Bukan aku yang salah. Kamu yang nyosor duluan. Mendingan sekarang dilanjut lagi yuk, Vaaa...?"
__ADS_1
"Ogaaaaaaaahhhh!" aku lempar satu bantal yang ditangkap Ridho dengan sigap.